Rindu Ramadhan

Tinggal hitungan hari bulan Ramadhan akan tiba. Suasana Ramadhan tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Seluruh negara di dunia menghadapi pandemi virus corona. Berbagai kebijakan masing-masing negara diberlakukan, ada lockdown di luar sana, dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di negara kita.

Tentunya banyak hal-hal yang hilang dalam menyambut Ramadhan kali ini. Dengan adanya PSBB ini, kegiatan lebih terpusat di rumah, stay at home is better. Mengingat setiap orang berpotensi menjadi silent carrier, maka lebih baik kita membatasi kegiatan di luar. Hanya untuk keperluan memenuhi kebutuhan pangan saja kami keluar rumah.

Terlintas di benakku beberapa tradisi yang dijalankan keluargaku saat kecil dulu. Biasanya ibu selalu membawa merang dari pasar beberapa hari sebelumnya. Merang itu dibakar terlebih dahulu, kemudian direndam. Sehari menjelang puasa, kami keramas menggunakan shampo merang buatan ibu. Itu salah satu ritual keluargaku dulu, dan ternyata hingga saat ini masih ada beberapa daerah yang menjalankannya.

Menjelang puasa kami pun melaksanakan nyadran, yaitu membersihkan makam keluarga. Mungkin di beberapa daerah, ini dijadikan kesempatan untuk bersilaturahmi dengan tetangga dan drang sekitar.

Ada lagi yang kami lakukan, yaitu munggah. Kami keluarga besar berkumpul, makan bersama, dan saling maaf memaafkan agar puasa kami berjalan lancar. Biasanya kami berkumpul di rumah keluarga yang dituakan.

Tak lupa pula ibu memasak serundeng daging sebagai lauk sahur pertama kami. Serundeng ini berbahan dasar kelapa parut yang diberi bumbu dan kemudian dikeringkan. Makanan ini awet untuk beberapa hari.

Rindu rasanya ke masa-masa dahulu. Taraweh bersama teman-teman di mesjid terdekat. Mencatat ceramah dari imam, meminta tanda tangannya, sebagai bukti ke guru bahwa kami melaksanakan sholat taraweh.

Kini, situasi yang berbeda membuat kami harus lebih kuat dalam menjalankan ibadah puasa nanti. Stamina yang kuat, sehingga virus corona enggan menempel pada tubuh kami. Kuat pula dalam mengontrol emosi tentunya, karena keterbatasan gerak terkadang membuat seseorang berada di tingkat stress tertentu.

Tentunya dengan kondisi seperti sekarang ini, banyak pula hal positif yang dapat kita raih di Ramadhan nanti. Shalat Taraweh yang ditiadakan di mesjid jangan mengurangi semangat kita dalam menjalankan ibadah selama bulan Ramadhan. Shalat taraweh dapat kita laksanakan bersama keluarga kita, begitu pun dengan tadarus.

Allah mempunyai skenario yang terbaik untuk umatnya di balik pandemi corona. Mari berprasangka baiklah pada Allah atas musibah ini. Kita sambut Ramadhan dengan hati yang bersih.

One comment

Comments are closed.