Sang Bidadari (18)

Sang Bidadari (18)

Naya masih berusaha membujuk Aditya, agar mau menikah lagi dengan perempuan pilihannya.

“Apa kau sadar dengan keinginanmu itu, menyuruh suamimu untuk menikah lagi?”

Aditya tampak emosi mendengar keinginan Naya, yang memaksanya untuk menikah lagi. Nada bicaranya mulai meninggi.

Seumur hidup berumah tangga dengan Naya, baru kali ini Aditya berkata dengan nada tinggi seperti itu pada istrinya. Ia merasa tak suka dengan sikap Naya yang terkesan memaksanya untuk mau menikah lagi.

Aditya tak mungkin menghianati pernikahan yang sudah membuatnya sangat bahagia itu. Baginya, hanya ada Naya dan dirinya saja itu sudah lebih dari cukup. Ia tak akan mengizinkan perempuan lain untuk hadir di tengah-tengah mereka. Aditya tak menginginkan itu.

“Aku sadar sepenuhnya, Mas. Aku ingin kau memiliki keturunan langsung dari benihmu,” ucap Naya tak mau kalah.

“Kalau aku tetap tidak mau, bagaimana?”

Naya bersimpuh di bawah kaki Aditya, yang masih berdiri menahan emosi.

“Kalau kau tetap dengan keputusanmu, ceraikan saja aku, Mas.”

Aditya terkejut dengan perkataan Naya. Seumur hidupnya, tak pernah terpikirkan jika istrinya akan mengatakan itu.

“Istigfar, Sayang. Aku tak akan pernah menceraikanmu,” ucap Aditya meraih tangan Naya dan memapahnya untuk duduk di kursi.

Ditatapnya wajah yang sudah bersimbah air mata itu. Wajah yang tampak kelelahan dan pasrah. Aditya mencoba menatap ke dalam mata Naya yang mulai sembab. Ia bisa menemukan luka di sana.

“Kau membuatku dalam situasi yang sulit, Nay,” ucap Aditya masih menatap wajah istrinya.

“Aku akan mempermudahnya, Mas. Kau tinggal menyetujui saja keinginanku itu. Menikahlah dengan perempuan pilihanku. Aku mohon.”

“Kau pikir pernikahan itu seperti sebuah permainan, yang bisa kau mainkan sesuka hatimu. Aku bukan bonekamu,” ucap Aditya frustasi.

“Maafkan aku, Mas. Aku melakukan ini bukan hanya untuk kita, tapi untuk orang tuamu juga, yang sangat menginginkan cucu dari benihmu sendiri.”

“Apa Mama yang memintamu melakukan ini?”

“Tidak, Mas. Aku yang menginginkannya, dan Mama menyetujuinya.

“Astagfirullah. Kalian adalah dua perempuan yang aku cintai dalam hidupku. Tega melakukan ini padaku?”

Aditya bangkit dan mengacak rambutnya asal. Ia melangkah mendekati jendela yang terhubung ke teras belakang.

“Aku mohon maafkan aku, Mas. Ini sangat sulit juga bagiku. Aku harus menguatkan hati sebelum memutuskan untuk mengizinkanmu menikah lagi,” ujar Naya sembari berdiri.

Ingin Naya memeluk Aditya yang membelakanginya. Ia pun rasanya sudah tak kuat lagi menahan perasaan yang bergejolak dalam hatinya.

Namun ia harus bisa membujuk suaminya, meski rasa sakit itu kian membuncah memenuhi seluruh rongga di tubuhnya.

“Aku masih tak habis pikir dengan caramu ini. Sungguh kau ingin menodai pernikahan kita, Nay. Maaf, kali ini, aku tak bisa mengabulkan keinginanmu itu.”

“Maafkan aku, Mas.”

Setalah berkata begitu, Naya tak bisa menopang tubuhnya yang semakin melemah. Ia merasa semuanya menjadi gelap dalam pandangan.

Naya jatuh tak sadarkan diri, tepat di balik punggung suaminya. Aditya menoleh dan mendapati istrinya sudah tergolek di lantai. Aditya panik melihat keadaan Naya. Segera ia membawa istrinya ke rumah sakit.

**

“Ibu Naya mengalami depresi. Ia pun tampak kelelahan. Sepertinya, ia memikul beban yang mungkin selama ini ia tahan sendiri. Saya harap, Anda sebagai suaminya memperhatikan masalah ini. Karena jika beban itu terus bertambah, akan berdampak buruk bagi kesehatan jiwanya.”

Ucapan dokter yang memeriksa Naya mampu membuat Aditya bungkam. Ia tak menyangka, jika selama ini istrinya memikul beban yang sangat berat, hingga membuatnya depresi.

Ia telah salah menilai Naya yang dipikirnya baik-baik saja. Ia menyesal membiarkan istri yang sangat dicintainya itu terluka sendirian.

Aditya mendekati istrinya yang tengah terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, tubuhnya pun sedikit kurus. Ia baru memperhatikan hal itu sekarang.

Diraihnya tangan Naya, lalu dikecupnya dengan penuh kasih sayang. Aditya meneteskan air mata.

“Maaaas…,” panggil Naya pelan.

Dilihat suaminya yang tengah duduk di sisi pembaringan, menggenggam tangannya.

“Sayang, bagaimana keadaanmu? Kau baik-baik saja ‘kan?” tanya Aditya khawatir.

Naya tersenyum. Ditatapnya lekat wajah suaminya itu.

“Aku baik-baik saja, Mas,” ucap Naya lemah.

“Kau ini kenapa, Sayang? Apa yang kau pikirkan sehingga membuatmu jadi seperti ini?”

“Aku hanya memikirkan, bagaimana caranya agar aku bisa meyakinkanmu untuk mau menikah lagi.”

Aditya terdiam. Ia menarik napas perlahan, lalu mengembuskannya kasar.

“Beri aku waktu untuk memikirkan keinganmu itu. Sementara ini, fokuslah pada kesehatanmu dulu,” ujar Aditya mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Mas janji akan mempertimbangkan permintaanku itu?”

Aditya mengangguk pasrah.

Lagi-lagi, Aditya tak bisa menolak permintaan Naya. Meski untuk kali ini, permintaannya itu sungguh sangat sulit, tapi ia mencoba untuk mempertimbangkannya.

Hal itu ia lakukan, semata hanya untuk Naya. Ia tak ingin semakin memperburuk keadaan mental istrinya. Saat ini, Naya tengah tertekan dengan keadaan. Ia tak mau membuat kondisinya semakin parah.

Rasa cinta dan kasihnya untuk Naya, tak bisa ia tukar dengan apa pun. Jika permintaan Naya akan membuatnya bahagia, sekuat hati ia akan menerima itu.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja