Road to Jannah

Oleh : Allys Setia Mulyati

Sebuah keputusan terbesar yang aku ambil, tak kan bisa seorangpun menghalangi. Keyakinan yang terhujam dalam hati, untuk selalu melantunkan kerinduan akan kekasih.

Bukan suatu penghalang, bagi seorang wanita, untuk selalu menebar cinta demi kebaikan. Setitik saja kamu melakukan kecurangan, jangan sampai kau kan menyesal ,menusukan duri didalam kerinduan.

Sosok seorang teladan, yang seolah nyata benar-benar mampir di alam bawah kesadaran ku. Kesetiaan seorang hamba kepada sang Pencipta. Memberikan berjuta karunia yang tak terkira.

Dibawah pohon rindang, di sarirasa kopi, aku duduk melepas lelah, setelah hampir seharian melangkah mengacu adrenalin, menapaki turunan curam dan tanjakan terjal.

Sebuah petualangan yang memberi kesadaran, akan indahnya kuasa Tuhan, yang Maha pemberi Kasih Sayang.

Selama perjalanan, tak hentinya semua memanjatkan Kalam keagungan Tuhan. Seberkas kebersamaan yang dibolehkan, untuk menanam banyak kebaikan.

Aku tak pernah berhenti melantunkan sebuah ayat dalam Kalam-Nya, “Wahai Tuhan kami, berikanlah Rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)”. (surah Al-Kahfi ayat 10).

Aku bukanlah orang yang baik, tetapi setidaknya ingin selalu bisa menjadi orang baik yang memberikan banyak kebaikan, sama seperti mereka. Selalu memberikan aku contoh suri tauladan yang baik.

Urusan yang kita buat, sebenarnya sudah sepengetahuan-NYA. Maka kenapa harus selalu saja, ada kata-kata yang kurang diberi makna. Menyulitkan keseharian, bahkan hanya memberikan sejumput rasa sakit pada yang lain.

Bersyukur aku bisa selalu dekat dengan orang-orang yang penuh dengan cinta kepada-NYA. Membawa jiwa untuk tetap merasakan ketenangan.

Bersama berkegiatan dengan mereka, cukup membuatku punya sedikit banyak makna di mata Penguasa langit dan bumi. Karena kami bertemu disaat yang tepat. Dimana Tuhan mempertemukan hati-hati yang selalu rindu, dalam dakwah menuju Jannah-NYA.

Orang-orang yang hanya memikirkan pribadi dan ketamakan diri, tak pernah sedikitpun aku merasa iri, tak ada yang ingin peduli. Meski hati tetap dibuat berseri.

Dekat dengan mereka memberi nuansa alami yang membentuk jiwa bergaya bidadari. Meski Tuhanpun berkata, lebih baik lagi manusia, jika harus disejajarkan dengan cantik bidadari.

“Cinta, sampai detik inipun, hati ini semakin menambahkan kerinduan yang menggelora di dalam dada”.

Aku menunduk, entah dengan perasaanku, yang hanya bisa memberikan panjatan kemurnian do’a. Terlantun tak terhenti setiap jeda, tertuju hanya pada satu, kamu.

Ketika mataku membelakangi mu, aku terbelalak memandang dalam, ke sekeliling. Bebatuan suci dan air murni yang tercurah dari pangkuan di atas batu, merasakan adanya kesegaran dinginnya hati dan suasana.

Aku merasakan tarian yang menggantung, diantara air terjun, yang begitu deras menjatuhi pelapis tubuhku.

Tak ada yang mudah membayangkan, kenapa saat itu, tiba-tiba Tuhan memberiku sebuah perjalanan tadabbur alam, yang memberikan keseruan surga. Yakin dengan penuh pasti, hanya untuk memberikan pujian kebesaran-Nya.

Kebersamaan ini, tidak akan aku pernah lupakan, selama hembusan nafas menggeliat. Menyerukan cinta dalam kemurnian asa dan rindu, menuju jalan yang sama. Mengharap Jannah-NYA.

Cinta yang membawaku sampai kemari. Bertemu orang-orang yang suci, di dalam baiknya hati. Jangan pernah beranggapan membenci, jika hanya sedikit menyakiti, tetapi hanya

selalu untuk mengingati.