ROAMING GENERATION,

Part 1

ROAMING GENERATION, part 1.
By. Gina Imawan

Remaja zaman now.
Gen Z.
Hobinya kongkow.
Hidupnya penuh gajet.

Apa pendapat teman-teman semua dengan pantun ngasal di atas?

Terima, nggak? Terserah.

Yang jelas gini, udah 4 tahun ini aku bergaul sama generasi Z kayak gini. Dibalik haha mereka yang membahana, dibelakang keceriaan mereka yang cetar, banyak sedih yang mereka simpan.

Usia mereka yang masih belasan bikin emosi mereka naik turun kayak roller coaster. Kemampuan verbal mereka yang kurang bikin mereka seringkali bingung harus gimana mengungkapkan segala rasa di dada.

Rasa senang, jengkel, terharu, marah, bingung, suka. Kadang tak mampu mereka sampaikan dengan jelas. Ketutup emosi atau mereka berharap orang dewasa di sekitar mereka peka.

Nyatanya banyak remaja SMP yang aku ajak ngobrol bilang,

“Susah jadi aku, ms”,
“Aku mau cerita tapi sama siapa, ms?”,
“Aku mau mati aja, ms”,
“Ada. Mama papaku ada, ms. Tapi sibuk. Aku sendirian”,

Aku sendirian. Aku kesepian. Aku gak tau musti curhat sama siapa. Mostly itu yang mereka sampaikan kalo kami ngobrol.

Nggak gampang ternyata jadi remaja. Pengen dianggap dewasa, tapi juga bukan anak-anak. Butuh banyak bimbingan dan arahan yang seringkali nggak mereka dapatkan.

Akhirnya, jadilah mereka roaming generation.

Generasi yang mencari kasih sayang di luar keluarga karena mereka gak dapet itu di rumah. Generasi yang rasa ingin tahunya yang besar nggak diimbangi dengan arahan sepatutnya. Generasi yang memutuskan lebih senang di luar rumah karena kesepian di dalam rumah.

Beberapa kasus siswa yang aku tangani bikin aku merinding. Sekaligus berusaha memahami sudut pandang mereka dan orang tua mereka yang aku kunjungi.

Sebentar, aku ngajar dulu yaaa… Klien pentingku menunggu. Ini baru prolog.

To be continued.