Rindu di Ambang Ramadan

Rindu di Ambang Ramadan

Iklan di layar kaca itu membuatnya tercenung. Promosi produk minuman yang menjelma sebagai salah satu ikon Ramadan itu mampu menggetarkan hatinya, mengingatkan pada masa kecilnya dulu.

“Marhaban ya Ramadan,” lirihnya. Ada getar dalam dadanya yang perlahan naik melalui kerongkongan, menimbulkan perih yang terus menjalar hingga di kedua matanya. Seketika mendung menutupi binar beningnya. Perlahan menjadi hujan yang membawa gigil di hatinya.

Suasana Ramadan begitu melekat di hatinya. Bagaimana tidak, pada setiap detiknya selalu saja ada bayangan kedua orang tuanya yang telah tiada. Membangkitkan kenangan masa lalunya. Masa kecil seorang anak kampung yang penuh dengan siraman kasih sayang kedua orang tuanya.

Dulu, sehari sebelum Ramadan, bapaknya selalu mengajaknya mengambil ikan di kolam yang terletak di belakang rumahnya. Saat seperti itu merupakan saat yang paling ditunggu-tunggu. Kesibukan bapaknya membuka penutup pembuangan air kolam, air kolam yang makin menyusut, serta gerakan ikan-ikan besar yang menimbulkan keciprak di air berlumpur merupakan sesuatu yang sangat membahagiakannya.

Saat ikan-ikan mulai terlihat, bapaknya memberi komando agar dia segera turun. Tanpa dikomando dua kali, diapun segera turun. Disedoknya ikan-ikan yang berada di sekitarnya. Sedokan berbentuk bulat cekung itu terbuat dari anyaman bambu yang disebut ayakan. Ayakan itu dibuat khusus oleh bapaknya. Ikan-ikan yang terperangkap dalam ayakannya itu memberontak. Gerakan ikan membuatnya harus memegang bibir ayakan erat-erat. Semakin ikan itu memberontak, semakin kuat dia rasakan hentakan pada tangan-tangan mungilnya. Meskipun menjalarkan sakit di telapak tangan akibat eratnya pegangan pada bibir ayakan, hentakan ikan-ikan itu membuatnya sangat bahagia. Bapaknya hanya tersenyum melihat keriangan anak kesayangannya itu.

Momen semacam itu hanya terjadi dua kali dalam setahun, yaitu sehari sebelum puasa dan sehari sebelum lebaran. Ikan-ikan peliharaan bapaknya itulah yang menjadi menu sahur pertama dan lebaran. Sayangnya, momen seperti itu hanya berlangsung hingga dia kelas lima sekolah dasar. Bapaknya meninggal karena sakit.  Sepeninggal bapaknya, ibunya harus bekerja keras untuk menghidupi dan membiayai sekolahnya. Saat itu, bersekolah di sekolah dasar negeri pun harus membayar iuran bulanan.

Meskipun masih muda, sepeninggal suaminya, ibunya memilih untuk membesarkannya seorang diri. Dia bertahan untuk tidak menikah lagi meskipun beberapa lelaki datang melamarnya.

“Ibu takut mereka tidak menyayangimu, Aina,” jawab ibunya saat Aina bertanya.  

Sepeninggal bapaknya, tidak ada lagi ritual mengambil ikan di kolam belakang rumah untuk menu sahur pertama atau lebaran. Kolam itu semakin lama semakin tidak terawat, dipenuhi sampah dan lumpur. Saat kemarau tiba, kolam itu pun akhirnya dibiarkan mengering.

Selepas SMP, Aina melanjutkan ke sekolah perawat. Selain karena memang keinginannya, dia memilih melanjutkan ke sekolah itu agar setelah lulus bisa langsung bekerja. Untuk membiayainya, ibunya lebih giat bekerja. Sebetulnya, dia tidak sampai hati menyaksikan ibunya yang harus banting tulang bermandi keringat agar bisa menyekolahkannya.

Pernah suatu ketika, dia berpikir untuk berhenti sekolah. Dia berniat mencari pekerjaan untuk meringankan beban ibunya. Saat dia utarakan hal itu, ibunya marah besar.

“Kamu mau menjadi seperti ibu, hah? Perempuan kampung yang bodoh, yang hanya bisa mengandalkan tenaga untuk bekerja. Tanpa sekolah, kamu mau jadi kuli seperti ibu?” bentak ibunya.

Aina hanya bisa sesenggukan.

“Jika kamu mau berhenti sekolah, itu sama artinya dengan menyia-nyiakan kerja keras ibu selama ini. Dengar Aina … kamu harus berhasil menjadi seseorang! Cukup bapak dan ibu saja yang putus sekolah. Kamu harus belajar sampai tuntas! Biarkan ibu bekerja keras untuk membiayaimu,” suara ibunya semakin pelan. Matanya mulai terlihat berkaca-kaca. Beberapa kali menelan ludah. “Jangan kecewakan ibu dan bapak ya, Nak! Bapakmu sangat menghendaki kamu hidup sukses.” Ibunya menatap Aina dengan penuh harap. Air mata berderai membasahi pipinya.

Aina mengahambur ke pangkuan ibunya. Dia menangis sejadi-jadinya. ”Aina minta maaf jika telah menyakiti hati Ibu,” pinta Aina di sela tangisnya.

“Jangan kecewakan ibu ya, sayang!” Mengangkat lembut wajah Aina. Ditatapnya wajah anak semata wayangnya yang bersimbah air mata. Diusapnya dengan lembut kedua pipi anaknya yang mulai remaja itu. “Sudah, jangan menangis lagi, ya! Ibu ikhlas bekerja keras demi kamu, sayang,” menciumi pipi dan kening Aina.

Sejak itu, Aina bertekad untuk belajar lebih giat agar bisa mendapat beasiswa. Berkat kegigihannya itu, dia pun bisa mendapat beasiswa ikatan dinas dan menyelesaikan sekolahnya dengan nilai tertinggi. Sayangnya, belum sempat dia membahagiakan ibunya. Setahun setelah kelulusannya, Ibu Aina meninggal setelah terjatuh di kamar mandi.

***

Aina mengusap matanya yang basah. Diambilnya foto masa kecil bersama bapak dan ibunya. “Bapak, Aina rindu Bapak. Aina rindu mengambil ikan di kolam kita lagi. Aina rindu dibangunkan untuk sahur. Ibu, Aina juga rindu ibu. Aina rindu masakan ibu. Aina rindu takjil buatan ibu. Aina rindu dibuatkan baju lebaran olehmu, Bu.” Dipeluknya foto itu sambil tersedu. Bulir-bulir bening menerobos keluar dari matanya yang terpejam.

Sentuhan lembut dibahunya membuat Aina membuka matanya. Hendra, suaminya berada tepat dihadapannya, menatap Aina dengan mata teduhnya. Aina menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya.

Hendra membelai lembut rambut Aina. “Kita doakan Bapak dan Ibu yu, Say!” bisiknya di telinga Aina yang dijawab  dengan anggukan.***

rumahmediagrup/sinur

2 comments

Comments are closed.