Sang Bidadari (15)

Sang Bidadari (15)

Program bayi tabung yang disarankan Dokter Malik mulai dijalankan Naya dan Aditya. Mama Sita pun memberi kesempatan pada alternatif terakhir yang diambil Naya dan Aditya untuk bisa memiliki anak.

“Mama akan menunggu hasil dari program bayi tabung yang kalian lakukan. Tapi, jika hasilnya tidak sesuai harapan, kau harus menyetujui keinginan Mama, Nay,” ucap Mama Sita terdengar seperti sebuah ancaman di telinga Naya.

Naya hanya bisa menghela napas panjang. Sangat berat ia harus menghadapi mama mertuanya. Terkadang ia rindu saat-saat seperti dulu. Ketika kehangatan mama mertuanya selalu ia rasakan begitu tulus menyayangi dan menerimanya, bukan hanya sebagai perempuan yang dicintai putranya, akan tetapi lebih seperti anaknya sendiri.

Namun kini, Naya harus mendapati kenyataan, jika mama mertuanya tak sehangat dulu lagi, setelah Naya tak jua memberikan tanda-tanda kehamilan.

“Mama harap kamu akan simpan baik-baik percakapan kita ini,” tukas Mama Sita sambil beranjak dari duduknya.

Mama Sita menjulurkan tangannya dan Naya menyambutnya, mencium tangan mama mertuanya itu sebelum ia bergegas pergi, tanpa melihat wajah Naya yang terlihat letih dan pasrah.

Naya hanya mengusap dadanya sembari beristigfar. Air matanya mengalir perlahan seiring kepergian mama mertuanya.

Beberapa proses program bayi tabung dilakukan oleh Naya dan Aditya. Selama tiga bulan lamanya mereka menunggu hasilnya.

Dengan harap-harap cemas, Naya dan Aditya saling menggenggam tangan menunggu Dokter Malik yang tengah membaca beberapa lembar dokumen, yang beberapa saat lalu diberikan perawatnya.

“Bagaimana hasilnya, Dokter?” tanya Aditya tak sabar.

Dokter Malik masih bergeming, menatap lembar dokumen yang ada di tangannya. Beberapa detik kemudian, ia tampak menarik napas panjang. Meletakan dokumen itu di atas meja. Menatap Naya dan Aditya, datar.

“Embrio dalam rahim bu Naya tidak berkembang. Hal ini disebabkan karena disfungsi implantasi yang mencegah embrio menempel dengan benar pada lapisan uterus, sehingga program bayi tabungnya mengalami kegagalan.”

Penjelasan Dokter Malik semakin mengikis harapan Naya untuk bisa memiliki buah hati, dari rahimnya sendiri. Aditya yang juga kecewa dengan hasil yang disampaikan dokter mencoba menguatkan hatinya. Baginya, kebahagiaan Naya lebih penting dari sekadar mendapatkan keturunan.

“Apa masih bisa dicoba lagi, Dok?” tanya Aditya berharap.

“Tentu saja. Ada satu embrio beku yang siap untuk disimpan dalam rahim bu Naya. Jika kaliam siap, kita akan lakukan lagi proses bayi tabung yang kedua.”

“Tidak perlu, Dok. Sudah cukup usaha kami sampai di sini. Hasilnya tak akan jauh berbeda dari sekarang. Aku sudah lelah,” ucap Naya pasrah.

Aditya meremas tangan Naya. Mencoba mengalirkan kekuatan pada istri yang sangat dicintainya itu.

“Kita masih bisa mencobanya lagi, Sayang.”

Naya menoleh pada suaminya. Menggelengkan kepalanya lemah.

“Sudah cukup, Mas. Aku sudah lelah dengan semua usaha yang kita lakukan selama ini. Aku sudah pasrah. Aku akan ikhlas menerima kenyataan jika aku tak akan pernah bisa hamil.”

Naya terisak. Air matanya telah membasahi kedua pipinya. Ia memang telah siap dengan keadaan yang terburuk.

“Kau tak boleh menyerah, Sayang. Kita masih punya kesempatan.”

“Maafkan aku, Mas. Aku ingin menyudahi saja program untukku bisa hamil. Aku ingin bisa menerima kenyataan. Aku mohon, Mas.”

