Sang Bidadari (25)

Sang Bidadari (25)

Suasana telah berbeda kini. Hati manusia bisa berubah seiring waktu dan keadaan. Begitu pun dengan Aditya. Sejak kelahiran putrinya, ia lebih sering mendatangi rumah Viona hanya untuk menemui Naura, putri kecil mereka.

Aditya tak ragu lagi untuk datang ke sana. Bahkan tanpa mengajak Naya, ia akan mampir sepulang dari kantor.

Tanpa disengaja, Naya beberapa kali melihat itu. Setiap hari, ia berniat datang ke rumah Viona. Memastikan keadaan Viona dan bayinya baik-baik saja. Tapi, ia tak sampai ke rumah itu, karena melihat Aditya sudah ada di sana.

Naya tak ingin mengganggu suasana bahagia mereka. Meski ingin sekali ia melihat bayi mungil nan jelita, dan menggendongnya, tapi Naya menahan semua itu. Biarlah, ia yang mengalah, agar Aditya merasa leluasa, tanpa harus tak enak hati karena dirinya.

Aditya pun tak pernah bilang akan kedatangannya melihat Naura, mungkin karena ia tak ingin membuat hati Naya terluka.

Naya merasa kesepian akhir-akhir ini. Setelah kelahiran Naura, Aditya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Viona. Dengan alasan banyak pekerjaan di kantor, ia hampir setiap hari pulang setelah magrib.

Hati Naya cemburu.

Mungkinkah, Aditya kini sudah memiliki perasaan cinta untuk Viona, seiring ia lebih banyak menghabiskan waktu di sana dari pada sebelumnya? Apakah kehadiran Naura bisa mempererat hubungan diantara keduanya? Naya gelisah.

Bukankah itu semua keinginan Naya juga? Membuat Aditya bisa menerima Viona, bukan hanya sekadar sebagai ibu dari anaknya, tapi juga sebagai istri.

Naya mulai gusar. Jika itu semua benar adanya, mungkinkah posisinya di hati Aditya akan berubah juga? Bukankah Allah Maha membolak-balikkan hati seseorang? Bisa saja, perasaan suaminya kini berubah untuk Viona, juga dirinya.

Naya beristigfar. Memikirkan itu semua membuatnya berprasangka buruk. Bukan hanya pada suaminya, tapi pada Sang Pemilik Hati yang sesungguhnya. Naya mencoba membuang jauh pikiran-pikiran yang sudah dirasuki bisikan setan.

Segera ia mengambil air wudu, dan menunaikan salat sunah empat rakaat sebelum salat asar. Ia berharap, akan lebih tenang setelah melaksanakan salat.

Tak ada yang lebih indah di dunia ini, selain bahagia. Entah itu ketika menemukan cinta, bisa berbagi dengan orang lain atau mendapatkan sesuatu yang diinginkan. Karena Allah sudah bisa menakar kadar kebahagiaan kita menurut perhitungan-Nya.

Allah akan adil memberikan kebahagiaan dan kesedihan dengan kapasitas yang sama, bagi setiap hamba-Nya. Tergantung sejauh mana, kita bisa memaknai di saat kesedihan itu datang. Begitu pun sama halnya saat kebagaiaan menyapa.

Ketika kesedihan dan kebahagiaan datang, keduanya adalah ujian yang sama, meski maknanya berbeda.

Kita tak pernah tahu, jalan seperti apa yang akan kita tempuh selama ruh belum tercabut dari raganya. Tapi Allah sudah tuliskan itu semua dalam catatan hidup kita. Jadi, sudah semestinya kita tak perlu risau akan setiap ketetapan yang Allah sudah tentukan itu.

Sebagai hamba-Nya yang beriman, kita selayaknya bisa bersabar dalam setiap ujian, bisa ikhlas mejalani setiap apa yang ditakdirkan-Nya, dan bertawakal hanya kepada-Nya.

Jika semua itu bisa kita lalui dengan sebaik-baik hamba yang hanya berserah diri kepada-Nya, niscaya hidup akan lebih tenang. Akan merasakan bahagia dalam setiap derita dan bisa tersenyum dalam setiap luka.

Sulit memang. Sebagai manusia biasa yang memiliki hawa nafsu, sudah pasti banyak keinginan dan harapan yang terkadang di luar batas kemampuannya. Meskipun, tak ada yang tak mungkin bagi-Nya, tapi kembali lagi, Allah sudah tahu kadar bahagia untuk kita rasa.

Kita sebagai manusia hanya bisa berencana, merancang hidup yang menurut kita itu baik, tapi Allah lebih tahu segalanya untuk kebaikan kita. Jadi, tak perlu berpikir berlebihan akan hidup kita nanti.

Jalani saja kewajiban kita sebagai hamba yang beriman. Menjalankan setiap perintah-nya dan menjadi pribadi yang saleh. Kejarlah akhirat sebanyak-banyaknya, niscaya dunia akan mengikuti.

Karena sesungguhnya, bahagia yang benar-benar nyata adalah di akhirat. Hidup yang benar-benar kekal adalah kehidupan di akhirat.

“Wahai kaumku, ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepada kalian jalan petunjuk. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (yang semu), dan sesungguhnya akhirat itulah tempat menetap yang sebenarnya.” (QS. Ghafir : 38-39).

Naya menangis tersedu-sedu di atas sajadah selepas menunaikan salat ashar. Sebagai hamba-Nya yang hanya ingin mencium wangi surga, masih jauh dari apa yang sudah jelas-jelas diperintahkan Rabbnya.

Ia terlalu lalai, hanya memikirkan duniawi yang hanya persinggahan semata. Merisaukan perasaan sakit dan cemburu berlebihan yang menguasai hatinya. Padahal, jika ia ikhlas menjalani kehidupannya kini, ia akan lebih dekat menuju surga yang diharapkan-Nya.

‘Ampuni hamba-Mu yang hina ini, Yaa Rabb. Bantu hamba untuk selalu bisa ikhlas menerima setiap ketetapan-Mu. Karena sesungguhnya, hamba hanya mencari rida-Mu, hanya mengharap surga-Mu,’ bisik Naya lirih.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja