Sang Bidadari (2)

Sang Bidadari 2

Naya disambut dengan hangat oleh sekretaris Aditya. Ia dituntun masuk menuju sebuah ruangan yang berukuran cukup besar. Tampak tulisan di depan pintu, “CEO”.

Naya mencoba menata perasaannya yang mulai tak menentu. Meski sering kali ia berhadapan dengan relasi bisnis ayahnya, tapi ini pertama kalinya ia menghadap seorang pimpinan perusahaan, sekaligus pengusaha sukses yang hendak dilobinya untuk menjadi pembicara.

Tampak sosok seorang lelaki tengah berdiri tegap menghadap jendela.

“Maaf Pak, Bu Kanaya sudah datang,” ucap sekretaris Aditya memberitahu.

Lelaki itu membalikkan badannya. Naya terkesiap. Ketampanan lelaki itu mampu meluruhkan hatinya sebagai perempuan biasa.

Naya menundukkan pandangannya. Beristigfar sebanyak mungkin agar ia tak terbuai dengan pesona lelaki muda itu.

Postur tubuhnya tinggi tegap, tatanan rambutnya terlihat rapi dengan gaya pompadour, wajahnya yang khas turki kian menarik, dibalut dengan sikap dinginnya.

Rupa fisiknya yang sempurna, dilengkapi dengan setelan jas lengkap semakin menambah ketampanannya. Naya tak kuasa menatap lelaki itu lebih lama.

“Tinggalkan kami berdua,” ucap suara bariton itu pada sekretarisnya.

Sang sekretaris pun memohon diri dan berlalu pergi. Tinggal mereka berdua di ruangan yang didesain dengan nuansa mewah minimalis itu.

Naya semakin salah tingkah, tapi ia mencoba mengendalikan diri dan bersikap seolah tak terjadi apa-apa dalam hatinya.

“Silakan duduk,” ucap Aditya seraya mengisyaratkan tangannya pada kursi sofa yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Naya mengikuti langkah Aditya. Ia duduk tepat di hadapan lelaki yang masih terlihat dingin itu.

“Saya tak menyangka, jika ibu dosen Kanaya Zivana ternyata secantik ini,” puji Aditya membuat Naya tersipu.

“Sebentar, saya pesankan dulu minuman untuk Anda,” katanya, hendak berdiri.

“Tak usah repot-repot, Pak, kebetulan, saya sedang puasa,” ucap Naya segera.

“Oh, maaf,” ucap Aditya menyesal.

Naya hanya membalas dengan senyuman.

“Anda dosen Pendidikan Agama Islam?” tanya Aditya seraya menata posisi duduknya, mulai serius.

Naya mengiyakan sembari mengangguk.

“Saya salut, di usia muda, Anda sudah menjadi dosen.”

“Justru saya yang salut pada Anda, di usia muda seperti ini sudah menjadi pengusaha sukses, bahkan bukan di satu bidang saja, tapi di beberapa bidang sekaligus.”

“Saya menjalani proses yang panjang untuk sampai di sini. Kebetulan, kalau perusahaan properti dan hotel adalah milik Ayah saya, jadi tinggal dilanjutkan saja,” ucapnya merendah.

“Anda benar-benar contoh nyata bagi generasi muda untuk bisa sesukses Anda sekarang.”

“Proses untuk sampai di sini, itu yang harus menjadi kuncinya.”

“Ya, itu saya setuju.”

“Jadi, apa yang bisa saya bantu, Bu Kanaya?” tanya Aditya langsung ke pokok permasalahannya.

Naya menggeser posisi duduknya. Mencoba menata senyaman mungkin agar ia leluasa untuk berbicara.

“Seperti yang sudah disampaikan dalam e-mail yang dikirimkan minggu lalu, kampus kami hendak mengadakan seminar bisnis berbasis islam. Maka dari itu, kami meminta Pak Aditya untuk menjadi salah satu pembicara kami, melihat Bapak sebagai pengusaha muda yang sukses dan selalu mengingatkan akan kunci kesuksesan itu terletak pada sedekah.”

“Saya hanya menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Bukankah sudah jelas dalam Al-Qur’an, bahwa sebagian dari harta yang kita punya, terdapat hak anak yatim dan duafa.”

“Saya kagum dengan pemikiran Anda. Memang Allah akan menjamin bagi setiap hamba-Nya yang senantiasa bersedekah, dengan balasan yang berlipat ganda.”

“Saya hanya berpedoman pada keyakinan itu, karena saya sendiri sudah merasakan manfaatnya yang luar biasa.”

“Saya juga yakin, jika kita hanya berpedoman pada Al-Qur’an dan hadits, niscaya tak akan pernah kita merasa kekurangan.”

“Sepertinya Anda paham betul tentang Al-Qur’an dan hadits ya?”

“Saya sedang belajar sedikit demi sedikit, Pak. Kebetulan sejak kecil, orang tua saya sudah terbiasa mengajarkan tentang Al-Qur’an beserta pemahamannya. Dan hal itu, yang selalu menjadi pedoman saya dalam menjalani hidup.”

“Luar biasa. Ayah saya juga pernah bilang, jika kita hidup berpedoman pada ayat suci Al-Qur’an, maka niscaya hidup kita akan selalu dalam ketenangan.”

“Itu betul sekali, Pak.”

“Sepertinya, lain waktu kita bisa banyak membahas mengenai hal ini ya, Bu Kanaya?”

“Insyaa Allah.”

Hening selama beberapa saat. Aditya tampak memerhatikan Kanaya. Pandangan mereka bertemu, tatapan mereka terpaku sesaat, kemudian terurai dengan senyuman.

“Jadi, bagaimana dengan permintaan kami itu, Pak?” tanya Kanaya memberanikan diri, memulai kembali obrolan yang sempat tertunda.

“Jika penanggung jawabnya seperti Bu Kanaya, maka tak ada alasan untuk saya menolak menjadi pembicara dalam seminar yang diadakan kampus Anda. Saya bersedia.”

Kanaya tersenyum puas.

“Terima kasih banyak, Pak Aditya.”

“Sama-sama, Bu Kanaya,” balas Aditya ikut tersenyum.

Setelah tak ada lagi yang dibicarakan, Naya mohon pamit. Aditya mengantar Naya hingga ke parkiran, tapi Naya menolak diantar oleh sopir pribadi Aditya.

Tanpa memakasa, Aditya mengantarkan Naya hingga naik ke dalam taxi.

**

Wajah tampan yang memikat, gaya bicara yang luwes dan kharisma yang memesona dari lelaki berusia tiga puluh tahun itu, telah memukau seluruh mahasiswa yang menghadiri seminar bisnis pagi itu.

Tampaknya, seluruh mahasiswa perempuan, begitu terpesona dengan ketampanan dan kemapanan yang dimiliki Aditya. Ia adalah sosok lelaki idaman setiap perempuan. Saleh, tampan, kaya, berpendidikan, pemilik perusahaan ternama dan berkharisma, merupakan kesempurnaan yang jarang dimiliki seorang lelaki.

Bahkan, mahasiswa laki-laki pun begitu mengagumi Aditya dengan kesempurnaannya itu. Aditya hanya tersenyum kecil menanggapi kekaguman para mahasiswa di sesi coffee break.

Naya pun diam-diam mengagumi lelaki itu. Tapi ia tak ingin terlalu banyak berharap. Sebagai seorang perempuan biasa, Naya menyadari, dirinya mungkin tak begitu berarti di mata Aditya yang seorang pengusaha sukses. Begitu banyak perempuan yang pastinya sudah mengantri untuk menjadi pusat perhatian lelaki yang ternyata pandai mengaji itu.

Naya hanya berupaya untuk terlihat baik sebagai seorang perempuan yang menjaga martabatnya di depan Aditya. Ia tak mau terlihat salah tingkah meski hatinya bergetar hebat kala di dekat Aditya. Ia tak ingin tampak gugup meski kakinya tiba-tiba menjadi lemas saat bersama lelaki itu.

Aditya memang sepertinya lelaki yang tak begitu suka dipuja. Ia lebih terlihat dingin. Mungkin itulah yang membuat para perempuan semakin mengaguminya. Lelaki sempurna nan bersahaja. Tak pernah menyombongkan apa yang sudah dicapai dan dimilikinya saat ini.

Naya melepas kepergian Aditya dengan senyum manisnya. Acara seminar telah berakhir siang itu. Dengan mobilnya, Aditya meninggalkan Naya tanpa basa-basi. Lelaki itu tampak terburu-buru untuk menghadiri rapat dengan rekan bisnisnya selepas Zuhur.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja