Roman Picisan

Roman Picisan

“Kenapa, Vi, kau sudah tak mau tahu lagi tentang aku?”
Senyap.
Tak kudengar jawaban di seberang sana.

V-i-n-a.

Nama itu kueja pelan di bibirku. Selalu menyisakan separut ceruk di sudut hati. Ya, aku yang menyakitinya. Aku yang tak setia padanya. Aku mempermainkannya. Namun, aku sendiri yang terluka.

Dan saat aku menyadari dialah mentari di langit senjaku, gadis itu telah pergi.

***

“Sudah dapet undangan dari Vina, Dre?”
Aku mendongak. Udara dingin ber-AC di kafe langganan kami seolah turun berlipat sekian derajat. Membekukan sebagian jiwaku. Jangan-jangan …

“Undangan apa?”
Cappucino di depanku tak menarik lagi. Aku berdoa dalam hati, ‘Tuhan, tidaak ….’

“Vina kan mau nikah. Sama kakaknya Andini. Wih gilak, gak nyangka Andini berbakat juga jadi makcomblang.”

Suara Rae sayup saja di telingaku, karena hatiku mulai bergemuruh, Vina, Vina, Vina.

***

“Aku terlambat, Vin?”

Ada sedikit sedu terdengar, semoga bukan kupingku yang salah. Masih tersisa sekerlip asa di hatiku.

“Maafkan aku, Dre.”

Sepulang dari kafe, aku langsung menghubungi Vina yang puluhan kilometer jauhnya dari kota tempatku bekerja. Dan jawaban wanita itu meluluhlantakkan hariku.

***

Vina.
Aku tertarik pada sosoknya yang lembut. Yang selalu menarik diri ke latar belakang. Tak mau terlihat.

Tapi, gadis manis itu tak menyadari, dia tak bisa menyembunyikan pesonanya. Semakin dia bersembunyi, semakin banyak kumbang yang penasaran pada sosoknya.

“Vina Mayasari. Yang mana orangnya? Tolong maju ke depan. Nilaimu A+.”

Sontak seluruh mata memandang gadis berkacamata yang tiba-tiba wajahnya memerah. Materi ujian Fisika yang bikin kepala kami semua beruap, namun gadis itu dengan mudah mendapat nilai A+.

Sejak itu, namanya makin tenar. Mendadak semua orang menyadari ada sosok gadis berotak brilian yang senyumnya begitu manis, bisa bikin jantung berdebar tak karuan. Kakak kelas entah angkatan berapa, mulai sering titip salam untuknya. Tentu saja itu ancaman besar buatku.

Aku semakin intens mendekati Vina. Mulanya dia menganggapku seperti lalat pengganggu. Tapi aku yakin, bisa mendapatkan hatinya. Aku, Andre, tak mungkin kalah untuk mendapatkan Vina.

Dan kami makin dekat. Senyumnya manis dan itu hanya untukku. Tatapnya memuja, dan itu khusus untukku. Aku sangat percaya diri, Vina pasti jadi milikku.

***

“Dre, aku dengar tentang cewek itu. Teman KKN-mu.”
Sore yang bergayut mendung. Ah, sampai juga kabar itu ke telinga Vina.

“Oh, si Corina? Percaya sama aku, Vin. Dia bukan siapa-siapa. Cuma aku anggap adik aja.”

Itu bukan petualangan pertamaku, sejak aku bersamanya. Masih ada Nela, Gea, Hesa, dan Keyla.

Tapi, di hatiku tetap Vina yang jadi ratu. Dialah bidadari masa depanku. Cewek-cewek itu? Ah, aku cuma main-main kok. Nothing serious!

Lulus dan wisuda. Aku merantau ke ibu kota. Vina tetap di kota kami. Ayahnya ingin dia membantu usaha keluarga.

Aku pergi tanpa janji pasti. Aku hanya bertekad, sekian tahun ke depan, aku akan pulang dan melamar Vina.

Seperti biasa, aku senang dikelilingi banyak wanita. Teman kerja. Teman hang out. Aku pikir, mumpung aku belum terikat siapa-siapa, masih bisa menikmati kebebasanku.

Tapi aku tetap ingat Vina. Awal aku merantau, seminggu sekali aku menelponnya. Berikutnya dua minggu sekali. Lalu sebulan sekali. Dan kemudian seingatku saja.

Vina tak pernah protes. Seperti biasa, dia tak pernah menuntut apa pun dariku.
Tapi, aku sedikit curiga, ada yang sengaja mengabarkan keadaanku secara rutin padanya. Vina tak lagi sehangat dulu padaku.

“Kau sudah tak ingin tahu lagi tentang aku, Vin?”
“Kau sudah tak peduli?” cecarku.
“Aku lelah, Dre.”

Itu percakapan terakhirku dengannya, sebelum Rae mengatakan tentang undangan.

“Siapa calonmu, Vin? Aku kenal dia?”
“Enggak. Dia kuliah di Makassar.
Kakaknya Andini. Kamu nggak kenal.”
“Kamu mencintainya?”
“Aku akan belajar.”

Aku tertawa.

“Tidak Vin. Kamu tak akan bisa. Kamu hanya mencintaiku.”

“Aku berubah, Dre. Aku sadar sekarang. Mencintai kadang menyakitkan. Aku pilih dicintai. Itu sudah cukup bagiku.”

“Selamat tinggal, Andre. Semoga kamu bahagia selalu.” Vina mengakhiri percakapan kami.

Keheningan yang tercipta menyiksa diriku. Seperti ada berjuta belati menancap di ulu hati. Perihnya awet, bagai diformalin.

Aku benar-benar kehilangan Vina.
Bahkan hingga sekarang, 10 tahun kemudian, aku tak juga berhasil melupakan gadis itu.

Tamat

rumahmediagrup/meikurnia

2 comments

Comments are closed.