Rofik Sang Penakluk

IMG_20191102_065719

Rofik Sang Penakluk

Ada rasa tak percaya, ketika saatnya tiba. Impiannyapun untuk terbang ke Singapura sebentar lagi akan terwujudkan. Dia anak bungsu dari tiga bersaudara, kedua saudaranya sudah berkeluarga. Dia anak laki-laki semata wayang. Dilahirkan dari keluarga yang sederhana. Saat ia masih duduk di sekolah dasar, ayahnya telah dipanggil sang Khalik. Statusnya kini menjadi yatim, ia tinggal dengan seorang ibu yang sangat menyayanginya. Ia duduk di Sekolah Menengah Kejuruan setaraf dengan Sekolah Menengah Atas (SMA) tingkat akhir, ia bernama Rofik Nurdin. Teman dan gurunya memanggil dia “Rofik”. Ia termasuk anak yang tak pandai bergaul, pemalu dan pendiam. Namun ia anak baik, yang tak banyak protes walaupun teman-temannya sering melontarkan kritikan atau apapun yang dirasa tidak sesuai dengan keinginan hati mereka.

Sudah tahun ke empat, di sekolahnya SMKIT Fitrah Hanniah mengadakan program Entrepreneurship Education Journey to Singapura dan Malaysia. Tidak ada keinginan Rofik untuk mengikuti program tersebut, mimpi saja rasanya sulit apalagi berharap ia pergi ke sana. Ongkosnya lumayan besar, siapa yang akan memberikan dia ongkos. Uang saku saja terkadang tidak ada, sekadar untuk minum es ataupun camilan saja dia harus berpikir. Sayang daripada dijajankan lebih baik untuk ongkos atau tambahan membeli bensin.

Suatu saat ketika dia duduk di kelas xi, pembagian kelompok Entrepreneurship Education Journey to Singapura dan Malaysia telah dibagikan. Dia masuk dalam kelompok ibu Sari.

“Saya tidak ikut ke Singapura Bu.” Ucap Rofik kepada bu Sari.

“Saya tidak mempunyai biaya Bu, rasanya tidak mungkin saya berangkat ke sana. Saya anak yatim bu” Lanjut Rofik kepada bu Sari.

“Memangnya kamu ke Singapura harus dibiayai oleh orang tua? Tanya bu Sari.

“Iya Bu, terus bagaimana saya mau ke sana bu. Kalau tidak dengan biaya?” Rofik menundukkan kepala sambil terlihat garis kesedihan di matanya.

“Kamu bisa ke sana kok, walau tanpa orang tuamu.” Hibur ibu Sari

“ Caranya bagaimana bu?” tanya Rofik

“Kamu berusahalah, dengan berjualan. Entah itu makanan ataupun minuman bahkan kamu bisa menjual jasa, tenaga ataupun keahlian yang kamu kuasai.” Papar bu Sari.

“Hhmm, iya ya Bu. Baik Bu saya akan berjualan setiap hari.” Jawab Rofik dengan semangat.

Hari pertama berjualan, Rofik terlihat malu dan canggung. Dagangannya masih banyak, Rofik nampak lunglai dan sedih. Tak sengaja Bu Sari berpapasan di tangga dan bu Sari memberikan support dan motivasi agar Rofik tak merasa sendiri. Lalu bu Sari menyarankan agar Rofik untuk tetap tersenyum dan memberikan senyuman ramah kepada siapapun. Tak lama kemudian Rofik menemui bu Sari untuk memberikan uang hasil jualannya. Ia menjelaskan bahwa Alhamdulliah ternyata jualannya laris untuk hari ini. Hari berikutnya Rofik masih malu, tetapi bu Sari tidak segan memberikan support dan semangat, agar dia tidak menyerah. Dari pertama ia berjualan hasilnya langsung dikumpulkan lalu dicatat keuntungannya. Sedikit demi sedikit akhirnya tabungan Rofik semakin banyak.

Tahun pelajaran barupun tiba, Alhamdulillah Rofik naik kelas xii. Terbang ke Singapura semakin di depan mata, dia semakin semangat untuk menabung uang hasil jualannya. Sempat dia berputus asa, karena waktu semakin dekat namun tabungan belum memenuhi target. Bu Sari tak pernah putus asa memberikan semangat kepada Rofik agar sabar untuk meraih cita-cita. Bu Sari mengatakan bahwa Allah bersama orang yang sabar.

“Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus dari rahmat Allah melainkan orang orang yang kufur”. (QS. Yusuf: 87)

Bu Sari menjelaskan bahwa setiap diri mempunyai harapan dan harapan itu selalu ada bagi orang yang percaya, hadapi setiap tantangan dalam hidup dengan niat mencari ridho-Nya, lakukan usaha semaksimal mungkin sesuai kemampuan disertai dengan doa. Alhamdulillah tabungan Rofik telah mencapai target, dia akan segera terbang ke Singapura. Tidak ada yang tak mungkin bagi Allah.

 

 

rumahmediagrup/suratmisupriyadi