Sahurku, Rasa Syukurku

Ada sedikit rasa sedih menyambut Ramadhan kali ini, karena tak bisa pulang kampung untuk bertemu buah hati dan sanak saudara. Di tengah pandemi Covid-19 yang terus terang membuatku paranoid. Hanya dapat bersapa lewat telpon seluler tanpa jabat tangan dan pelukan hangat anggota keluarga.

Tak mengapa, bersyukur masih bisa melakukan video call, masih dapat melihat ibu dan adik serta keponakan yang lucu dan yang membuat begitu berat karena tak bisa bertemu anak lelakiku. Dia hanya mau bicara lewat telpon seluler tak mau jika mamanya melakukan video call, tak mengapa juga masih bisa mendengar suaranya sudah cukup mengobati kerinduanku.

Salat Isya, kulanjutkan salat Tarawih bersimpuh di atas sajadah, kurasakan betapa kasih sayang Allah begitu besar tak terasa bulir tipis airmataku mengalir. Alhamdulillah, bersyukur sampai detik ini Allah masih menjaga keluargaku hal itu sudah cukup membuatku bahagia.

Esok hari akan makan sahur sendiri tanpa ada yang menemani, ah … sudah biasa. Mencoba senantiasa berbaik sangka dengan setiap keadaan yang kuhadapi dan menyakinkan hati bahwa belum seberapa dibanding mereka yang makan sahur pertama seadanya di jalanan.

Senantiasa bersyukur dan gembira menyambut datangnya bulan Ramadhan dimana setiap amal akan Allah lipat gandakan pahalanya. Tanda jika seorang muslim beriman adalah salah satunya dengan menyambut gembira datangnya Ramadhan. Jadi tak ada alasan tak gembira menyambutnya.

Sumber Gambar : Koleksi Pribadi

rumahmediagrup/She’scafajar

2 comments

Comments are closed.