Sang Bidadari (27)

Sang Bidadari (27)

“Aku rindu kamu, Sayang.”

Ucapan Aditya begitu merdu, terdengar di telinga Naya. Kedua tangan kekar itu sudah melingkar di perutnya, memeluk dari belakang.

Naya yang tengah menatap taman bunga dari balkon kamarnya, hanya tersenyum menanggapi. Dibiarkan saja pipi itu menyentuh pipinya. Begitu pun ketika bibir itu menyentuh ujung bibirnya.

Naya memejamkan mata, merasakan aroma mint yang menguar dari mulut lelaki yang juga begitu dirindukannya itu. Ada gelenyar hangat menjalar di seluruh tubuhnya.

Sejak kelahiran Naura, Aditya memang jarang bersikap romantis padanya. Mereka jarang menghabiskan waktu berdua. Mungkin karena kelelahan, sesampainya di rumah, Aditya segera beranjak menuju tempat tidur, dan meninggalkan Naya yang menatapnya penuh rindu.

Malam ini, seperti hari kemarin, Aditya datang selepas magrib. Naya bukan hanya merindukan suasana berduaan dengan suaminya, lebih dari itu, merindukan berada di belakang punggung suaminya ketika waktu salat tiba, lalu murojaah Qur’an bersama.

Hanya di waktu Subuh dan Isya, Naya bisa merasakan kehangatan salat berjamaah seperti sebelumnya. Itu pun tak diiringi murojaah Qur’an. Tapi Naya tetap bersyukur, setidaknya ia masih bisa menjadi makmum salat suaminya.

“Sayang….”

Bisikan Aditya terasa hangat di telinga Naya. Perlahan, lelaki itu membuka kerudung yang menutupi kepala istrinya. Rambut panjang itu tergerai. Naya membiarkan tindakan suaminya. Sementara mata Naya hanya terpejam.

“Kau tak merindukanku?” bisik Aditya, membuat Naya membuka mata.

“Aku sangat merindukanmu, Mas, bahkan jauh sebelum kau merindukanku,” bisik Naya lirih.

Aditya terdiam. Beberapa saat kemudian, tubuh Naya dihadapkan padanya. Ditatapnya kedua netra itu, seolah ingin memastikan, bahwa apa yang baru saja diucapkannya itu memang benar.

“Aku mengatakan yang sebenarnya, Mas.”

Naya seperti tahu apa yang ingin dipastikan suaminya. Aditya tersenyum.

“Maafkan aku, jika selama ini telah mengabaikanmu,” ucap Aditya menyesal.

“Sedikit mengabaikan, Mas.”

“Kau marah padaku?”

Naya menggeleng.

“Kenapa aku harus marah?”

“Karena aku sudah sedikit mengabaikanmu.”

“Kamu selalu punya cara untuk meredakan marahku, jadi aku tak punya alasan untuk bisa marah padamu.”

“Aku sungguh-sungguh, Sayang.”

“Aku bahkan lebih dari itu.”

“Naya….”

“Kau bukan hanya milikku, Mas. Viona dan Naura juga berhak atas dirimu, jadi tak seharusnya aku marah atau pun cemburu. Aku percaya, suamiku bisa adil dalam bertindak.”

Aditya menundukkan kepalanya.

“Maafkan aku, Sayang.”

“Kau tak perlu mengucapkan itu berkali-kali. Kalau pun ada tindakanmu yang mengecewakanku, Insya Allah, aku sudah ikhlas memaafkannya,” ujar Naya seraya menangkup kedua pipi Aditya, lalu mengangkatnya agar bisa ia tatap ke dalam mata itu.

Ada mendung menggelayut di sana. Naya tahu, Aditya menyesali sikapnya belakangan ini. Tapi ia tak bisa menyalahkan lelaki itu sepenuhnya. Ia yang telah mengundang Viona dalam kehidupan mereka.

Jadi, tak ada salahnya jika Aditya perlahan mulai menerima Viona. Apalagi, sudah ada anak diantara mereka. Itu yang membuat sikap Aditya mulai berubah.

“Sayang….”

Kali ini, Aditya yang meraih bahu Naya, menatap ke dalam kedua mata indah istrinya. Ia hanya bisa menemukan kerinduan di sana.

Dikecupnya kening Naya dengan penuh kasih. Direngkuhnya tubuh mungil itu ke dalam pelukan. Hangat. Tenang.

Selama beberapa saat, mereka tenggelam dalam kerinduan yang selama beberapa hari ini menguasai. Naya merasakan getar-getar cintanya mulai kembali utuh. Meresap hingga relung-relung jiwanya. Mengisi kekosongan yang selama ini hampa.

“Kau mau kita pergi ke suatu tempat, Sayang?” bisik Aditya memecah kesunyian yang sengaja mereka ciptakan dalam pelukan panjang.

Naya membuka mata.

“Kau ingin kita pergi?” tanya Naya balik bertanya.

“Selama ini, aku sudah mengabaikanmu. Mungkin, kita butuh waktu berdua di tempat yang tak ada seorang pun bisa mengganggu kita.”

“Apa itu perlu, Mas?”

“Kau tak mau?”

“Jika aku mau, apa kau bisa?”

“Aku menawarkannya padamu, tentu saja aku bisa.”

“Bagaimana dengan Naura?”

Diam sesaat. Naya tahu, mungkin berat bagi Aditya meninggalkan Naura. Meski bukan dalam waktu yang lama, tapi pasti ada rasa rindu menguasai, tak bisa melihat bayi mungil itu sehari saja.

“Aku rasa, kita tak perlu pergi kemana-mana, Mas. Cukup kau ada di sisiku, aku sudah merasa lebih tenang,” bisik Naya meyakinkan Aditya.

Lelaki itu bergeming. Antara perasaan bersalah terhadap Naya dan rasa berat hatinya meninggalkan Naura, berkecamuk dalam dadanya.

Entah kenapa, bayang-bayang wajah cantik putrinya, seakan selalu menari-nari dalam pikiran Aditya. Betapa ia sangat menyayanginya. Betapa ia selalu merindukannya saat tak ada di dekatnya.

Begitukah perasaan seorang ayah yang teramat mencintai putrinya?

Naya menarik diri dari pelukan suaminya. Aditya tampak terkejut.

“Kau yakin tak mau pergi?” tanya Aditya meyakinkan.

Naya mengangguk. Seulas senyum menghiasi bibirnya.

Aditya mengecup bibir itu perlahan. Wajah mereka semakin dekat. Tak ada jarak lagi yang tersisa. Malam itu, menjadi saksi bisu, kerinduan sepasang kekasih yang saling mencinta.

Bukan jarak yang memisahkan mereka. Keadaan yang memaksa mereka harus terpisah. Kehangatan yang selama ini tak pernah hilang, seakan menjaga jaraknya. Lalu, ketika keduanya sudah tak bisa lagi menahan rindu itu, hanya saling menggenggam tangan, saling memeluk, dan semuanya kembali menghangat.

Malam itu pun, tak ada lagi jarak yang memisahkan mereka. Keduanya melebur jadi satu dalam dekapan penuh rindu. Seakan tak pernah ingin lagi terpisahkan. Waktu terasa begitu panjang dalam setiap belaian penuh mesra.

Naya dan Aditya adalah dua jiwa yang saling mencinta. Sedikit saja waktu yang membuat mereka terpisah, telah mampu membuat jarak yang hanya berisi kerinduan. Betapa cinta menyatukan kembali rasa itu dalam sebuah hubungan sakral, yang tak siapa pun akan bisa menggantikannya.

Jika saja, rindu itu bisa bicara dalam keheningan malam, ia akan menjerit memecah sunyi. Atau menitipkan pada semilir angin, menyampaikan padanya yang nun jauh di sana.

Betapa rasa itu menyiksa, mencipta rasa sakit dan keinginan untuk segera bertemu secara bersamaan. Rindu itu indah. Rindu itu resah. Rindu itu anugerah.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja