Saat Harus Melepaskan (Sebuah Cerpen)

Saat Harus Melepaskan

Dank je schat,” ucap Viona sambil menambahkan senyum.
Thomas mengangkat kepala dari kameranya dan bertanya,
“Haa? Ngomong apa lu?”
“Artinya, terima kasih, Sayang. Itu bahasa Belanda.”
“Alaaah, brasa di Belanda karena lagi di sini. Yuk, cepetan, mau foto di mana lagi? Abis tu kita pulang!”

Viona menarik napas. Padahal niatnya tadi ingin menggoda sang suami karena telah mengabulkan permintaannya berkunjung ke Kampung Tulip.
“Tapi nanti kita foto pakai baju khas Belanda dulu, yaaa,” rengek Viona. Thomas berlalu tanpa menjawab apapun.

Kampung Tulip merupakan tempat wisata bergaya Belanda yang berada di area Komplek Pasir Pogor, tepatnya di jalan Banyu Biru H-17, Ciwastra, Kota Bandung. Di sini wisatawan dapat berkunjung dan mengambil foto di beberapa spot foto yang menarik, selain mencoba pakaian khas Belanda, Kladerdracht.

Untungnya Thomas kembali mengikuti permintaan istrinya. Mereka berfoto bersama mengenakan pakaian khas Belanda itu. Lalu Viona mengirimkan beberapa foto ke sosial media.

Viona teringat sesuatu. Lantas jemarinya lekas mengambil ponsel dan menghubungi seorang teman.
Tring. Cepat sekali gawainya sudah berbunyi.
“Wah, bagus banget! Aku kapan yaa bisa ke Bandung lagi.” Sebuah whatsapp balasan membuat Viona tersenyum.

“Hayuuk makanya, kamu kan belum pernah ke Kampung Tulip, Em.”
“Aku belum pernah ke Bandung lagi sejak itu. Aku bahkan nggak bisa hadir di acara pernikahanmu yang berbarengan kehamilanku yang pertama. Maaf, kali ini juga nggak bisa kayaknya, Vi. Anakku masih kecil. Susah atur jadwal kerja.”
“Oiya, Farris udah umur berapa sekarang?”
“Baru masuk delapan bulan, Vi.”

“Kamu WA-an sama siapa lagi? Kamu selingkuh, ya?”
Viona tersentak mendengar perkataan suaminya.
“Astaghfirullah, sama sekali nggak ada pikiran ke sana, A’! Aku tu WA-an sama Emmy, teman yang pernah kutemui akhir 2010 lalu.”
“Nggak usah manggil gue, Aa’! Gue bukan orang Sunda! Sini HP lu!”

Viona dengan pasrah menyerahkan ponselnya pada Thomas. Ini bukan pertama kalinya gawainya disita sang suami. Thomas memang lelaki pencemburu dan semakin menjadi sejak dia divonis mandul setahun lalu.
Azoospermia, menurut penjelasan dokter kandungan yang menelaah hasil laboratorium mereka.

Itulah sebabnya setelah empat tahun pernikahan mereka belum juga dikaruniai anak. Bukan dari Viona masalahnya, melainkan Thomas. Karena cinta, Viona masih bertahan, meski itu berarti dia harus melawan nuraninya yang begitu mendambakan buah hati.

“Nasibku memang tak seberuntung Emmy, yang kini sudah dikaruniai dua anak, setelah kekosongan selama tiga tahun. Kulihat hubungan dia dengan suaminya juga baik-baik saja, tak seperti aku.” Hati Viona bagai teriris sembilu.

Viona memandangi bunga-bunga tulip yang bermekaran. Ada merah, kuning, ungu, warna-warni yang sangat indah.
“Ah, andai hatiku seceria warnamu, Tulip,” batinnya berbisik.

“Viona Sayang, ini saya kembalikan ponselmu.”
Viona terkejut melihat kembali kedatangan Thomas.
“Maaf ya, saya udah curiga. Abis ini kita mau ke mana, Sayang?”

Selalu seperti ini. Begitu mudah Thomas mengubah ekspresi marah menjadi perhatian. Di satu titik, lelaki itu bisa memaki-maki istrinya, tak lama kemudian dia akan menghujani Viona dengan perhatian dan juga hadiah yang melimpah. Viona curiga suaminya pengidap bipolar.
“Iya, nggak papa. Kita pulang aja,” jawab Viona tak ingin melanjutkan perdebatan.


Tok. Tok. Tok.
Viona menarik napas lega saat palu sudah dipukulkan hakim. Air matanya tanpa terasa menitik. Viona bangkit dan terus berjalan tanpa mengabaikan tatapan dari Thomas.
Ah, semestinya dari dulu dia berani mengambil keputusan ini. Lebam di kedua pipinya telah menjadi saksi sudah tiada lagi alasan untuk mempertahankan.

“Viona!”
Bahkan langkah Viona tak berhenti saat Thomas memanggilnya.
“Sudah, dia sudah tak menjadi sah bagimu. Hadapi kenyataan, Bro!”
“Makanya, jaga istri baik-baik, kalau sudah begini, nasi sudah menjadi bubur.”
Komentar demi komentar terdengar di belakang punggung Viona.
“DIAM KALIAN SEMUA!!” Teriakan Thomas menjadikan beberapa polisi menjegal tangannya.

Viona hanya berdesis lirih, “bye, Thomas.”


Catatan:

Azoospermia adalah istilah yang digunakan ketika seorang pria tidak mengeluarkan sperma sama sekali pada saat terjadi ejakulasi hanya ada cairan yang kosong sel sperma.

Bipolar adalah suatu gangguan yang berhubungan dengan perubahan suasana hati mulai dari posisi terendah depresif/tertekan ke tertinggi/manik.

Tulisan ini pertama kali saya publish di Facebook pribadi dalam rangka mengikuti challenge dari Nubar Berkreasi Lewat Aksara. Alhamdulillah tulisan ini pun menjadi salah satu yang terbaik dengan tema deskripsi gambar Tulip tempo hari.

By the way, cerita ini hanyalah fiksi ya. 😁😁
Saya mencoba menggabungkan dengan pengalaman saya waktu berkunjung ke Bandung akhir tahun 2010 lalu yang menjadi awal pertemuan dengan Viona.

rumahmediagrup/emmyherlina