Sang Bidadari (26)

Sang Bidadari (26)

Naura menggeliat dalam gendongan Aditya. Lelaki itu masih belum percaya, kini ia sudah memiliki seorang bayi perempuan yang cantik jelita. Viona terlihat bahagia melihat kedekatan ayah dan anaknya.

Viona tak menyangka, ternyata hubungan darah itu begitu kuat, hingga bisa mengubah Aditya yang dingin menjadi hangat. Hubungan dengan dirinya pun tak seperti dulu lagi.

Apalagi, Mama Sita yang juga sering datang berkunjung untuk menemui Naura, sering memberikan wejangan sebagai orang tua baru pada Viona dan Aditya. Mereka tampak seperti keluarga utuh yang berlimpah kasih sayang.

Kesabaran Viona selama ini, perlahan mulai menampakkan hasil. Aditya mulai perhatian dan menunjukkan kasih sayangnya. Kehadiran Naura telah membuat semuanya berbeda.

Bahagia untuk Naura, coba dirasakan pula oleh Naya. Meski cinta Aditya tak pernah berubah untuknya, tapi sikapnya berbeda kini. Naya tahu sebabnya, dan ia tak marah, tak juga kecewa.

Naya mencoba mengikhlaskan apa yang sudah jadi kehendak-Nya. Ia tahu, Allah tengah mengujinya, Allah ingin meningkatkan derajatnya, Allah sangat menyayanginya.

Tak mengapa kesedihan itu datang. Ia yang akan memberikan pelajaran tentang arti kebahagiaan. Jika cinta itu diuji untuk semakin dikuatkan, tak ada kata lelah untuk siap menghadapi segala resikonya, karena sejatinya cinta adalah kepunyaan-Nya.

Biarlah Dia yang menentukan, apakah kita layak memiliki cinta itu, hingga surga menyambutnya dengan suka cita, ataukah akan berhenti hingga waktu yang sudah ditentukan?

Cinta datang dan pergi itu sudah biasa. Sebagai manusia, sudah pasti kita meninggalkan atau ditinggalkan. Tak ada yang abadi di dunia ini. Semua akan kembali, karena kita adalah kepunyaan-Nya.

Entah itu kita mencintai dengan begitu kuatnya, atau hanya sekadar memilikinya saja, itu akan berlalu ketika Allah sudah memanggil untuk pulang. Meski cinta di hati selalu ada, tapi hidup harus tetap berjalan.

Jadi, pantaskah kita memuja sebegitu hebat kepada selain Allah? Menyanjung sebegitu kuat kepada manusia? Memiliki cinta sebegitu besar melebihi cinta kepada Rabbnya?

Mencintai karena Allah, begitu luas maknanya, dan telah menanti kursi Yakut (permata) yang berada dalam singgasana Arsy yang dikelilingi oleh para malaikat bagi siapa saja yang saling mencintai karena-Nya.

“Orang-orang yang saling mencinta karena Allah, mereka berada pada kursi-kursi Yaqut (permata) di sekitar Arsy.” (HR. Ath-Thobroni dalam Al-Mu’jam Al-Kabir).

“Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arsy Rabbmu di atas (kepala) mereka.” (QS Al-Haaqah [69] : 17).

Begitu mulianya bisa mencintai karena Allah. Harapan setiap kekasih halal untuk bisa mendapatkan itu. Tentunya dengan dasar keimanan, bahwa semua yang kita lakukan hanya karena Allah semata. Begitu pun mencintai pasangan halal kita, yang juga mencintai Rabbnya.

Sungguh indah jika demikian adanya. Karena sejatinya cinta adalah mencintai Sang Maha Pemilik Cinta. Tak ada yang kekal dan abadi selain dari pada itu. Akan ia dapatkan cinta yang sebenar-benarnya kepunyaan-Nya.

Naya pun tengah memaknai itu. Sejak awal jatuh cinta pada Aditya, suaminya, ia ingin menumbuhkan cinta itu atas rida-Nya. Begitu pun ia berharap, Aditya akan mencintai karena Rabbnya.

Laki-laki yang baik hanya untuk perempuan yang baik (An-Nur ayat 26).

Naya percaya, Aditya ditakdirkan menjadi jodohnya karena iman pada Yang Maha Kuasa. Sebagai imam dalam keluarga, Aditya menjalankan kewajibannya dengan baik.

Membimbing dan menuntun istrinya untuk tetap istiqomah di jalan Allah, begitu pun sebaliknya. Sebagai seorang istri, Naya selalu mengingatkan suaminya akan tugas dan tanggung jawabnya. Kasih sayang dan cinta diantara mereka tak pernah ternodai.

Hingga pada saat Naya meminta suaminya untuk menikah lagi. Meski tak ada larangan bagi seorang lelaki memiliki istri lebih dari satu, tapi tetap saja, hati perempuan mana yang tak terluka dan merasa cemburu.

Bahkan Sayyidah Aisyah pun begitu cemburu kepada Sayyidah Siti Khadijah, ketika Rasulullah menyebutkan nama istri pertamanya itu, (diriwayatkan Bukhari dan Muslim).

Apalagi Naya yang hanya manusia biasa. Maka, rasa cemburu itu manusiawi. Tentunya, selama tidak menimbulkan sifat yang berlebihan, sehingga merusak makna cinta yang sebenarnya.

Begitu rasa cemburu itu menyelimuti setiap hamba. Seperti halnya cemburu Naya pada suaminya yang kini hubungannya semakin dekat dengan Viona dan juga anak mereka.

Naya hanya bisa berdoa, agar ia bisa ikhlas melihat kebahagiaan yang baru direguk Aditya dan Viona.

Ia percaya, apa yang sudah digariskan untuk hidupnya, adalah kehendak yang terbaik. Kebahagiaannya takkan terampas begitu saja. Meski kini, tak hanya tentang Naya dan Aditya, tapi itulah hidup, selalu penuh warna.

Semua itu akan indah, bila kita bisa memaknainya dengan indah pula. Tak mudah memang. Namun, perlahan tapi pasti, akan ada masa di mana kita terjatuh pada suatu kesakitan yang menghempas hidup kita ke jurang terdalam, dan saat kita rida, maka dengan mudah, Allah akan mengangkat kita ke langit tertinggi dengan limpahan kasih sayang-Nya yang tak pernah kita sangka. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

One comment

Comments are closed.