Rizki yang Tak Pernah Tertukar

Rizki yang Tak Pernah Tertukar

Bulan Ramadan tinggal menghitung hari. Nek Ratmi biasanya selalu mempersiapkan segala sesuatunya sebelum munggah. Entah itu berziarah ke makan suaminya, beres-beres rumah, atau membeli bahan makanan untuk puasa di hari pertama.

Meski hanya setengah kilogram sayap ayam dengan sayur bayam, dan tak lupa, sebotol sirop rasa jeruk untuk pelepas dahaga saat berbuka, Nek Ratmi pasti mempersiapkannya. Rena sangat menyukai sayap ayam goreng. Ia pasti akan lahap bila sudah makan itu.

Namun, Ramadan tahun ini, ia belum mempersiapkan apa pun. Terlebih lagi pada saat wabah Covid-19 tengah melanda negeri. Semuanya terasa semakin sulit bagi Nek Ratmi.

Pesanan jahit pakaian yang biasanya sudah ramai jauh sebelum ramadan tiba, kini sepi. Hanya satu dua orang yang meminta jasanya, untuk sekadar merapikan pakaian yang sudah jadi.

Nek Ratmi terlihat gusar. Sampai kapan ia mengharap belas kasihan orang, hanya untuk bisa memenuhi makan saja. Kasihan Rena, ia masih terlalu kecil untuk bisa memahami kondisi keluarganya yang dalam keterbatasan.

“Rena lapar, Nek.”

Lamunan Nek Ratmi buyar, kala tangan kecil Rena menyentuh punggungnya. Kalimat itu sudah beberapa kali diucapkan Rena. Gadis kecil yang masih berusia tujuh tahun itu mencoba memegang perutnya yang sejak pagi menjerit minta diisi.

Tanggapan sang nenek pun masih tetap sama.

“Sabar ya, Nak. Nenek masih berusaha mencari uang untuk beli beras.”

Rena lagi-lagi harus menelan ludahnya yang kian mengering. Segera ia mengambil air di teko dan menuangkannya ke dalam gelas. Meminumnya hingga tandas.

Nek Ratmi hanya memandang pilu cucu kesayangannya. Dadanya terasa nyeri. Segera ia melanjutkan kegiatan menjahitnya. Menyelesaikan pesanan pelanggan, agar segera ia bisa antar dan mendapatkan upah untuk membeli beras.

Di usianya yang sudah senja, Nek Ratmi harus bekerja keras, menerima jasa menjahit pakaian untuk memenuhi kebutuhan hidup dirinya dan Rena.

Orang tua Rena, tak ada yang peduli dengan kehidupan putrinya. Sang ibu, pergi entah kemana, saat Rena masih berumur tiga tahun. Sementara sang ayah, setahun setelah itu, memilih untuk menikah lagi dan tinggal di rumah istrinya di lain kota.

Rena dititipkan begitu saja bersama Nek Ratmi, ibu dari ayah Rena. Semenjak itu, baik ibu mau pun ayah Rena tak pernah ada yang melihat keadaan Rena dan dirinya. Nek Ratmi mengambil alih tanggung jawab untuk menghidupi cucunya itu.

Dari belas kasihan orang-orang, mereka bisa hidup dalam serba keterbatasan. Uang hasil jasa mejahit yang Nek Ratmi terima, hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Terebih lagi, saat Rena mulai beranjak masuk sekolah, pengeluaran pun sudah otomatis bertambah. Meskipun biaya sekolah digratiskan, tapi tetap saja, uang buku dan kegiatan lain-lainnya, Nek Ratmi harus mengeluarkan uang.

Nek Ratmi tak pernah mengeluh. Ia ikhlas bekerja keras untuk bisa memenuhi kebutuhan Rena dan dirinya. Ia berharap, Rena bisa tumbuh menjadi anak yang salehah dan berguna suatu hari nanti.

Nek Ratmi tampak mengurut dadanya, kemudian melanjutkan menjahit. Kasihan Rena, sudah sangat kelaparan dari sejak pagi tadi. Sementara, jarum jam sudah menunjukkan angka empat lewat sepuluh menit.

