Sahur Pertama Ramadan Tanpa Ayah

Sahur Pertama Ramadan Tanpa Ayah

“Reyhan, ayo bangun sahur, Nak!”

Ajak Ibu membangunkan Reyhan di sahur pertama ramadan.

Reyhan menggeliat. Dipicingkan matanya, lalu segera bangkit dari tidur.

“Sahur kali ini terasa sepi tanpa Ayah ya, Bu.”

Ibu menatap Reyhan yang tengah tertunduk. Ia tahu, putranya itu pasti menyimpan rasa sedih yang mendalam.

“Sabar ya, Sayang. Meskipun sahur pertama kita tanpa Ayah, tapi kita harus tetap bahagia. Kita sambut bulan Ramadan ini dengan hati yang ikhlas.”

Reyhan menoleh. Kini ditatapnya sang ibu yang tengah mengulum senyum.

“Ayah makan sahur sama apa ya, Bu?”

Ibu tampak berpikir sejenak.

“Mungkin sama dengan kita, lauk ayam goreng dan sambal.”

“Kasihan Ayah, pasti kesepian makan sahur tanpa kita ya, Bu.”

Lagi-lagi, lelaki kecil yang masih berusia sepuluh tahun itu menundukkan kepalanya. Ada duka di sana. Ibu pun mulai berkaca-kaca.

Jika tentang ayahnya, Reyhan selalu tak bisa menyembunyikan rasa sedih hatinya. Ia begitu menyayangi ayahnya.

Sejak ayahnya menjadi relawan sebagai dokter pandemi Covid 19 di salah satu rumah sakit pemerintah, ia hampir tak pernah pulang ke rumah. Reyhan yang sangat dekat dengan ayahnya, tak bisa berbuat apa-apa selain menumpahkan kesedihan pada sang ibu.

Reyhan begitu merindukan ayahnya. Terlebih lagi di saat Ramadan tiba. Biasanya, banyak rencana yang ayah dan anak itu akan lakukan selama bulan Ramadan.

Dari mulai tarawih bersama, ngabuburit menyusuri jalanan persawahan di belakang rumah, sampai melakukan kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan anak lelaki.

Namun ramadan tahun ini, Reyhan tak bisa bersama ayahnya. Ia tahu, tugas ayahnya adalah kewajiban yang harus dijalankan, tapi ia pun tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.

Ibu hanya bisa membelai kepala putranya dengan sayang.

“Kita berdoa, semoga wabah virus ini segera berlalu, agar Ayah bisa segera pulang ke rumah ya, Sayang.”

Reyhan kembali menatap sang ibu. Ia tak bisa menahan air mata yang sudah jatuh berderai membasahi pipi mungilnya.

Dipeluknya sang ibu, dan ditumpahkan tangisan itu di dada perempuan yang telah melahirkannya. Ibu ikut menangis pula. Menahan rasa sedih karena kerinduan putranya terhadap sang ayah. Ia pun sangat merindukan suaminya.

“Reyhan harus jadi anak yang kuat. Ingat pesan Ayah sebelum pergi ‘kan?”

Ibu mengingatkan kembali putranya akan kata-kata ayahnya sebelum pergi ke rumah sakit.

Reyhan menarik dirinya dari pelukan sang ibu. Diingatnya kembali perkataan ayahnya saat itu.

“Reyhan harus rajin salat, jangan lupa berdoa juga. Jadilah anak lelaki Ayah yang kuat. Jika Reyhan menangis, siapa yang akan menjaga Ibu?”

Reyhan menghapus air matanya kala itu. Dipeluknya sang ayah sebelum pergi.

“Ayah akan segera pulang. Sementara itu, Reyhan harus jadi anak yang baik dan nurut sama Ibu ya.”

Reyhan mengangguk. Ia menatap punggung ayahnya yang semakin menjauh.

Setelah kepergian ayahnya, Reyhan tak pernah lagi menangis. Sebulan telah berlalu. Hanya dua kali sang ayah pulang ke rumah, itu pun tak bisa memeluk Reyhan. Hanya bisa menatapnya diam-diam dari kejauhan.

Reyhan tak pernah tahu jika ayahnya datang. Jika ia tahu, pasti tak akan bisa menahan diri untuk bisa memeluk ayahnya. Ibu hanya bisa menangis di balik punggung putranya, saat suaminya melangkah pergi, kembali ke rumah sakit.

“Maafin Reyhan, Bu.”

Ibu menatap lekat putranya yang tengah menghapus basah di pipi.

“Ayo kita makan sahur,” ajak Reyhan seraya menggandeng lengan ibunya.

Ibu tersenyum lega. Diembuskan napasnya perlahan, lalu segera bangkit mengikuti langkah kecil putranya.

Syukurlah, Reyhan tak larut dalam kesedihannya. Meski sahur pertama ramadan tanpa sang ayah, tapi ia bisa berusaha tegar di depan ibunya.

‘Ibu yakin kamu anak yang kuat, Nak. Semoga Ayah bisa segera kembali pulang dan berkumpul bersama kita’ bisik Ibu dalam hati.

rumahmediagrup/bungamonintja

One comment

Comments are closed.