Robert Malthus : Upah Tinggi

Sumber gambar : http;//www.liputan6.com/

Robert Malthus : Upah Tinggi

Pandangan lain tentang upah telah dituliskan oleh Robert Malthus. Melalui pemikirannya tentang Essay on Population, meramalkan bahwa upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui proses pertumbuhan populasi penduduk, jika yang terjadi pertumbuhan populasi akan melebihi produksi pangan. Populasi selalu menjadi kunci dalam peningkatan kehidupan. Persoalan kesuburan manusia dan kesuburan tanah menjadi bertolak belakang dengan pemikiran Smith terkait upah subsisten. Smith beranggapan bahwa teori populasi dalam pembahasannya tentang upah subsisten, dengan alasan bahwa upah yang lebih tinggi dapat meningkatkan populasi, tetapi juga mengamati bahwa mereka menjadi pekerja yang lebih makmur (Smith, 1976).

Malthus setuju bahwa pertumbuhan ekonomi bisa menaikan upah, tetapi mendefinisikan beberapa variabel yang mempengaruhi. Pertama, tambahan uang yang diperoleh pengusaha melalui pertumbuhan ekonomi kemungkinan tidak digunakan untuk memperkerjakan pekerja, sebagai gantinya dihabiskan untuk hal-hal yang lain, seperti kemewahan. Kedua, jika dana tambahan dihabiskan untuk memperkerjakan pekerja, nominal upah akan meningkat tetapi kecuali para pekerja itu menghasilkan barang-barang tambahan subsisten, harga kebutuhan-kebutuhan akan naik (terutama makanan). Dan upah riil pekerja mungkin tidak meningkat. Ketiga, jika upah riil memang naik, pekerja akan memiliki keluarga yang lebih besar dan pertumbuhan populasi yang mengikuti akan mengikis kenaikan upah tersebut. Jadi mau upah naik tetapi tidak berpengaruhi pada pekerja yang memiliki keluarga yang banyak/besar (Malthus, 1959). Pertumbuhan populasi akan mengancam keberlanjutan tenaga kerja. Hal ini seabgai dasarnya suramnya upah dan tenaga kerja di antara isu jumlah penduduk.

Lalu, pekerja yang terpilih atau yang beruntung jika memiliki keluarga yang lebih besar atau keberadaan yang lebih baik akan tergantung pada kebiasaan mereka dan lingkungan sosial. Malthus menemukan bahwa di beberapa negara yang memiliki upah tinggi tidak menyebabkan pertumbuhan populasinya. Jadi kuncinya pada jalan yang benar yang dipilih pekerja. Yaitu pekerja yang menjaga upah pada tingkat yang wajar, karena mereka tidak dapat mengubah dana mereka untuk pemeliharaan kemampuannya untuk kerja. Malthus juga mengingatkan bahwa upaya untuk membantu pekerja miskin, yaitu melalui pemberian upah yang layak. Bagaimana pekerja miskin menggunakan pendapatannya untuk hidup bersama kelurga besarnya? Namun, muncul pertanyaan siapa yang membayar upah layak? Karena Malthus ragu pada orang kaya (perusahaan) menjadi orang yang membayar. Hal ini dikarenakan orang kaya memiliki posisi tawar terhadap upah dibandingkan dengan pekerja.

Referensi :

Malthus, Thomas Robert (1950), Principles of Political Economy, 2nd edn, New York: Augustus M. Kelley.

Malthus, Thomas Robert (1959), Population: The First Essay, Ann Arbor, MI: University of Michigan Press.

Smith, Adam (1976a), The Theory of Moral Sentiments, D.D. Raphael and A.L. Macfie (eds), Oxford: Clarendon Press.

Smith, Adam (1976b), An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, 2 vols, Chicago, IL: University of Chicago Press.

rumahmediagrup/Anita Kristina