Romantisme Ramadhan Bersama Begal di Negeri Dua Nil Sudan

“Romadhon tiba, romadhon tiba

Marhaban Ya Romadhon”

            Wah rasanya familiar sekali dengan lirik di atas ya. Apabila lagu tersebut mulai muncul, sudah dipastikan menjelang ramadhan. Apalagi  jika iklan sirup sudah tayang di televisi, berarti sebentar lagi ramadhan.

 Hayoo, siapa yang rindu ramadhan? Iya! Semua orang apalagi para mukmin in sya Alloh merindukan ramadhan. Bulan penuh keberkahan, dimana  saat itu ada momen Alquran diturunkan. Lalu ada malam lailatul qodar, malam seribu bulan. Bayangkan! Seribu bulan itu berapa tahun ya?

Nah teman-teman, pasti tak lupa juga ya maraknya kolak kala ramadhan. Kemudian ada makanan/minuman khas lain seperti kurma, sirup, sop buah, es the. Hmm, membayangkannya saja sudah membuat kita makin rindu ramadhan ya. Eits, tapi ramadhan tak sekedar berburu makanan/minuman khasnya. Tapi ibadah kita juga harus ditingkatkan seperti, hapalan makin ditambah, rajin salat tarawih, rajin tilawah. Siap ya kita melaksanakannya? Ehm, teman-teman sembari mengenang romantisme bulan ramadhan di Indonesia, yuk sejenak kita tengok suasana bulan ramadhan di Negeri Dua Nil yaitu Sudan.

Tahukah teman-teman, jika Sudan terletak di antara dua Nil yaitu pertemuan dua aliran sungai Nil  yang berasal dari Victoria dari Rwanda(Nil Putih) dan dari Ethiopia bagian utara (Nil Biru). Sudan merupakan daerah yang kering dan tandus. Sudan merupakan salah satu negara besar yang terletak di benua Afrika bagian utara. Sudan berbatasan langsung dengan Chad, Mesir, Eritrea, dan Ethiopia. Sudan menjadi negara terbesar ke-4 di Afrika dengan jumlah penduduk sekitar 38,5 juta jiwa, yang mana mayoritas penduduknya memeluk agama Islam. (www.kumparan.com)

Jika teman-teman berpuasa di Sudan, maka akan dmulai sekitar pukul 4 pagi hingga datangnya adzan magrib pada pukul setengah 8 petang. Mereka berpuasa sekitar 15 jam lamanya dengan suhu rata-rata menginjak angka 42-46 derajat.

Budaya Masyarakat Sudan di Bulan Ramadan

Teman-teman ternyata ya di Sudan, sering terjadi badai pasir atau ghubar. Biasanya terjadi jelang berbuka puasa. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan masyarakat Sudan untuk berlomba-lomba “membegal”. Ya, begal di Sudan merupakan symbol kedermawanan masyarakatnya. Mereka berlomba-lomba mencegat warga lain untuk diajak berbuka puasa bersama. Inilah yang disebut “begal ala Sudan”

Ketika sahur, mayoritas masyarakat Sudan menyantap Ruz bil laban (Nasi yang dicampur dengan susu). Sedangkan pada saat berbuka puasa, ada berbagai makanan ringan, seperti kurma (kurma yang agak keras dengan istilah balaah), tho’miyah (kudapan seperti gorengan, bentuknya sekilas mirip onde-onde), balilah (jenis kacang-kacangan sudan), dan juga aneka makanan berat, seperti Ful (kacang-kacangan yang ditaburi minyak, bawang merah, tomat, garam, dan kemudian disantap dengan roti), asidah (tepung kenyal yang diberikan kuah kental, terlihat seperti puding jelly dari kejauhan), daging, dan lain-lain. (www.kumparan.com)

            Oh iya, di Sudan tidak ada minuman es teh lho. Mereka lebih menyukai teh hangat kala musim dingin, dan tetap terbiasa meminum teh hangat walaupun di musim panas. Untuk berbuka, biasanya mereka menyediakan aneka jus.

Masyarakat Sudan ketika berbuka puasa biasanya akan berkumpul di luar rumah, menggelar alas di depan rumah mereka dengan membawa makanan/minuman yang sudah dibuatnya. Atau mereka berinisiatif dari 5 rumah bergabung menjadi satu tempat ketika berbuka. Masing-masing rumah diberi tugas untuk menyediakan makanan atau minuman. Sesuai dengan tugas yang sudah ditentukan. Lalu, menjelang waktu berbuka, mereka keluar dan berkumpul di tempat yang telah disetujui.

Ramadan WNI di Sudan

Teman-teman, bagi para WNI di Sudan, sering lho mengadakan buka puasa bersama. Menu khas Indoessiapun menjadi hidangan pelepas rindu akan tanah air. Dan juga menjadi ajang silaturahim antar WNI di Sudan.

Imam salat tarawih di Sudan membaca satu juz tiap malamnya, sehingga dengan total 30 hari mereka menghatamkan Alquran melalui salat tarawih tersebut. Belum lagi dengan langgam Sudan yang sangat khas.

Nah di malam 10 hari terakhir Ramadan, Masjid-masjid di Sudan mengadakan iktikaf, yang juga merupakan sunnah di bulan Ramadan. Yang menjadi ciri khasnya ialah iktikaf di Sudan ada pada pelaksanaan salat qiyamullail. Setiap malamnya, sang imam membaca tiga juz di dalam Alquran sehingga di akhir Ramadan, mereka dapat mengkhatamkan Alquran lewat salat qiyamullail tersebut. Salat qiyamullail ini biasanya dimulai sekitar pukul dua pagi, hanya beberapa jam setelah mereka menyelesaikan salat tarawih. (www.kumparan.com)

Fakta Unik

1. Ghubar adalah Badai pasir adalah fenomena meteorologi yang umum di wilayah arid dan semi-arid. Badai pasir antara lain disebabkan oleh meningkatnya kecepatan angin dalam suatu wilayah yang luas. Badai pasir umumnya terjadi pada tanah yang kering. Badai pasir dapat memindahkan keseluruhan bukit pasir dan membawa pasir dalam jumlah besar sehingga tepi badai dapat menyerupai dinding pasir setinggi 1,6 km. Badai pasir di gurun Sahara dalam bahasa setempat dikenal dengan simoom atau simoon (sîmūm, sîmūn). Haboob (həbūb) adalah badai pasir di wilayah Sudan sekitar Khartoum. (www.wikipedia.com)

Image result for gambar wikipedia tarawih di sudanasidah

Sumber:

www.hidayatullah.com

www.kumparan.com

www.wikipedia.com

rumahmediagrup/nurfitriagustin