Sang Bidadari (19)

Sang Bidadari (19)

Berhari-hari, Aditya memikirkan permintaan Naya yang menginginkannya untuk menerima perempuan, yang sudah dipilihkan untuk menjadi istrinya.

Di satu sisi, ia ingin sekali membuang jauh pikiran Naya yang menginginkannya untuk menikah lagi, tapi di sisi lain, ia tak ingin menambah beban istri yang sangat dicintai itu dengan penolakannya.

Aditya sebenarnya bimbang. Ia tak ingin menerima perempuan lain dalam hidupnya, jika saja Naya tak memaksa.

Bagi Aditya, Naya adalah satu-satunya perempuan yang dicintai seumur hidupnya. Tak akan pernah tergantikan, sebaik dan secantik apa pun perempuan itu.

Namun ia pun tak kuasa menolak permintaan Naya. Aditya takut, jika ia bersikeras dengan pendiriannya, hal itu akan semakin memperburuk keadaan Naya. Dan ia tak menginginkan itu terjadi.

Ia tak mau kehilangan Naya. Dengan berat hati, ia akan menerima permintaan istrinya itu.

“Aku akan menerima permintaanmu itu, Sayang,” ucap Aditya saat mereka selesai sarapan.

“Kau mau menikah lagi, Mas?” tanya Naya meyakinkan dirinya.

“Ya,” jawab Aditya singkat. Ditelannya rasa perih yang tiba-tiba datang.

Naya tersenyum, meraih tangan Aditya, lalu menggenggamnya.

“Terima kasih, Mas.”

Aditya tersenyum getir. Ia berharap, ini adalah keputusannya yang benar. Ia hanya ingin membuat istrinya bahagia.

“Jika keputusanku ini bisa membuatmu bahagia, aku ikhlas menerimanya,” ucap Aditya seraya menatap sisa nasi goreng di piring.

Tatapannya terlihat kosong. Ia merasa harga dirinya sebagai seorang lelaki telah tercabik-cabik. Tapi sebagai suami, ia selalu ingin membuat istrinya bahagia. Meski untuk itu, harus ada pengorbanan yang dibayar mahal.

Aditya hanya berharap, keputusannya kali ini, ada dalam rida-Nya. Ia tak ingin Allah murka, karena telah salah memilih.

Naya menatap Aditya dengan tatapan terluka. Ia tahu, Aditya tak pernah menginginkan untuk menikah lagi. Tapi, ia pun tak bisa mundur.

Keinginan mama mertua, seolah mejadi sebuah titah yang wajib dijalankan. Ia tak bisa menolak, walau sakitnya berdarah-darah. Meski kini, ia harus melukai perasaan suami yang dicintainya.

Naya pun berharap, keputusannya ini benar. Ia sudah memantapkan hati, untuk menerima suaminya menikahi perempuan lain.

**

Suasana pagi begitu cerah. Burung-burung saling bersahutan mewarnai indahnya bumi. Matahari bersinar dengan sempurna.

Jam dinding sudah menunjukkan angka tujuh lewat empat puluh menit. Tinggal dua puluh menit lagi, babak kehidupan Naya yang baru akan dimulai.

Beberapa menit lagi, akan ada perempuan lain dalam hidup suaminya. Dalam kehidupan rumah tangga Naya dan Aditya. Naya menangis perih mengingat itu semua.

Air yang merembes dari kedua netranya, tak mampu membuat reda sakit di dalam hatinya. Jiwanya telah hancur, ketika ia memutuskan untuk perempuan lain hadir dalam kehidupan rumah tangganya. Ia merasa telah gagal sebagai seorang istri.

Naya menjerit dalam hatinya. Menelungkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya yang telah basah.

“Sayang….”

Panggilan yang sudah tak asing lagi di telinga Naya itu, terdengar begitu dekat. Ia membuka kedua tangannya perlahan. Telah berdiri tepat di hadapannya, sosok lelaki yang begitu dicintai, Aditya. Dengan pakaian jas pengantin lengkap berwarna abu-abu.

“Maaaas…,” panggil Naya langsung menghambur di dada bidang suaminya. Ia benamkan wajahnya dalam pelukan hangat yang selalu dirindukannya.

“Kalau kau berubah pikiran, aku mau membatalkannya,” ucap Aditya berbisik.

“Tidak, Mas. Viona sudah menunggumu di sana. Pergilah, aku menunggumu di sini,” ucap Naya seraya menatap suaminya.

“Bahkan disaat-saat terakhir seperti ini, kau masih saja tetap keras kepala.”

“Aku mohon, Mas,”

“Kau hanya perlu ingat satu hal, Sayang. Bagiku, seumur hidupku, aku hanya mencintaimu.”

“Aku percaya, Mas. Aku pun akan selalu mencintaimu.”

Aditya mengecup kening istrinya, lalu ia melangkah pergi, meninggalkan Naya sendiri.

Naya menatap punggung suaminya, yang kian lama, kian menghilang dari pandangannya.

‘Yaa Allah, Yaa Illahi Rabbi, kuatkanlah aku menghadapi ujian ini,’ ratapnya dalam hati.

Dari kejauhan, tampak Ayah dan Bunda Naya, tengah memandang pilu putri tunggalnya itu.

Mereka yakin, saat ini Naya tengah terluka dalam. Menanti suaminya yang tengah mengucapkan ijab qabul bersama perempuan lain.

Namun, itu semua keinginan Naya sendiri. Ia harus bisa mempertanggung jawabkan keputusannya.

Ayah dan Bunda hanya bisa berdoa, agar putrinya itu selalu tabah dan sabar, menjalani setiap takdir yang Allah berikan.

Mereka percaya, jika Naya mampu melewati semua ujian-Nya, Allah akan meningkatkan derajat yang lebih tinggi untuk putrinya itu. Tidak di dunia, kelak pasti akan dapat balasannya di akhirat.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah : 286).

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja