Sang bidadari (14)

Sang Bidadari (14)

Naya menumpahkan tangis di pangkuan sang bunda. Ayahnya tengah pergi ke Bandung untuk urusan bisnis travel mereka.

Naya mencoba menahan kesedihan di depan Bunda. Tapi, ia tak kuasa lagi menutupi perasaannya ketika Bunda menanyakan perihal kandungannya.

Naya menangis tersedu-sedu. Bunda hanya membelai kepala putri tercintanya itu dengan penuh kasih sayang. Dalam hatinya pun menjerit melihat kenyataan, jika putrinya tak bisa memberikan keturunan pada suaminya hingga saat ini.

Apa yang pernah dialaminya dulu, kini harus terulang pada putri yang begitu disayanginya itu. Ia bisa paham, bagaimana rasanya tak bisa memberikan keturunan bagi suaminya. Ia sangat mengerti kepedihan hati Naya saat ini.

Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa, selain mendoakan yang terbaik untuk Naya. Berharap Naya mampu melewati ujian yang tengah Allah berikan padanya, pada rumah tangganya.

“Menangislah sebanyak yang kamu mau, Sayang. Tapi setelah ini, hapuslah air matamu. Berusahalah tegar dan percaya akan ketentuan yang telah ditetapkan Allah kepadamu. Allah memiliki rencana yang indah untukmu di kemudian hari, Nak.”

Naya semakin menumpahkan tangis di pangkuan bundanya, kala sang bunda mengatakan hal itu kepadanya.

Naya selalu membutuhkan kata-kata seperti itu, yang mampu menguatkannya, yang bisa menyemangatinya, yang selalu bisa menerima ia apa adanya.

Hal itu hanya ia dapatkan dari suami dan kedua orang tuanya.

“Naya lelah, Bunda.”

Bunda hanya bisa menangis mendengar ucapan putrinya itu. Sebelum menikah, Naya selalu berlimpah kebahagiaan. Tak pernah ia melihat Naya menangis.

Sejak Naya menjalani biduk rumah tangga bersama Aditya, ia sering meneteskan air mata. Bukan tak bahagia dengan perlakuan suaminya. Tapi, keadaannyalah yang membuat Naya menderita.

Ia tak bisa membahagaiakan suaminya dengan memberikan keturunan. Meskipun Aditya tak pernah sekali pun mempermasalahkan kondisi Naya, justru hal itu yang membuat Naya semakin merasa terluka.

Seharusnya saat ini, ia dan suaminya tengah mereguk masa yang bahagia dengan kehadiran sang buah hati, jika saja kondisi kandungan Naya tidak bermasalah.

Namun, sepertinya hidup Naya harus diuji dengan cobaan, yang ia pun terkadang merasa itu sangatlah berat baginya. Karena seorang perempuan sudah kodratnya melahirkan, dan memiliki anak. Tapi Naya, ia tak bisa seperti itu.

Harapannya sirna seiring penuturan dokter tentang kesehatan dalam rahimnya. Walaupun harapan akan memiliki seorang anak itu selalu diucapkan berulang kali oleh dokter, tapi Naya hanya bisa menanggapinya dingin.

Ia sudah mulai pesimis. Merelakan kenyataan jika ia memang mandul, tak pernah bisa memberikan suaminya seorang anak. Hati Naya hancur mengingat kenyataan itu.

“Tabahlah, Sayang. Ini ujian terberatmu, kau harus mampu menjalani. Itu tandanya, Allah masih sayang padamu. Allah akan menaikkan derajatmu satu saat nanti. Kamu harus yakin akan hal itu, Nak.”

“Naya selalu yakin dengan kasih sayang Allah pada Naya, Bunda. Tapi, Naya tak tahu harus melakukan apa saat ini. Naya tak punya jalan keluar untuk masalah yang tengah Naya hadapi.”

“Berserah dirilah hanya kepada Allah, Sayang. Mintalah pada-Nya jalan keluar terbaik untuk masalahmu. Insyaa Allah, Dia akan memberikan solusinya.”

“Bunda dan Ayah hanya bisa berdoa untuk rumah tanggamu, untuk kebahagiaanmu. Allah lebih tahu kebaikanmu. Bersabarlah, Sayang” lanjut Bunda lirih. Ia masih membelai kepala putrinya denga penuh kasih.

Naya hanya terdiam dalam tangisnya yang sudah melemah. Ia masih belum beranjak dari pangkuan bundanya.

“Ambillah air wudu, kita tunaikan salat Zuhur bersama,” tukas sang bunda menyadarkan Naya.

Naya baru mau beranjak dari pangkuan Bunda. Segera mengambil air wudu, dan menunaikan salat Zuhur berjamaah, dengan sang bunda yang menjadi imamnya.

Naya semakin menangis dalam setiap bacaan salatnya. Di setiap sujudnya, ia khusyuk memohon pertolongan Allah. Dalam doa yang dimunajatkan, ia hanya meminta untuk diberikan kekuatan dan kesabaran.

Naya berharap, Allah akan memberikan jalan keluar terbaik bagi kebahagiaan rumah tangganya.

Dan, sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl : 96).

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja