Romansa Cinta Monyet, Cinta Masa Unyu-Unyu (Bonus Cerita dalam Event ke-15 Nubar Area Sumatera)

Romansa Cinta Monyet, Cinta Masa Unyu-Unyu (Bonus Cerita dalam Event ke-15 Nubar Area Sumatera)

Judul: Romansa Cinta Monyet
Jenis: antologi cerpen

Penulis:
Ade Tauhid, Asri Susila Ningrum, Tarish Febia, Nira, Ade Sari Dewi, Re Reynilda, Dewi Adikara, Siti Rachmawati M., Isna Aina Hidayanti, Khadijah Hanif, Lita Melati Sari, Miss Lee, Athena Hulya, Leni Chan, Khulil Khasanah, Deesa Rahma, Sukma, Mbok Jun, Hidayati, Putri Zaza, Dalia Halmahera, Tatik, Sabiqis Edogawa, Dyah Y, Jifisa Amin, Emmy Herlina

Penerbit: Rumah Media

Blurb:

Tau dunk cinta monyet, cinta pas jaman esempe, jaman esema. Bahkan ada yang udah punya cinta monyet jaman esde.  Hahai. Namanya cinta monyet, putus cari lagi. Putus ganti baru. Cinta monyet itu cinta yang no problem. No baper, bahkan kadang tanpa perasaan. Iya nggak siiih.


***

Nah, ini dia. 😀
Cinta monyet-monyetan ini merupakan salah satu event Nubar Sumatera. Lebih tepatnya event ke-15.
Event yang kembali di-PJ-kan oleh Mbak Ade Tauhid, PJ yang sudah berkali-kali mengadakan event Nubar, yang konon katanya beliau merupakan penanggungjawab antologi yang khusus mengangkat tema “perhewanan”. 😀😀


Apa sih, yang membedakan event ini dengan yang lainnya? Sampai-sampai belum juga bahas buku Nubar Sumatera yang sudah terbit, tiba-tiba langsung lompat ke event 15. 😀

Ini dia, buku pertama Event Nubar Area Sumatera. “Diary Emak Rempong” .


Keunikannya yang membedakan buku ini dengan Nubar lainnya. Ada satu cerita beruntun yang masukkan ke dalam buku. Siapa penulis cerita beruntun ini? Tak lain dan tak bukan, semua penulis Romansa Cinta Monyet itu sendiri. Haaa?

Yup. Jadi, satu ketika, kami seru-seruan di grup Whatsapp. Nah, dari satu cerita, yang berujung saling berbalas kelanjutannya, tiba-tiba terbersit ide, “kenapa nggak, ceritanya dimasukkan saja sekalian di buku Nubar ini?”

Tapi, ternyata itu bukan hal yang mudah. Karena saking semangatnya para penulis, ketika tulisan saya pindahkan dari grup WA ke file Words, hasilnya berjumlah 17 halaman, sodara-sodara. Haha 😂😂

Dikarenakan saya tetep konsisten pada pendirian, akhirnya naskah tersebut berhasil saya cut dan sesuaikan dengan jumlah halaman buku secara keseluruhan agar seimbang dengan harga jual. Iyalahh, buku Nubar mana ada yang mahal. Sudah ada ketentuan dari pusat. Jadi, halamannya yang harus menyesuaikan.

Penasaran, nggak? Apa sih cerita beruntun yang saya jadikan bonus di buku ini? Ini cuplikannya:

TAMBATAN HATI REVA

(Oleh: Para Penulis Cinta Monyet)

Reva berlari sekencang-kencangnya, matanya berkunang-kunang dan hampir saja dia terjatuh. Dia baru saja melihat Deni sedang bermain kasti bersama Intan. Reva bersandar di pohon besar yang tumbuh di sisi lapangan itu, terengah-engah.  Ia mengatur jantungnya yang berdegup keras. Kesal. ‘Kenapa sih Deni nggak mau ngajak aku main juga? Kenapa cuma Intan? Huh!’

Reva menatap mereka dari kejauhan, air matanya jatuh. Tak hanya hatinya yang rapuh. Bahkan kaki pun tak sanggup lagi untuk berdiri. Tiba-tiba … Reva terjatuh.

“Mama ….” Reva menangis, ternyata bola yang ditendang Imron mengenai kepalanya.


“Makanya, jangan ngelamun di tengah lapangan!” seru Imron.

 Reva merengut mendengar seruan Imron. Kemudian anak perempuan berusia sebelas tahun itu berdiri dan berjalan sambil menghentakkan kaki. Namun, baru beberapa langkah, Reva menengok ke arah Imron.

 “Siapa coba yang ngelamun, kamu aja nendang bolanya nggak becus!” pekik Reva sambil menjulurkan lidah ke arah Imron lalu meneruskah langkah kakinya lurus ke depan.

 Imron hanya mematung.  Kemudian dia menepuk jidatnya. “Kok, aku tadi ngomong gitu, ya sama Reva. Kasian kan Reva!”

 “Ada apa, Ron?” tanya Intan sambil mengerenyitkan keningnya. Imron menoleh, Intan dan Deni ternyata sudah berdiri di belakangnya. Tangan Deni memegang pemukul kasti sedang sebelah tangannya lagi melempar dan menangkap bolanya berulang.

 “Kenapa si Reva?” tanya Deni. Intan melirik Deni demi mendengar nama Reva disebut Deni. Sepertinya Intan kurang suka dengan Reva. Wajar saja, sejak Reva menjadi teman sekelasnya, nilai Reva selalu mengalahkan Intan. Iya. Intan yang selama empat tahun di SD selalu menjadi juara kelas, tiba-tiba dikalahkan murid pindahan luar kota itu.  Mendadak Intan mendengus sebal mengingat hal itu. Ditambah lagi lesung pipi di kala Reva tersenyum menambah kecantikannya.

 “Kepalanya kena bola yang kutendang,” jawab Imron jujur.

 Denipun langsung berlari menyusul Reva untuk melihat keadaannya.

 “Syukurlah kamu enggak kenapa-kenapa,” ucap Deni di samping Reva yang sedang asyik makan bakso.

 Ternyata Reva lari ke arah kantin.  Perutnya terasa lapar setelah menangis.  Meski bakso sudah melaju ke mulut Reva, tapi perasaan perih melihat Intan bersama Deni masih bertahan di hati. 

 Jantung Reva seketika berdegup tak menentu, seolah ada pacuan kuda di dalam dadanya. “Eh, Den. Aku, aku …,” ujar Reva dengan wajah yang memerah dan tersipu.

 “Coba lihat?” Deni menjulurkan tangannya ke kepala Reva.

 Reva semakin mematung, antara senang dan juga gugup. Kini jemari Deni tinggal satu sentimeter dari rambut Reva. Reva menahan napasnya.

 “Kena! Kamu jatuh di rumput, ya?” seru Deni.

 “Eh, iya,” jawab Reva gelagapan.

 “Nih, ada rumput di rambut kamu.” Deni tertawa terkekeh.

 “Den, ngapain lu di sini?”  Tiba-tiba Intan datang menghampiri mereka berdua lalu tanpa tedeng aling-aling langsung menyambar tangan Deni untuk pergi menjauh dari Reva.

 “Intan! Sebenarnya aku punya salah apa sih dengan kalian?”  Napas Reva menderu saat dia bangkit dan meneriakkan hal itu.

 “Ternyata kalian semua di sini.” Tiba-tiba Imron datang.

 “Eh, Ron. Yuk, kita balik ke kelas bareng.”  Deni berlalu meninggalkan Reva dan Intan. Ia merasa tidak nyaman berada di situasinya saat itu.

 “Intan, kenapa sih kamu selalu jutek sama aku. Apa salahku padamu?” tanya Reva sambil menyeruput es jeruk dan memandang tajam mata Intan.

 Intan jadi gelagapan. Dia mendesah.  “Aku tak suka kau dekat-dekat sama Deni. Semua berubah karena kedatanganmu. Aku tak suka itu!” serunya masih tetap berdiri.  “Kalau kau tak suka aku dekat sama Deni, bilang saja. Kau cemburu, ya?” tanya Reva sambil berdiri juga.

***

Event Nubar Sumatera satu ini juga spesial lho! Temukan jawabannya! 😍😍


Hayoo, nungguin kelanjutannya ya? Kenapa nggak, ikutan PO saja nanti. Nanti tapi ya, tunggu cover keluar dan akan saya buka pre-order. Kalau mau nge-booking dulu boleh, tinggal hubungi salah satu penulis. Atau langsung saja wa saya di 085273642724

Yuk, baca dan  nikmati kelucuan cerita-cerita Romansa Cinta Monyet. 😍😍

rumahmediagrup/emmyherlina