Sang Bidadari (10)

Sang Bidadari (10)

“Aku ikhlas melepasmu pergi, Sayang,” ucap Aditya, sesaat setelah mereka makan malam.

Naya kembali menanyakan itu pada Aditya. Ia ingin meyakinkan hati suaminya. Perkataan ayah dan bundanya mulai menggoyahkan tekadnya.

“Aku ragu, Mas. Sebagai seorang istri, aku sadar akan kodratku.”

Naya menunduk. Ia tampak bimbang dengan perasaannya. Aditya meraih tangan Naya, menggenggamnya. Sebelah tangannya mencoba mengangkat dagu istrinya itu.

Kedua mata mereka bertemu. Naya tak bisa membendung perasaannya. Kedua netranya telah tergenang oleh air yang tiba-tiba menyeruak datang.

“Aku benar-benar ikhlas mengizinkanmu pergi, Sayang,” ucap Aditya tulus.

“Tapi aku merasa berat, Mas.”

“Lepaskan saja beban yang ada dalam hatimu itu. Aku selalu ada untuk menghilangkan beban itu.”

“Ini dilema buatku. Di lain sisi, aku sudah lama berharap mendapatkan beasiswa S3 di Kairo, tapi di sisi lainnya, aku juga sadar akan tugasku sebagai seorang istri yang harus melayani suamiku.”.

“Kau tak perlu khawatir akan tugasmu itu, Sayang. Aku bisa sering mengunjungimu di Kairo. Mungkin, nanti aku akan lebih sering tinggal di sana bersamamu.”

“Aku tak mau kau meninggalkan pekerjaanmu di sini hanya untuk menemaniku di sana, Mas.”

“Wajar ‘kan jika aku menemani istriku di mana pun ia berada. Bukankah tugas seorang suami itu selalu melindungi dan menjaga istrinya?”

“Lalu, bagaimana dengan pekerjaanmu, jika kau sering mengunjungiku di sana?”

“Aku akan mengawasinya dari jauh. Mungkin sementara waktu, saat aku tak ada, aku akan menitipkan urusan perusahaan ke Papa.”

“Aku tak mau kau merepotkan Papa, Mas.”

“Tenang saja, Sayang. Aku sudah bicarakan hal ini dengan Papa dan Mama. Mereka mendukung apa pun keinginan kita.”

Naya sedikit lega mendengar apa yang dikatakan suaminya. Ia berpikir, jika saat inilah waktu yang tepat baginya menggapai cita-citanya. Mumpung belum ada kehadiran anak dalam hidup mereka. Jadi, ia bisa lebih leluasa meraih impiannya selama ini.

Naya berdoa dalam hati, semoga ini adalah jalan terbaik baginya juga rumah tangganya.

***

Bandara Soekarno-Hatta sepagi ini terasa begitu lengang. Kali ini, Naya tak pergi dengan suaminya seperti setahun yang lalu, saat mereka melaksanakan ibadah umroh.

Aditya menemani Naya dengan setia. Ikut mengurus check in dan boarding pass.

“Jaga dirimu baik-baik selama di sana ya, Sayang,” ucap Aditya sesaat sebelum Naya masuk ke ruang boarding time.

Air merembes dari kedua netra Naya, mengalir ke pipinya. Aditya segera menghapus air mata itu dengan penuh kasih.

“Jangan menangis. Ini impianmu. Aku akan segera menyusulmu ke sana, Bidadariku.”

“Aku takut, Mas. Aku takut sendirian, tak ada kau yang menemani.”

“Aku akan selalu menemanimu dengan doaku, Sayang. Percayalah, semua akan baik-baik saja.”

“Jaga dirimu baik-baik selama aku tak ada ya, Mas.”

“Tentu. Aku tak ingin kau cemas di sana karena memikirkan keadaanku di sini. Aku akan baik-baik saja, Sayang.”

Pemberangkatan ke Kairo sudah diumumkan. Aditya mengecup kening istrinya sebelum ia berlalu.

Ada rasa berat mengiringi langkah Naya. Sesekali ia melihat sang suami yang masih menatapnya dari kejauhan.

Aditya selalu tersenyum kala Naya menoleh ke arahnya. Tampak ia ikhlas dengan kepergian Naya.

Naya menahan kesedihan yang tiba-tiba hadir menyeruak dari dalam dadanya. Ia begitu berat meninggalkan Aditya. Rasanya, ia tak sanggup pergi di saat hatinya tak merelakan suaminya harus hidup sendiri.

Ia mengingat kembali perkataan ayah dan bundanya. Tentang kodratnya sebagai seorang istri, tentang fitrahnya untuk selalu berbakti dan mengurus suami.

Sungguh egois sekali jika dirinya lebih memilih mementingkan impian yang ia pikir akan membuatnya bahagia, sementara ia harus meninggalkan suami dan membiarkan ia mengurus kebutuhannya sendiri.

Naya menangis tersedu-sedu di ruang boarding time. Hanya beberapa menit lagi pesawat yang akan membawanya pergi ke Kairo, berangkat. Tapi, hatinya merasa ragu, memikirkan suami dan rumah tangganya.

Sudah berlaku tidak adilkah ia terhadap suaminya? Bukankah janji suci pernikahan yang pernah ia ucapkan itu mengandung arti yang mendalam.

Di mana seorang istri harus mampu melayani suaminya dengan ikhlas. Menjadi istri yang salehah dengan memenuhi semua kebutuhan suaminya.

Lalu, akankah ia meninggalkan semua itu hanya demi impiannya? Meskipun Aditya telah mengikhlaskannya untuk pergi, tapi ia yakin, dalam hati terdalam pasti berat melepasnya. Naya menangis lagi.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja