Saatnya Berubah

Saatnya Berubah

Sebuah mobil mewah berhenti  di halaman masjid itu, tepat di samping tukang kue pancong yang sedang duduk termenung menanti pembeli. Seorang pria muda perlente keluar dari mobil itu lalu menghampiri tukang kue pancong.

            “Kue pancongnya, Mang!” lalu jongkok dekat pikulan kue pancong.

            “Sebentar saya siapkan.” Sedikit gugup segera menuangkan adonan ke dalam cetakan.

            “Bagaimana jualan hari ini, Mang? Kelihatannya sepi, ya?”

            “Begitulah. Akhir-akhir ini jualan saya makin sepi. Banyak pelanggan yang beralih pada makan siap saji yang berasal dari luar negeri. Rupanya mereka bosan dengan kue pancongku ini.”

            “Masa sih? Menurutku, kue pancong jauh lebih uenak dibandingkan makanan siap saji dari luar negeri mana pun.”

            “Begitu, ya? Tapi kenapa jualan saya makin hari makin sepi saja? Silakan, Pak!” menyodorkan kue pancong yang dialasi kertas koran.

            “Terima kasih.” Mulai menyantap kue pancong yang masih panas mengepul. “Cukup uenak kok kue pancongnya. Mungkin pelanggan bukan bosan pada kuenya, tapi bosan pada penjualna. Habisnya, dari dulu hingga kini masih kaya gitu-gitu aja!” menepuk lengan penjual kue pancong. “Masih ingat saya? Masa iya Mang Sahli lupa?” lanjutnya.

            Tukang kue pancong itu menatap lelaki di hadapannya.”Suryadi?” Pekiknya setengah terperanjat. “Ini teh bener Suryadi tukang sol sepatu yang biasa mangkal di perempatan itu?”

            “Nah, tuh masih ingat! Iya, saya Suryadi, Mang. Suryadi yang dulu sering ngutang kue pancong Mamang, he he he. Penampilan saya berubah ya, Mang?”

            “Waduh! Bukan berubah lagi ini mah, tapi berubah… bah… bah! Hebat kau Sur! Dapat lotere, ya?”

            “Mang Sahli ada-ada saja. Kapan juga saya beli lotere? Haram kan Mang?”

            “Lalu, bisa berubah tiga ratus enam puluh derajat begini, gimana caranya?”

            “Pengen tahu rahasianya, Mang? Mahal lho harga rahasia ini. Mamang sanggup ngga bayarnya?”

            “Halah! Sekarang kamu juga berubah Sur, pake main hitung-hitungan segala. Kamu kan tahu berapa pendapatanku dari hasil menjual kue pancong ini.  Ya ngga bakalan cukup untuk membeli rahasia yang katamu mahal itu.”

            “Bercanda kok, Mang. Bener Mang Sahli pengen tahu rahasianya?”
            “Ya iya lah. Siapa tahu Mamang juga bisa berubah seperti kamu, Sur.”

             “Ngobrolnya di situ, yuk!” Beranjak ke teras masjid diikuti Mang Sahli. “Nah, sambil duduk bersila kan lebih enak.”

            “Sejak kapan kamu tidak jadi tukang sol lagi, Sur?” menatap penasaran.

            “Lha! Kata siapa saya berhenti jadi tukang sol?”

            “Ini buktinya. Mana mungkin tukang sol sepatu bisa sekeren ini?”

            “Saya ini masih jadi tukang sol sepatu. Hanya saja, tempat mangkalnya pindah, Mang.”

            “Pindah ke mana?” terlihat semakin penasaran.

            “Sekarang saya punya pangkalan sendiri. Sebuah kios di Pasar Baru. Bukan hanya buka jasa ngesol, tapi juga jualan yang biasa disol, ya sepatu itu. Begini ceritanya, Mang. Setahun lalu, saya bertemu teman lama yang kini sudah menjadi pengusaha sukses. Dari dialah saya mendapatkan resep agar bisa sukses. Dari dia juga saya mendapat pinjaman modal awal, Mang.” Memasukkan kue pancong terakhir ke mulutnya.

            “Dia juga tukang sol sepatu?”

            “Ya bukan lah, Mang. Dia itu pengusaha sukses di bidang proferti. Dia kan sedari kecil memang sukanya hal-hal semacam itu. Dia itu ulet dan suka sekali menimba pengalaman dari orang-orang sukses di sekitarnya.”

            “Karena ulet itu barangkali dia bisa sukses.”

            “Betul sekali, Mang. Tapi itu hanya salah satu dari kunci kesuksesannya. Dia sangat yakin bahwa Allah SWT. tidak akan mengubah nasib suatu kaum apabila kaum itu sendiri tidak mau mengubahnya. Makanya dia bekerja keras untuk mewujudkan impiannya menjadi orang sukses. Dia pun yakin betul bahwa dengan bersyukur, maka Allah akan memberi lebih banyak lagi.”

            “Begitu, ya? Bagaimana caranya dia bersyukur?”

            “Selain dengan mengucapkan Alhamdulillah, berterima kasih langsung pada Allah melalui kata-kata, dia bersyukur dengan banyak-banyak bersedekah.”        

“Yah,bagi orang kaya sih mudah untuk bersedekah. Nah, giliran saya? Buat resiko dapur saja masih kurang … kurang … dan selalu saja kurang. Apa yang bisa saya sedekahkan?”

            “Seperti itulah mental kita, Mang. Makanya ngga kaya-kaya, ngga sukses-sukses. Kalau kita yakin kita bisa bersedekah, ya pasti bisa. Jangan salah juga lho. Sedekah itu bukan hanya pada orang lain. Memberi nafkah keluarga dan sanak saudara juga termasuk sedekah. Sedekah itu bukan hanya dengan uang, bisa juga dengan cara yang lain. Mang Sahli jualan kue pancong, cobalah sengajakan membuat barang sekali cetak sih buat sedekah pada orang-orang di sekitar Mamang yang memang membutuhkannya untuk sekedar mengganjal perut dari rasa lapar.”

            “Begitu, ya?” masih nampak ragu.

            “Masih ada lagi, Mang.”

            “Apa itu, Sur?”

            “Doa, Mang. Doa kita, doa istri kita, doa orang tua kita, doa anak-anak kita. Doa itulah yang membuat Allah membukakan pintu rejeki bagi kita selebar-lebarnya. Mang Sahli masih suka salat, kan?”

            “Eu..emh, ya kadang-kadang, Sur.” Malu-malu.

            “Kok kadang-kadang? Mangkal di halaman mesjid, kok salatnya kadang-kadang? Ga malu sama Allah?”

            “Malu juga sih,” salah tingkah.

            “Nah, bagus itu. Masih punya rasa malu itu nilai positif, Mang.”

            “Habisnya, waktu mamang kan habis untuk berjualan, keliling-keliling, mentok-mentok ya mangkal di halaman mesjid ini.”

            “Mamang salah, sih! Coba niatnya jangan niat mangkal doang. Datangi mesjid ini setiap waktu salat. Pasti akan ada perubahan besar pada nasib Mamang.” Hening sejenak. “Selain salat lima waktu, tambahi juga dengan salat sunnah. Sedikit-sedikit Mamang biasakan bangun dini hari untuk salat tahajjud, minimal dua rakaat lah. Di situlah Mamang bisa curhat pada Allah. Mintalah apa yang Mamang inginkan. Agar lebih mantap, luangkan waktu berjualan Mamang sedikit saja, masuklah ke mesjid ini untuk salat Duha. Yaaa, dua rakaat dulu lah. Syukur-syukur kuat hingga delapan rakaat. Mantap sekali itu Mang.”

            “Berat juga ya?”

            “Mau sukses tidak?”

            “Ya mau lah!”

            “Ya, kalau mau, harus mau juga melakukan semua itu. Mang Sahli ini maunya yang gratisan saja, ha ha ha!”

            “Namanya juga orang kecil. Yang gratisan itulah yang diharapkan.”

            “Itu juga, Mang. Coba ubah cara berpikir Mamang. Sekali lagi Mang, Allah itu bagaimana prasangka hamba-Nya. Mang Sahli beranggapan bahwa Mamang itu orang kecil, ya jangan heran kalau Mamang akan terus berada dalam posisi yang dikecilkan orang. Jangan heran pula kalau rejeki Mamang juga hanya yang kecil-kecil saja. Yakinlah Mang! Allah itu Maha Pemberi. Apa sih sulitnya bagi Allah untuk mengayakan kita? Sayangnya … ya itu tadi, kitanya sendiri sih yang suka mengecil-kecilkan, menganggap semuanya akan sulit. Ya akibatnya … sulit beneran deh!”

            Mang Sahli diam seribu bahasa.

            “Hidup kita ini berproses, Mang. Bohong itu yang namanya sim salabim. Saatnya Mamang juga berubah. Sekarang Mamang jadi tukang kue pancong, satu pikulan. Mamang harus berusaha agar bisa menjadi dua pikulan, tiga pikulan, dan seterusnya. Sekarang Mamang keliling sendiri. Nanti harus bisa, Mamang yang nunggu setoran di rumah, biar anak buah Mamang yang keliling. Sekarang keliling, usahakan agar Mamang bisa punya pangkalan sendiri. Tidak mustahil kan nanti ada toko kue pancong ternama di kota ini, Toko Kue Pancong Mang Sahli. Waaaah keren banget, Mang.”

            “Waaaaah, Mamang mau banget tuh!”

            “Nah, itu dia! MAU! Itulah kata kuncinya. Akan selalu ada peluang untuk sukses. Tinggal kitanya saja, mau atau tidak memanfaatkan peluang itu?”***

Rumahmediagrup/sinur

#RMG_cerpensinur_02