Saat anakku tak lagi mencintaiku

Bag. I

“Sudahlah ibu gak usah menangis, kan tinggal dengan mba’ Dita juga sama aja, nanti setiap hari minggu saya sama anak-anak akan nengokin ibu”.

Kata kata Si bungsuku Ridho itulah yang masih terngiang ditelingaku, sejak suamiku meninggal aku jadi kesepian, curhat bu Vonie, selesai pengajian. Wajahnya nampak penuh kesedihan dan harapan seorang ibu.

Bu Vonie mempunyai 3orang anak, dua laki laki dan satu perempuan. Sudah bisa dikatakan jika dilihat dari harta duniawi mereka adalah anak-anak yang bisa dibanggakan orangtua, semuanya bergelar S3 dan lulusan Amerika, rumah mereka seperti istana, bahkan kalau saya bertandang dirumah beliau serasa dihotel mewah kelas berbintang lima, semua serba ada, mobil yang berderet deret lengkap beserta sopir siap mengantar kemana saja, mau belanja beli apapun bebas, debit dikartu ATM mengalir tak ada habisnya.

” saya rindu anak-anak saya ustadzah” keluhnya.

“Kenapa gak coba ditelfon atau ibu yang mendatangi anak-anak ibu?” selidikku

“Ah…anak-anak terlalu sibuk dengan usaha yang telah diwariskan papanya. Kalau saya telpon paling hanya ngobrol sebentar selanjutnya dimatikan, jika saya datang kesana, saya lebih banyak ngobrol sama pembantu rumahnya, sama aja bohong sama seperti dirumah saya sendiri. Paling saya bisa ketemu anak dan cucu saya pagi menjelang sarapan, terus masing-masing berangkat kerja dan sekolah. Anak saya pulangnya tengah malam, mesti terkadang saya sempat terbangun juga kita gak bisa ngobrol karena dia sudah kelelahan, cucu saya juga begitu pulang sekolah sudah sore disambung les privat sampai habis maghrib, setelah itu mereka tenggelam dengan gaget masing-masing, saya jadi bosan ustadzah hidup ini mau gimana?”

Kudengarkan dengan seksama curhatan ibu Vonie yang mengalir tanpa henti tanda ekspresi kekecewaan yang mendalam. Beliau memang sering curhat kepadaku terkait masalah hidupnya, sangat berlawanan arah denganku. Ibuku orang miskin yang tidak berpunya tapi alhamdulillah mampu menerapkan pendidikkan aqidah islam pada anak-anaknya, meski kondisi kami tidak berlebih tapi kami selalu mendahulukan kepentingan ibu kami. Aku jadi teringat saat bu Vonie bercerita bahwa beliau pernah minggat dipanti jompo selama dua bulan lebih, dan tidak ada satu anak- anaknya pun yang mencari. Berawal ketika bu Vonie terkena serangan jantung, kemudian dibawa sopir pribadinya kerumah sakit. Rumah sakit mewah kelas vvip, ketika bu Vonie mencoba menelpon anak-anaknya semua menjawab sibuk masih belum bisa menjenguk sekarang masing- masing saling berlomba mentransfer uang dalam jumlah yang tidak sedikit.

Perempuan tua itu malang sekali, anak adalah amanah titipan Alloh untuk hari tua dan masa diakhirat kelak, tapi justru beliau sudah salah meletakkannya, kalau dulu dia menanamkan pada anak-anaknya bahwa ijazah dan harta selalu ada kaitannya dengan cerahnya masa depan sehingga pendidikkan agama jadi terlewatkan. Kerisauannya sekarang adalah

“ustadzah, saya jadi ragu apa anak-anak saya tetap akan mendoakan saya walaupun saya sudah meninggal?”

“Bersabarlah bu, berdoa selalu semoga Alloh berikan hidayah untuk putra- putri ibu, dengan harta ibu juga bisa shodaqoh menginfakkan harta dijalan Alloh mendukung perjuangan islam, menafkahi anak yatim dan fakir miskin,dan sebagainya”. Jawabku menghiburnya

“InsyaAlloh Ustadzah, terimakasih atas pencerahannya, jangan bosan ya, dengar curhatan saya.” airmata wanita itu mulai mengalir

Bersambung

LellyHapsari/RumahMedia