Sebentar lagi magrib. Ia berharap, pekerjaannya akan selesai sebelum azan magrib tiba.

Detik berlalu, akhirnya Nek Ratmi bisa menyelesaikan jahitannya sebelum azan berkumandang. Dengan segera, ia memasukkan pakaian yang sudah selesai dijahit ke dalam kantong plastik.

“Nenek akan mengantarkan pesanan bajunya Bu Nurma ya, Ren. Kamu tunggu saja, akan Nenek bawakan makanan untukmu nanti,” ujar Nek Ratmi pada cucunya yang tengah murojaah hapalan Qur’annya.

Rena mengangguk. Ia berharap, Nek Ratmi akan pulang membawa makanan yang dijanjikannya.

Lima belas menit berlalu. Rena tampak sumringah saat mendengar pintu depan terbuka. Dilihatnya sang nenek berjalan memasuki rumah.

“Nenek bawa apa?” tanya Rena tak sabar.

Nek Ratmi memandang wajah cucunya dengan sedih. Kepalanya menggeleng lemah.

“Itu apa?” tanya Rena sambil menunjuk kantong plastik yang dibawa neneknya.

“Ini baju Bu Nurma yang tadi Nenek bawa.”

Rena menatap heran sang nenek.

Nek Ratmi kemudian duduk di kursi bambu dan meletakkan kantong plastik yang dijinjingnya di atas meja.

“Tadi Nenek ke rumah Bu Nurma, tapi ternyata, mereka sedang pulang ke rumah orang tuanya di kota. Tetangganya bilang, mungkin mereka pulang awal puasa nanti.”

Rena terkejut mendengar penjelasan Nek Ratmi. Ia tampak kecewa. Ditundukkan kepalanya. Ada tetesan bening mengalir ke pipinya.

“Maafkan Nenek, Ren. Nenek tidak bisa membelikanmu makanan hari ini,” ucap Nenek pilu.

Rena bergeming. Dihapusnya air mata yang semakin deras megalir. Matanya mengerjap.

“Nenek akan minta makanan ke tetangga kita ya, siapa tahu masih punya sisa makanan untuk kamu makan malam ini,” lanjut Nek Ratmi sambil beranjak dari duduknya.

Tanpa mendengar jawaban dari Rena, Nek Ratmi melangkah keluar rumah. Dengan ragu, ia coba mengetuk pintu rumah Bu Ningsih, tetangga sebelah rumahnya. Tak berapa lama, pintu pun terbuka, dan tampak sosok Bu Ningsih keluar dari dalam rumah.

“Nek Ratmi, ada apa?” tanya Bu Ningsih heran.

Nek Ratmi terlihat ragu. Ia malu harus menyusahkan lagi Bu Ningsih. Sudah seringkali ia meminta belas kasihnya, setiap ia tak bisa mendapatkan makanan.

“Ada yang bisa saya bantu, Nek?” tanya Bu Ningsih lagi mulai memahami gelagat Nek Ratmi.

Nek Ratmi mengangguk.

“Kalau masih ada sisa makanan yang sudah tak dimakan, Nenek mau, Bu.”

Kejujuran Nek Ratmi membuat Bu Ningsih teharu.

“Tentu ada, Nek. Kebetulan suami saya tidak pulang malam ini. Ia lembur, menggantikan temannya jaga di pabrik.”

Bu Ningsih yang seorang pedagang perabotan keliling, memang hidup dalam kesederhanaan. Suaminya seorang satpam sebuah pabrik baja . Mereka memiliki dua anak yang masih kecil-kecil. Tapi, mereka tak pelit untuk berbagi, jika mereka mampu. Terlebih lagi pada Nek Ratmi dan Rena, cucunya.

Bu Ningsih segera berlalu ke dapur, dan mengambilkan sisa makanan tadi sore yang masih ada di lemari makan. Sepotong telor ceplok, dua buah tempe dan tumis kangkung ia bungkus, lengkap bersama sisa nasinya.

Nek Ratmi tampak sumringah menerima bungkusan dari tangan Bu Ningsih. Setelah mengucapkan terima kasih, segera ia berlalu menuju rumahnya. Rena menyambut Nek Ratmi dengan wajah riang.

Rasa lapar yang sejak pagi ia tahan, akhirnya tertuntaskan dengan nasi dan lauk yang diberikan Bu Ningsih. Nek Ratmi hanya memakan sedikit nasi dan tempe. Sengaja ia berikan lebih banyak untuk Rena makan.

Rena tak serakah. Disuapinya Nek Ratmi yang pastinya juga menahan laparnya sejak pagi tadi. Apalagi, ia sudah bekerja keras menyelesaikan pesanan jahitannya, walau pun tak menghasilkan uang.

Mereka makan dalam bahagia di sisa senja yang kian temaram. Menjelang azan Magrib, mereka pun melaksanakan salat berjamaah.

**

“Assalammualaikum, Nek.”

Ucapan salam di depan pintu rumah membuat Nek Ratmi bergegas menghampiri. Ketika pintu terbuka, tampaklah sosok perempuan cantik, dengan pakaian gamis dan kerudung panjangnya. Perempuan itu tersenyum.

“Neng siapa? Ada perlu apa ya?” tanya Nek Ratmi menyambut dengan senyuman.

“Perkenalkan, Nek, saya Aisyah,” ujar perempuan itu seraya menelungkupkan kedua tangannya di depan dada.

“Silakan duduk dulu.”

Nek Ratmi mempersilakan perempuan cantik itu masuk. Mereka lalu duduk di kursi bambu.

“Maaf mengganggu waktunya, Nek. Maksud kedatangan saya ke sini, ingin dibuatkan masker dari kain. Sama persis seperti contoh ini.”

Perempuan bernama Aisyah itu lalu memperlihatkan gambar masker yang ada di gawainya. Masker berbahan kain katun dengan model hijab.

“Nenek bisa buatkan seperti ini?” tanya Aisyah memastikan.

Nek Ratmi mengulas senyum.

“Tentu bisa, Neng. Mau dibuatkan berapa banyak?”

“Sementara ini, saya pesan dulu 500 buah, dengan lima warna berbeda. Kira-kira berapa lama bisa selesai pengerjaannya, Nek?”

“Insyaa Allah, tiga hari ini bisa selesai, Neng.”

“Alhamdulillah kalau begitu. Nanti, bila permintaan maskernya terus bertambah, saya akan memesan lagi pada Nenek.”

“Alhamdulillah. Kalau boleh tahu, kenapa Neng memesan masker pada Nenek?”

“Saya hanya ingin berbagi saja. Mungkin, saya tak bisa membantu lebih, selain meminta tolong dibuatkan masker pada Nenek.”

“Terima kasih, Neng.”

Asiyah mohon pamit setelah memberikan uang muka sebesar satu juta lima ratus ribu rupiah. Jumlah uang yang lebih dari cukup untuk membeli kain dan benang.

Sungguh mulia sentuhan kasih-Nya. Di saat kepasrahan akan apa yang terjadi esok, Nek Ratmi mendapatkan Rizki yang tak pernah ia sangka. Kala pesanan menjahit pakaian tengah sepi, justru datang pesanan lain menggantikan.

Air merembes dari kedua netra Nek Ratmi. Sungguh Allah Maha Baik lagi Maha Penyayang. Dia tak pernah mengabaikan permintaan hamba-Nya yang senantiasa memohon.

Menyambut bulan suci ramadan, tak ada yang tak mungkin bagi-Nya. Rizki itu tak pernah tertukar. Ia akan datang di waktu yang tepat.

“Nenek menangis?”

Nek Ratmi segera menghapus air yang membasahi pipi keriputnya, ketika Rena tiba-tiba datang dan duduk di sampingnya.

“Bersiap-siaplah, Nak. Kita akan pergi ke pasar,” ujar Nek Ratmi sambil mengelus kepala cucunya.

Rena tampak sumringah. Ia tersenyum lebar. Dipeluknya Nek Ratmi dengan sayang. Ia tahu, hari ini mereka akan makan enak.

*Terinspirasi dari kisah nyata.

rumahmediagrup/bungamonintja