Sang Bidadari (11)

Sang Bidadari (11)

Aditya baru saja akan menunaikan salat Zuhur, ketika ia mendengar ketukan di pintu depan.

Aditya melangkahkan kaki untuk membukakan pintu. Betapa terkejutnya saat ia melihat sosok perempuan yang baru tadi pagi ia antar ke bandara, kini sudah tegak berdiri di ambang pintu, tepat di hadapannya.

“Naya…,” panggil Aditya tak percaya.

Naya seketika menghambur dalam pelukan Aditya, dan ia menangis di dada bidang itu.

Aditya mengelus lembut punggung istrinya dengan penuh kasih sayang. Ada setitik air menggenang di ujung matanya yang segera ia hapus, agar tak terlihat oleh Naya.

Selama beberapa detik Naya menangis dalam pelukan suaminya, kemudian ia menarik dirinya hingga menatap wajah suaminya, yang ia rindu sepanjang perjalanan dari bandara.

“Maafkan aku, Mas. Aku telah egois selama ini. Aku egois karena meninggalkanmu hanya untuk mengejar mimpiku semata,” ucap Naya dalam isak tangisnya.

Kali ini, Aditya yang menarik Naya dalam pelukannya, kemudian ia memapah Naya masuk ke dalam rumah seraya membawakan travel bag milik istrinya.

Aditya menempatkan Naya di kursi sofa. Membawakannya segelas air putih yang segera Naya minum hingga hampir habis isinya. Aditya menerima gelas itu dari tangan Naya, kemudian meletakannya di atas meja.

“Jadi, sekarang kau yakin tak akan melanjutkan S3mu di Kairo, Sayang?” tanya Aditya meyakinkan istrinya.

Naya mengangguk pasti.

“Ya, Mas. Aku akan menjalankan saja kodratku sebagai istrimu. Aku ingin menggapai surga dalam ridamu, Mas,” ucap Naya lirih.

Aditya kembali merengkuh istrinya itu dalam pelukannya. Ia ingin menenangkan hati Naya yang tengah dilanda perasaan bersalah.

“Maafkan aku, Mas,” bisik Naya dalam pelukan suaminya.

“Aku sudah memaafkanmu sebelum kau memintanya, Sayang. Sejujurnya, aku pun berat melepasmu pergi. Tapi, aku tak ingin membuatmu bersedih. Jika kepergianmu bisa membuatmu bahagia, aku akan merelakanmu menggapai cita-citamu itu.”

“Tidak, Mas. Sekarang, aku hanya ingin menjadi istrimu yang selalu setia mendampingi setiap saat. Aku ingin kita mencapai kebahagiaan kita berdua. Aku hanya ingin selalu dalam ridamu, Mas.”

Aditya semakin memeluk erat istrinya. Dikecupnya kening itu dengan perasaan cinta yang selalu tumbuh dalam hatinya. Ia percaya, keikhlasan itu akan menciptakan kebahagiaan dalam hidupnya.

**

Dalam setiap rakaat salat Zuhur, setiap bacaan dilantunkan dalam bisik penuh khusyuk. Ada doa dalam derai air mata dalam wajah perempuan yang duduk di belakang Aditya.

Naya masih menyesali keegoisannya untuk pergi meninggalkan suami yang begitu dicintainya, hanya demi mengejar cita-citanya semata.

Ia menangis lirih. Bersimpuh mengharap ampunan Sang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Meminta ketenangan agar hatinya bisa kembali mengemban tugas sebagai seorang istri yang salehah untuk Aditya, suaminya.

Sementara Aditya, diam-diam ia mendengar tangis lirih istrinya. Seraya mengucap istighfar, ia mohonkan pula ampunan pada Sang Khalik untuk istrinya. Ia telah Rida memaafkan Naya dengan segenap hati.

Aditya berbalik, meraih tangan istrinya yang menelungkup menutupi wajah. Dengan bersimbah air mata, Naya menatap suaminya dengan penuh rasa sesal.

“Lupakanlah yang sudah terjadi, aku sudah ikhlas memaafkanmu, Sayang. Jangan biarkan hatiku ikut merasakan sakit karena melihat tetes air matamu yang jatuh. Aku tak ingin melihatmu bersedih.”

Naya mencium tangan suaminya dengan takzim, sementara Aditya mencium puncak kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.

“Aku benar-benar bodoh, telah dibutakan oleh hasrat yang tanpa aku sadari akan membawaku jauh dari surga-Nya.”

“Jangan berkata seperti itu, Sayang. Kita tak pernah tahu akan setiap ketetapan yang Allah pilihkan untuk kita. Mungkin, Allah punya rencana yang lebih indah untuk kita belajar tentang sebaik-baiknya hidup berumah tangga. Aku harap, kau pun bisa mengambil hikmah dari kejadian ini.”

Naya mengangguk seraya tersenyum. Aditya menatap wajah istrinya yang sudah mulai berbinar, kemudian direngkuhnya tubuh itu dalam pelukan.

Naya merasa lega sekarang. Ya, ia menyadari, apa yang terjadi dalam hidupnya merupakan sebuah pembelajaran yang berharga. Ia mulai memahami sedikit demi sedikit tentang artinya sebuah pernikahan.

Dalam sebuah ikatan yang sudah Allah pilihkan, ada sebuah tanggung jawab yang tak bisa dianggap remeh. Saling menghormati dan menghargai adalah salah satu dasar sebuah hubungan.

Tugas sebagai seorang istri adalah berbakti, melayani, mendampingi dan menyenangkan hati suaminya.

Ketika seorang perempuan sebelum menikah, ridanya terletak pada kedua orang tuanya. Tapi pada saat ia telah menikah, ridanya terletak pada suaminya.

Jika seorang istri mendamba surga, maka berbaktilah ia kepada suaminya dengan sebaik-baik pengabdian.

Tidak ada hak yang lebih wajib untuk ditunaikan seorang wanita -setelah hak Allah dan Rasul-Nya- daripada hak suami.” (Majmu’ Al Fatawa, 32 : 260).

Naya mencintai suaminya karena Allah. Ia ingin Allah Rida atas setiap apa yang dilakukannya. Karena itu, dalam rida Adityalah, ia mendapatkan rida-Nya.

**

Bersambung..

rumahmediagrup/bungamonintja