Aditya merengkuh Naya dalam pelukannya. Ia merasakan kekecewaan Naya saat ini, dan ia tak ingin semakin menambah luka di hati istrinya.

“Untuk saat ini, sebaiknya bu Naya harus lebih banyak rileks. Dukungan Anda sebagai suaminya sangatlah penting dalam hal ini.

Aditya menoleh ke arah Dokter Malik. Ia mengangguk pelan.

**

“Mama sudah menemukan perempuan yang cocok untuk suamimu,” ujar mama mertua Naya, saat ia sengaja mengunjungi Naya di rumahnya, setelah Aditya pergi ke kantor.

Naya tertegun. Tak mampu menanggapi perkataan mama mertuanya itu. Mama Sita meraih kedua tangan Naya dengan lembut. Dari kedua netranya mengalir bulir bening yang menetes ke pipinya.

“Kamu sudah Mama anggap seperti anak Mama sendiri. Mama menyayangimu. Tapi, Aditya adalah satu-satunya anak Mama dan Papa. Kami hanya ingin di sisa usia kami, bisa menimang cucu kami sendiri,” ucap Mama dalam isak tangisnya.

Naya tak tega melihat kesedihan mama mertuanya. Diraihnya pipi yang masih terlihat segar itu. Dihapusnya air mata yang terus menerus mengalir.

“Maafkan Naya, Ma. Naya belum bisa membahagiakan Mama dan Papa,” ucap Naya, ikut menangis pula.

“Mama dan Papa akan bahagia jika Aditya bisa memiliki keturunan. Mama tak ingin kalian berpisah, karena Mama tahu, kamu adalah hidupnya Aditya. Tapi, Mama mohon, izinkanlah suamimu untuk menikah lagi. Biarkan dia memiliki anak dari perempuan lain dengan jalan yang sah, dan tentunya dengan keridaanmu.”

Naya diam sesaat. Mencoba mengumpulkan kekuatan yang tiba-tiba saja membuatnya lemah.

“Hanya kamu yang bisa mengatakan ini pada Aditya. Dia hanya mau mendengarkanmu.”

“Ini berat untuk Naya, Ma.”

“Mama tahu ini berat untukmu, Nak. Maafkan Mama, tapi hanya ini satu-satunya jalan untuk Aditya bisa memiliki keturunannya sendiri.”

Naya mencoba menahan perih di hatinya. Ia berusaha tegar menghadapi keinginan mama mertuanya itu.

“Mama sudah punya calon istri untuk Aditya,” ucap mama semakin membuat Naya sakit.

Sudah begitu bulatkah keputusan mama mertuanya untuk menjodohkan suaminya dengan perempuan lain? Tak pedulikah mama mertuanya dengan perasaan Naya yang harus merelakan suaminya menikah lagi?

Harus berbagi suami dengan perempuan lain? Bermimpi saja sudah membuat hidup Naya serasa hancur, apalagi harus menghadapi kenyataannya. Akan sanggupkah ia menjalaninya?

“Siapa perempuan itu, Ma?” tanya Naya pasrah.

“Dia anak teman Mama. Dia perempuan yang salehah. Tapi, dia sudah janda. Suaminya meninggal karena penyakit jantung.”

“Apakah perempuan itu mau menjadi istri Mas Aditya yang sudah beristri, Ma?”

“Dia sudah bersedia.”

Naya kembali terdiam. Entah alasan apa, sehingga perempuan itu mau untuk menjadi istri kedua suaminya. Naya hanya harus mencari cara untuk mengatakan keinginan mama mertuanya itu pada Aditya.

“Kau harus secepatnya bicarakan hal ini dengan Aditya, Nay,” ucap Mama mendesak.

Naya hanya mengangguk lemah. Ditatapnya wajah mama mertuanya yang tampak sumringah, karena Naya akhirnya mau menyetujui keinginannya untuk mengizinkan Aditya menikah lagi.

Naya mencoba kuat menghadapi kenyataan yang terjadi dalam hidupnya. Semoga ini adalah jalan terbaik bagi rumah tangganya.

Ia akan berusaha belajar ikhlas menerima setiap ketetapan Allah, karena ia yakin, ada makna yang besar di balik setiap apa yang terjadi dalam hidup.

Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa’: 19).

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja