Sang Bidadari (17)

Sang Bidadari (17)

Naya begitu terkejut saat melihat perempuan yang ia lihat di jalan waktu itu, yang juga ia temui di rumah sakit.

Perempuan cantik dan baik hati itu adalah perempuan yang dipilihkan mama mertuanya untuk menjadi istri Aditya.

Perempuan itu pun tak kalah terkejutnya, ketika tahu jika Naya adalah istri dari lelaki yang dijodohkan dengannya.

Mama Sita mencoba mencairkan suasana dengan mempersilakan Naya dan perempuan itu duduk. Mereka menurut. Selama beberapa saat lamanya, mereka diam dengan pikiran masing-masing.

“Jadi, inilah perempuan yang Mama pilihkan untuk menjadi istri Aditya, Nay,” ujar mama mertuanya mencairkan kebekuan yang tercipta.

“Siapa namamu?” tanya Naya memberanikan diri, menatap perempuan itu. Dingin.

“Viona,” jawab perempuan itu datar.

Ditundukkan kepalanya dari tatapan Naya yang tajam.

“Kalau begitu, biar Mama tinggalkan kalian berdua, agar kalian bisa bebas berbicara dan mengenal satu sama lain ya,” ujar Mama Sita, seraya melangkahkan kakinya menjauh dari mereka.

Hanya tinggal Naya dan perempuan yang bernama Viona itu, duduk saling berhadapan.

“Kau bekerja sebegai perawat?” tanya Naya lagi.

“Iya, Mbak.”

Naya menarik napas dalam, mengembuskannya perlahan, seolah ingin mengeluarkan semua beban yang menghimpit dadanya.

“Perlu kamu tahu satu hal, aku mengizinkan suamiku menikah lagi, semata hanya untuk membahagiakan mama mertuaku yang sangat menginginkan seorang cucu dari suamiku,” ujar Naya mencoba menahan rasa sesak.

Hening sesaat.

“Aku berusaha ikhlas mengizinkan suamiku menikah lagi, meski suamiku belum bersedia untuk memiliki istri lain,” lanjut Naya dingin.

Dalam hatinya ada rasa cemburu yang berlebih. Jika suaminya mau untuk menikah lagi dengan Viona, sungguh hari-harinya akan ia lalui dengan sangat berat.

“Jika bukan karena hutang-hutang almarhum suami saya yang banyak, mungkin saya tak akan menerima permintaan Bu Sita, untuk menikah dengan anaknya yang sudah beristri, Mbak,” ucap Viona sendu.

“Maksudmu?”

“Almarhum suami saya memiliki hutang yang banyak pada lintah darat, yang tentunya tak mampu saya bayar, ibu saya pun menyerah. Almarhum suami saya tak memiliki sanak keluarga, hanya saya dan ibu yang ia punya.”

Diam sesaat. Tampak Viona menarik dalam napasnya.

“Bu Sita yang merupakan teman lama ibu saya memberikan syarat, jika ia bisa melunasi hutang almarhum suami saya, maka saya harus mau menikah dengan putranya yang sudah beristri,” katanya dengan nada sedih.

“Lalu?”

Naya penasaran dengan kejujuran perempuan itu.

“Pada awalnya saya menolak, Mbak. Saya tak mau menjadi perusak rumah tangga orang. Saya juga perempuan, tentunya tak rela jika suami saya menikah lagi. Tapi, lintah darat itu bersikap kasar pada kami, mereka bahkan hampir menyita rumah kami.”

Viona menghentikan ceritanya. Ia menundukkan kepalanya. Ada air menggenang di kedua netranya. Tapi segera ia hapus agar tak menetes.

“Ibu saya yang tak tega dengan penderitaan saya, akhirnya menyetujui tawaran Bu Sita dan memaksa saya untuk ikut menyetujuinya pula. Setelah Bu Sita bilang, jika istri putranya pun setuju untuk suaminya menikah lagi, dengan terpaksa saya pun menyetujui tawaran dari Bu Sita. Saya minta maaf, Mbak.”

Naya tahu Viona orang yang baik. Ia tak mungkin dengan sengaja ingin menyakiti orang lain, apa lagi merusak rumah tangga orang. Hal itu bisa Naya lihat sebelum pertemuan ini.

Keadaanlah yang memaksanya untuk menerima menjadi istri kedua, dan Naya tampak simpati pada Viona.

“Jika Mbak Naya keberatan, saya akan mundur sekarang, Mbak.”

Naya menggeleng.

“Aku harap kau ikhlas menerima kenyataan, menjadi istri kedua bagi suamiku, seperti aku pun ikhlas menerima suamiku menikah lagi,” ucap Naya berusaha tegar.

“Saya juga berharap, semoga Mbak Naya mau memaafkan saya dengan ikhlas,” katanya memohon.

“Tak ada yang perlu dimaafkan. Kita sama-sama sedang belajar menjalani takdir yang sudah ditentukan untuk kita. Aku harap, kau bisa menerima kenyataan ini. Sementara itu, aku akan berusaha membujuk suamiku agar mau menikah denganmu.”

“Saya malu, Mbak. Saya seperti pelakor bagi rumah tangga Mbak Naya.”

“Tidak, Viona. Kau buka pelakor. Kau datang dalam kehidupan kami karena diundang, diinginkan oleh mama mertuaku.”

“Jika bukan karena keinginan Bu Sita, Mbak Naya tak akan pernah menginginkan saya ‘kan?”

“Aku tak perlu menjawab hal itu, yang terpenting sekarang, siapkan dirimu jika suamiku sudah mau menerimamu menjadi istrinya,” ucap Naya getir.

Viona hanya mengangguk lemah. Ada kekhawatiran di wajahnya. Sementara Naya pun tengah memikirkan cara untuk bisa membujuk suaminya, agar mau menikah dengan Viona.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja