Sang Bidadari (12)

Sang Bidadari (12)

“Kamu belum hamil juga, Nay?”

Pertanyaan itu, entah sudah berapa ratus kali Naya dengar keluar dari mulut mama mertuanya. Ia sudah jengah dengan sindiran halus yang dilontarkan Mama Sita.

“Sudah lima tahun kau belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan. Mama sudah kangen sekali untuk menimang cucu,” ucap Mama Sita dengan wajah sendunya.

Sebenarnya, Naya tak tega melihat kerinduan akan kehadiran seorang cucu yang begitu diinginkan oleh mama mertuanya itu. Tapi, apalah daya, ia dan suaminya sudah berusaha maksimal selama ini.

Berbagai cara Naya dan Aditya lakukan hanya untuk dirinya bisa hamil.

“Tidak adanya ovulasi di dalam rahim, yang menyebabkan Ibu Naya tidak bisa hamil. Terjadinya anovulasi ini diakibatkan karena adanya sindrom ovarium polikistik yaitu suatu kondisi ketidakseimbangan hormon estrogen dan progesteron.”

Begitu yang diterangkan Dokter Malik, dokter spesialis kandungan, ketika Naya dan Aditya pertama kali memeriksakan kondisi kandungan Naya empat tahun yang lalu.

“Maksud Dokter bagaimana?” tanya Aditya mulai cemas.

“Tidak adanya sel telur yang bisa dibuahi dalam rahim Bu Naya, itu yang menyebabkan tidak adanya pembuahan, Pak.”

“Maksud Dokter, saya mandul?” tanya Naya mulai resah.

“Belum tentu, Bu. Bagi sebagian penderita anovulasi, memang kecil kemungkinan ia bisa hamil. Namun, di zaman modern seperti sekarang ini, banyak alterntif pengobatan yang bisa menyembuhkan penderita anovulasi seperti yang Ibu alami. Kita tetap berusaha ya, Bu.”

Dokter itu mencoba menguatkan Naya. Tapi ia tak bisa membuat air mata itu tertahan. Derai bulir bening sudah terlanjur jatuh mengalir ke pipinya. Rasa sesak serasa menghimpit dadanya.

Aditya yang sedari tadi menyimak perkataan dokter, hanya bisa menggenggam tangan istrinya. Mencoba mengalirkan kekuatan, agar perempuan yang selalu dikasihinya itu tak merasa terluka.

“Solusi apa yang bisa kami lakukan saat ini, Dokter?” tanya Aditya penuh pengharapan.

“Kita akan memulai dengan memberikan obat yang dinamakan Clomiphene citrate atau clomid yang berfungsi untuk mengobati jenis masalah kesuburan seperti yang dialami Ibu Naya.”

“Apa obat itu akan membuat istri saya bisa hamil, Dok?”

“Tergantung, Pak. Kita berdoa saja, semoga dengan jalan obat kesuburan ini, akan memicu sel telur yang dihasilkan Bu Naya agar bisa dibuahi dengan baik. Untuk itu, Bu Naya harus melakukan istirahat yang cukup, jangan stres dan selalu mengkonsumsi sayur dan buah yang dapat menunjang kesuburan.”

Naya masih belum bisa berkata apa-apa. Ia hanya memerhatikan penjelasan dokter. Ia berharap, pengobatan yang akan dijalaninya bisa membuahkan hasil.

Naya menahan kesedihan yang menyeruak dari dalam dadanya. Ia mencoba menguatkan hatinya, yang sedari tadi dihujam oleh perkataan sinis dari mama mertuanya.

Berdosakah ia yang tak bisa membahagiakan suami, dengan ketidakberdayaannya karena tak bisa memberikan Aditya seorang keturunan?

Berdosakah ia yang belum bisa menciptakan tawa bahagia, dalam bibir mama mertuanya yang sangat menginginkan seorang cucu?

Apa yang harus Naya lakukan untuk menebus semua kekecewaan mereka?

Naya tahu, dalam hati suaminya pastilah sangat mendambakan seorang anak, yang bisa ia gendong dan bisa diajaknya bermain.

Naya semakin resah memikirkan semua itu.

“Jika kau tak mampu memberikan suamimu keturunan, ikhlaskan dia untuk menikah lagi,” ujar Mama Sita membuat Naya terkejut.

Tak pernah sedikit pun terlintas dalam pikiran Naya, untuk merelakan suaminya menikah lagi agar bisa mendapat kesempatan, untuk memiliki keturunan.

“Kami sedang berusaha untuk bisa mendapatkan keturunan, Ma. Doakan saja, agar hasilnya sesuai dengan harapan kita,” ucap Naya menahan kepedihannya.

“Selama ini, bukankah kalian sudah berusaha kesana kemari? Tapi hasilnya apa? Mama mau kau memikirkan sekali lagi ucapan Mama tadi. Mama tak ingin kalian berpisah, tapi ikhlaskan Aditya untuk menikah lagi, agar ia punya kesempatan untuk memiliki keturunan.”

Naya terdiam. Tak bisa berkata apa-apa. Juga tak bisa memikirkan apa pun.

Haruskah ia mendengar ucapan mama mertuanya, yang memintanya untuk merelakan suaminya menikah lagi? Sanggupkah ia menghadapi hal itu nantinya?

‘Yaa Allah…, kuatkan hamba menjalani takdir-Mu ini,’ bisik Naya perih.

**

Naya menangis tersedu-sedu di atas sajadah yang ia gelar untuk menunaikan salat tahajud. Sementara suaminya masih tertidur lelap di kamar.

Naya sengaja tak membangunkan Aditya untuk salat tahajud berjamaah, seperti yang biasa mereka lakukan setiap malam. Ia ingin mencurahkan semua isi hatinya pada Sang Maha Pemilik Hidup, sendiri.

Naya ingin menumpahkan semua rasa sedihnya yang ia tahan selama ini, bahkan yang ia sembunyikan dari suaminya.

Karena bagi Naya, hanya Allah yang memahami perasaannya saat ini. Hanya kepada Allah ia mengadu dan memohon pertolongan, agar ia diberi kekuatan menjalani setiap takdir yang masih dimampukan untuknya.

Naya percaya, ia akan lebih tenang menjalani hari esok, setelah ia mencurahkan semua perasaan yang ada di hati pada Rabbnya. Termasuk lebih tenang menghadapi keinginan mama mertuanya, untuk merelakan suaminya menikah lagi.

Naya sudah memikirkan perkataan itu matang-matang. Naya akan siap menerima segala konsekuensinya. Meski sulit, tapi ia percaya, Allah akan selalu bersamanya. Memberi kekuatan untuk tetap bertahan di sisi suaminya, apa pun kondisinya.

“Sayang….”

Panggilan suaminya terdengar samar dari balik ruang kecil tempat biasa ia dan suaminya melaksanakan salat berjamaah.

Naya segera menyapu air mata yang sudah membasahi pipi. Mencoba bersikap wajar di depan suaminya.

“Sayang…,” panggil Aditya lagi seraya membuka tirai tipis penghalang antara ruang salat dan ruang keluarga.

Naya menoleh dan tersenyum pada suaminya.

“Kau tidak membangunkanku untuk salat tahajud berjamaah?” tanyanya sembari menghampiri Naya yang masih duduk bersimpuh.

“Maaf Mas, tadi aku lihat kau tampak kelelahan. Aku jadi tak tega membangunkanmu,” ucap Naya berbohong.

Aditya mengusap lembut kepala istrinya yang masih mengenakan mukena.

“Kau menangis, Sayang?” tanya Aditya sembari memerhatikan mata istrinya yang sembab.

Naya tersenyum getir. Meraih tangan suaminya dengan penuh kasih.

“Aku menangisi dosa-dosaku, Mas. Sebagai seorang manusia, aku masih belum ada apa-apanya di hadapan Yang Maha Kuasa,” ujar Naya, masih menggenggam tangan suaminya.

“Ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, Sayang?” tanya Aditya menatap lekat wajah istrinya itu.

Naya menggeleng seraya mengukir senyuman di bibirnya.

“Kau yakin?”

“Ya, Mas. Jika ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu, aku pasti akan membicarakannya.”

“Belakang ini, kau pasti sangat tertekan. Apa lagi dengan sikap Mama padamu akhir-akhir ini. Aku mohon, jangan kau ambil hati ya.”

“Iya, Mas. Kau tak usah khawatir. Aku akan baik-baik saja jika kau di sampingku.”

Aditya merengkuh Naya dalam pelukannya. Naya mencoba menahan rasa yang hendak tertumpah lewat kedua netranya.

‘Maafkan aku Mas, aku harus melakukan apa yang diinginkan Mama’ bisik Naya meratap.

**

Bersambung…

rumahmeduagrup/bungamonintja