Sang Bidadari (13)

Sang Bidadari (13)

Naya melihat dari dalam mobilnya, perempuan yang tengah menolong seorang ibu tua, yang hendak menyeberang jalan.

Perempuan itu mengenakan kerudung putih yang dililitkan ke lehernya. Wajahnya cantik. Senyumnya terhias indah di bibirnya. Pakaian putih-putih membungkus tubuhnya yang mungil.

Ia tampak tersenyum ketika kedua netranya menoleh ke arah Naya yang tengah memegang setir mobil. Naya hanya membalas dengan senyum seraya menganggukkan kepalanya.

Lampu sudah berganti hijau, tanda mobil sudah boleh berjalan. Naya menginjak gas dan berlalu pelan menyusuri jalanan panjang ibu kota. Sebelum berlalu, ia sempat melihat perempuan tadi masih berbicara dengan ibu tua yang ditolongnya.

Mobil yang dikendarai Naya melaju membelah jalanan yang penuh dengan hilir mudiknya kendaraan. Rasa sesak tiba-tiba menghimpit dadanya. Ia takut dengan apa yang akan dikatakan Dokter Malik nanti.

Sudah beberapa kali Naya memeriksakan kondisi kandungannya. Sudah beberapa pengobatan juga ia jalani selama ini, tapi tak jua kunjung ada kabar baik dari hasil pengobatan yang dijalaninya.

Kali ini ia pasrah dengan apa pun hasilnya nanti. Ia sudah tak berharap lebih jika pada akhirnya hanyalah kekecewaan yang ia dapat.

Apalagi desakan mama mertuanya untuk mengizinkan suminya menikah lagi, membuatnya tak bisa memiliki kesempatan lebih banyak untuk tetap berusaha agar dirinya bisa mengandung.

Tak terasa, mobil Toyota Yaris warna silver milik Naya, sudah memasuki parkiran rumah sakit.

Naya melangkah dengan gontai menuju ruang periksa dokter kandungannya.

Bruuuuk

Tiba-tiba Naya bertabrakan dengan seseorang, saat ia akan berbelok menuju ruang dokter kandungan. Naya meringis karena merasakan ngilu di bagian dadanya.

Perempuan yang bertabrakan dengannya pun tampak meringis. Mereka saling bertatapan sejenak. Naya terkesiap saat ia mengingat wajah cantik itu.

Perempuan yang ia lihat saat berhenti di lampu merah tadi, yang menolong seorang ibu tua menyeberang jalan.

“Maaf, Mbak,” ucap perempuan itu seraya merapikan tumpukan kertas yang jatuh berserakan di lantai.

“Saya juga minta maaf, karena saya sedang buru-buru,” ujar Naya ikut membantu merapikan kertas-kertas dan memberikannya pada perempuan itu.

“Mbak mau periksa atau menjenguk seseorang?” tanyanya setelah merapikan berkas itu.

“Saya mau periksa.”

“Ke bagian mana kalau boleh tahu? Mungkin, nanti bisa saya bantu.”

“Saya sudah janji dengan Dokter Malik, Dokter kandungan saya.”

“Baiklah kalau begitu, saya mohon pamit, mau melanjutkan pekerjaan saya.”

“Silakan.”

Perempuan itu pun melangkah pergi setelah mengulas sebuah senyuman. Naya masih menatap perempuan yang sudah semakin jauh melangkah. Cantik, sopan. Itulah gambaran perempuan yang ternyata seorang suster itu.

**

“Belum ada kemungkinan saya bisa hamil, Dok?” tanya Naya penuh pengharapan, setelah Dokter Malik memeriksa kondisnya.

“Kemungkinan itu selalu ada, Bu Naya. Tapi memang untuk saat ini, kemungkinan untuk Ibu bisa hamil masih sebesar lima persen saja. Sel telur yang Ibu hasilkan belum berhasil dibuahi,” ucap Dokter Malik sembari menuliskan sesuatu di selembar dokumen.

Naya manarik napasnya dalam, lalu membuangnya perlahan.

“Ibu harus tetap bersemangat, jangan putus asa. Saya ingin menyarankan alternatif akhir untuk Ibu bisa mengandung,” ujar Dokter Malik memberi harapan.

“Apa itu, Dok?” tanya Naya penasaran.

“Program bayi tabung.”

Naya terdiam. Memang sering sekali didengarnya mengenai program bayi tabung bagi pasangan yang sulit memiliki anak.

Namun, jika masalahnya mengenai sel telur Naya yang sulit untuk dibuahi, apa masih bisa berhasil dengan program bayi tabung yang disarankan dokter?

Naya hanya tersenyum getir. Ia hanya pasrah dengan apa yang akan dilakukan Dokter Malik. Meski harapan dalam lubuk hati Naya masih selalu ada, tapi ia memang harus bersiap untuk kondisi terburuk.

Jika pada akhirnya, ia harus mengikhlaskan suaminya untuk menikah lagi, dan memiliki anak dari perempuan lain.

“Jika Bu Naya dan Pak Aditya setuju dengan program bayi tabung ini, kita akan memulainya segera.”

“Saya akan bicarakan hal ini dengan suami saya dulu, Dok. Pada dasarnya, kami akan melakukan apa pun agar saya bisa hamil. Semoga hasilnya akan sesuai dengan harapan.”

“Aamiin. Kita tetap berusaha dan berdoa ya, Bu.”

“Terima kasih, Dokter.”

Naya melangkah pelan keluar dari ruangan dokter, setelah selesai berkonsultasi. Saat ini, ia enggan untuk pulang ke rumah. Ia ingin menghindar sejenak dari suaminya.

Tanpa sengaja, Naya melihat lagi sosok perempuan itu di taman, yang letaknya di samping rumah sakit. Ia tengah membujuk seorang anak kecil yang terduduk di kursi roda. Di sisi lainnya, tampak seorang perempuan yang mungkin itu ibu sang anak.

Perempuan cantik itu begitu gigih membujuk anak perempuan yang entah apa masalahnya. Naya memerhatikan perempuan itu. Dia terlihat ramah dan baik hati.

Tengah asyiknya memerhatikan perempuan itu, gawai Naya terdengar melantunkan salah satu salawat, yang dibawakan penyanyi dari grup musik gambus yang tengah naik daun, Nisa Sabyan.

Naya segera melihat gawainya. Tertulis jelas di layar itu, ‘Suamiku’. Naya diam sejenak, ia ragu untuk mengangkat telepon dari suaminya. Rasanya ia belum siap mendapat pertanyaan mengenai hasil pemeriksaannya.

Naya meletakkan kembali gawai dalam tas yang ia selempangkan di pundaknya. Kembali ia melihat ke arah perempuan itu, yang kini sudah tak ada lagi. Bahkan gadis kecil dan ibunya itu pun, sudah tak terlihat di sana.

Naya melangkah pergi. Meninggalkan rumah sakit yang tiba-tiba saja ia merasa bosan berada di dalamnya. Segera ia menuju tempat parkir, masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesinnya, lalu berlalu dari area rumah sakit.

Hanya satu tujuannya, rumah orang tuanya. Sudah cukup lama ia tak bertemu dengan ayah dan bundanya. Selama ini, mereka hanya berkomunikasi lewat telepon atau pesan whatsaap saja.

Naya rindu menyandarkan kepalanya yang terasa berat, oleh beban yang selama ini menghimpit jiwa. Ia ingin merebahkan kepalanya di pangkuan sang bunda. Ia rindu nasihat ayahnya yang mampu menenteramkan hati.

Naya menyesal, selama ini, ia sudah terlalu sibuk mengurusi masalahnya, sehingga ia lupa mengunjungi orang tuanya. Sebulan lamanya ia tak datang menemui ayah dan bunda.

Meski suaminya selalu menyarankan berakhir pekan di rumah orang tua Naya, tapi Naya selalu berkilah. Rasanya ia tak sanggup, menumpahkan kesedihannya di hadapan Ayah dan Bunda. Terlebih lagi, jika itu ia lakukan di depan Aditya.

Namun, kini ia sangat merindukan orang tuanya itu. Ia ingin melabuhkan diri dalam pelukan Ayah dan Bunda, seperti saat ia masih kecil dulu. Jika sudah seperti itu, masalah apa pun akan terasa lebih ringan ia hadapi.

Naya melajukan mobil berlawanan arah dengan rumahnya. Menuju kediaman orang tuanya. Ia hanya mengirimkan pesan singkat lewat whatsaap pada Aditya.

[Maaf, Mas, aku sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tuaku. Tiba-tiba, aku sangat merindukan mereka. Insyaa Allah, sore nanti aku pulang.]

**