Sang Bidadari (16)

Sang Bidadari (16)

Naya menatap wajah suaminya yang tengah menyesap kopi buatannya. Wajah itu masih sama seperti saat pertama ia mengenalnya.

Ketika Naya menemui Aditya di kantornya, ia sempat terpukau dengan ketampanan yang dimiliki suaminya itu.

Itulah pertama kali Naya jatuh cinta. Memiliki debar di dada. Memiliki getar meski hanya melihatnya saja. Rasa itu, yang membuat Naya akhirnya mau menerima lamaran Aditya.

Aditya melirik ke arah Naya yang sedari tadi menatapnya. Ditautkan kedua alis, seraya menatap kembali wajah istri yang sangat dicintainya itu.

“Ada apa kau menatapku seperti itu, Sayang?” tanya Aditya membuyarkan lamunan Naya.

Naya mengulum senyum, kemudian menggelengkan kepalanya.

“kau masih sama seperti pertama kali aku melihatmu, Mas,” ucap Naya tanpa malu-malu.

Aditya menatap lekat wajah istrinya.

“Tak ada yang berubah juga dalam dirimu, Sayang. Bahkan, aku selalu jatuh cinta setiap hari padamu.”

Naya tersipu. Gombalan Aditya mempu membuat jantungnya berdebar kencang.

“Aku beruntung memilikimu dalam hidupku, Mas.”

Aditya mendekati Naya, digenggamnya tangan lembut itu, tatapannya tak berpaling dari wajah cantik istrinya.

“Allah Maha Baik, telah megirimkan bidadari sepertimu dalam hidupku. Aku mencintaimu, Bidadariku.”

Aditya mencium kening Naya dengan penuh kasih. Direngkuhnya tubuh mungiil itu dalam pelukan. Ia seolah tak pernah ingin melepaskan perempuan, yang telah membuat warna-warni dalam hidupnya.

“Mas….”

Naya memanggil Aditya lirih. Ia mencoba mengatakan, apa yang ingin dikatakannya sejak kepergian mama mertunya tadi pagi.

Ia menahan perih di hatinya. Masa indah bersama Aditya, seolah tak pernah ingin berlalu dalam hidup Naya. Tapi ia tahu resiko saat ia sudah memutuskan, untuk menghadirkan perempuan lain dalam rumah tangganya nanti.

Ia harus siap menerima, berbagi suami dengan perempuan lain. Menyaksikan kepahitan demi kepahitan yang akan terjadi kemudian.

Aditya melepas pelukannya. Ditatap kembali wajah Naya dengan heran.

“Adakah sesuatu yang mau kau bicarakan denganku?” tanya Aditya menebak. Ia merasa, Naya tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Ia selalu bisa merasakan itu.

Naya mulai gelisah. Ia takut Aditya tak terima dengan apa yang hendak disampaikannya. Tapi, jika ia tak mencobanya sekarang, tak akan pernah ada waktu untuk siap megatakan kebenarannya.

“Mas, jika aku memang positif mandul, bagaimana?” tanya Naya hati-hati.

Aditya meraih tangan istrinya, kemudian diciumnya tangan itu dengan penuh cinta.

“Apa pun keadaanmu, meskipun kau tak bisa memberikanku seorang anak, tak akan ada yang berubah dengan kita, dengan perasaanku padamu, Sayang.”

“Kau tak ingin mencari istri lain yang bisa memberikanmu anak?”

“Pertanyaan konyol macam apa itu, Sayang? Tak akan pernah aku menduakanmu, apa pun keadannya.”

“Jika aku yang memintamu?”

“Kau rela aku menikah lagi?”

“Aku rela jika itu bisa memberikanmu kebahagiaan, dengan hadirnya seorang anak.”

“Tidak, Sayang. Itu adalah hal yang tak akan pernah aku lakukan. Lagi pula, aku sangat bahagia bersamamu, meski tak ada anak dintara kita.”

“Aku mohon, Mas. Pikirkanlah lagi.”

“Kau yang seharusnya berpikir. Aku sudah menerima apa adanya dirimu, lalu untuk apa lagi ada perempuan lain dalam rumah tangga kita?”

“Aku juga rindu akan kehadiran seorang anak, Mas.”

“Kita bisa mengadopsinya. Kita cari bayi yang baru lahir di panti asuhan. Kita angkat saja bayi itu menjadi anak kita.”

“Aku ingin darah dagingmu, Mas.”

“Cukup, Naya. Kau sudah berpikir terlau jauh.”

“Aku mohon, Mas. Pikirkan lagi saja, jangan kau putuskan sekarang.”

“Untuk berpikir saja aku tak mau, apa lagi memutuskannya. Keputusanku tetap tidak. Aku tidak mau menikah lagi.”

Setelah berkata begitu, Aditya pergi meninggalkan Naya sendiri. Ia heran dengan pemikiran Naya yang tiba-tiba. Entah dari mana pemikiran konyolnya itu. Bagaimana pun, ia tak akan pernah menduakan Naya.

Bulir bening itu mulai jatuh perlahan di pipi Naya. Ia terluka dengan apa yang baru saja dikatakan pada suaminya.

Ia tak pernah ingin mengatakan itu pada Aditya, tapi keadaanlah yang memaksanya. Ia tak bisa menolak keinginan mama mertuanya.

‘Maafkan aku, Mas. Aku pun tak mau ada perempuan lain dalam rumah tangga kita. Tapi ini permintaan mamamu. Aku tak kuasa menolaknya setelah apa yang sudah aku berikan pada orang tuamu.

Aku hanya mampu memberikan penderitaan pada mereka. Semoga kau mau mengerti, jika ini tak hanya tentang kita semata,’ bisik Naya perih.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja