Sang Bidadari (28)

Sang Bidadari (28)

Naura memang memiliki daya tarik yang membuat orang-orang di sekitarnya tak mudah berpaling. Wajah cantik jelita dengan hidung mancung dan bibir mungil merah muda. Mata bulat dengan bulu mata lentik nan lebat. Kulit putih selembut sutera dengan wanginya yang khas, telah membuat Naya pun jatuh cinta.

Kehadiran seorang anak dalam hidupnya, begitu dirindukan. Tak bisa dipungkiri, ia pun mengharapkan tangisan kecil seorang bayi dalam pangkuannya. Itulah kenapa ia begitu tulus menyayangi Naura dengan sepenuh hati.

Naya tak merasa direpotkan saat Naura mengompol. Dengan kesabaran, ia menggantikan popok, memakaikan pakaiannya yang lucu, dan menggendongnya dengan penuh kasih sayang.

Dalam dekapan hangat penuh kerinduan, ia bisikkan lantunan ayat suci, ia nyanyikan salawat sebagai pengantar tidur. Penuh ketenangan, Naura pun terlelap. Naya mencium kening bayi mungil itu. Di sudut matanya, ada tetesan air yang tak terasa mengaliri pipi. Segera dihapusnya agar tak menimbulkan pertanyaan.

Ada Mama Sita juga di sana. Menjelang Aditya pulang kantor, Naya sengaja ingin mengunjungi Viona dan bayinya. Ia rindu sekali ingin melihat Naura. Namun tak menyangka, mama mertuanya sudah ada di sana, tengah menggendong cucunya.

Naya menyalami Mama Sita. Sejak tahun kedua pernikahan Naya dan Aditya, tak ada keharmonisan anatara ia dan mama mertuanya. Sikap sinis Mama Sita membuat jarak antara keduanya menjadi renggang.

Saat kehadiran Viona, hubungan mereka semakin jauh. Mama Sita lebih memanjakan istri kedua suaminya itu. Apalagi, sejak Viona dinyatakan hamil, seolah tak pernah ada Naya dalam hidup Aditya. Naya selalu mencoba bersabar menghadapi sikap mama mertuanya itu.

Ia memaklumi sikap Mama Sita padanya. Kekecewaan terhadapnya karena tak bisa memberikan Aditya anak, telah mengubah kemurahan hatinya selama ini. Ia berharap, seiring waktu, mama mertuanya bisa menerima kembali ia sebagai menantu seperti dulu.

Meski sikap dingin dan acuhnya masih seperti biasanya, Naya tetap memperlakukan Mama Sita dengan hormat dan sopan. Begitu banyak kenangan yang pernah tercipta diantara mereka, bahkan jauh sebelum ia dan Aditya menikah.

Naya selalu mengenang masa itu, ia tak ingin, hatinya dikuasi rasa marah dengan perlakuan mama mertuanya. Walaupun rasa sakit tak bisa disembunyikan, tapi setidaknya ia bisa menyimpan rapi, tanpa harus memperlihatkan kekecewaannya.

Naya percaya, Mama Sita adalah mertua yang lembut dan penyayang. Kekesalan yang selama ini diperlihatkannya, karena ia begitu kecewa. Naya bisa memaklumi itu.

Sikap Naya tak pernah berubah. Ia selalu bersikap ramah dan perhatian terhadap mama mertuanya itu.

Tak pernah ia melewatkan hari tanpa menanyakan kabar Mama Sita, meski hanya lewat pesan whatsaap, dan tentu saja, tanpa pernah dibalas. Naya tak bosan melakukannya lagi dan lagi setiap harinya.

Ia tahan dalam-dalam perasaan kecewanya. Ia berusaha ikhlas dengan sikap mama mertuanya. Bukankah ujian seorang hamba-Nya itu datang dari mana saja dan dari siapa saja? Justru ujian terberat itu datang dari orang-orang terdekatnya.

Naya tak bisa lari atau pun menghindar. Ia dipilih untuk menghadapi, menjalani dan bersabar dalam ujian itu. Ia tak akan pernah menyerah atas apa yang menimpanya. Hatinya begitu kuat untuk menahan segala macam cobaan. Jiwanya telah ditempa dengan berbagai macam ujian.

Ia hanya tinggal bersabar. Berharap Alah selalu memberinya kekuatan. Sejauh ini, ia masih mampu menghadapinya. Ia pun percaya, Allah akan selalu menolongnya dari setiap kesulitan. Menariknya dari kesesatan. Mengangkatnya selangkah lebih tinggi.

Naya merebahkan Naura di kasur bayinya yang serba pink. Kamar itu didesain khusus dengan warna lembut dan hangat. Naya merasa nyaman berada di sana. Dikecupnya kening bayi mungil itu, dibelainya kepala yang masih ditumbuhi rambut hitam lebat.

“Kehadiranmu adalah kebahagiaan keluargaku. Aku pun bahagia dengan adanya dirimu. Meski kau bukan terlahir dari rahimku, tapi aku selalu menganggapmu sebagai putriku sendiri. Jadilah anak yang salehah ya, Sayang.”

“Aamiin….”

Naya terkejut dengan suara di belakangnya. Tampak Viona tengah berdiri di ambang pintu kamar. Ia tersenyum seraya menghampiri. Segera Naya menghapus basah di pipinya.

“Naura memang putrimu, Mbak. Kau tak perlu sungkan untuk selalu menganggapnya sebagai anakmu sendiri. Kau berhak atas dirinya,” ucap Viona penuh ketulusan.

“Aku hanya ingin menyayanginya, memberikan perhatian untuknya. Itu sudah lebih dari cukup untukku.”

“Aku mungkin tak cukup mengerti perasaanmu, Mbak. Tapi aku bisa sedikit memahami bagaimana rasanya menjadi dirimu saat ini. Maaf, aku kembali mengingatkanmu akan hubungan diantara kita.”

Naya menatap Viona.

“Kehadiran Naura memang memberikan kebahagiaan baru bagi keluarga ini. Begitu pun bagi Mas Adit. Tapi, cintanya tak pernah bisa berubah. Hanya ada kau di hatinya. Tak pernah diizinkannya perempuan lain untuk mengisi hatinya,” lanjut Viona seraya mengembuskan napasnya perlahan.

Dengan penuh kehati-hatian, ia memulai membuka suara lagi.

“Meskipun Naura telah hadir di antara kami, tapi tetap saja, aku hanyalah sebatas ibu dari anak kami, tak pernah bisa menjadi istri yang sesungguhnya untuk Mas Adit.”

Viona menundukkan kepala. Ia mencoba menahan sesuatu yang hendak keluar dari dalam dadanya.

“Sebagai seorang istri, jelas saja aku kecewa. Terkadang aku pun merasa cemburu. Ternyata, sudah bisa memberikannya anak, bukan berarti aku bisa menjadi istri yang sempurna untuk Mas Adit. Aku malu, Mbak.”

Naya meraih tangan Viona. Menggenggamnya erat seolah ingin memberikannya kekuatan, alih-alih, ia sendiri merasa lemah menghadapi kenyataan yang menimpa Viona.

“Kau harus bisa terus bersabar menghadapi Mas Adit. Tak mudah meraih cinta yang tak pernah ia inginkan hadir dalam hidupnya. Seiring waktu, cintanya padamu pasti akan tumbuh dengan sendirinya.”

“Sampai kapan, Mbak? Sampai aku menua dan akhirnya mati rasa?”

“Kau tak mau bersabar?”

“Aku tak seperti dirimu, Mbak. Kau begitu kuat menghadapi ujian yang bagiku saja tak akan pernah bisa sanggup menghadapinya, apalagi menjalaninya. Tapi kau begitu ikhlas menerima semua ini. Aku tahu kau sangat terluka, tapi kau bisa menyembunyikannya hingga ia mengering sendiri. Aku tak bisa seperti itu, Mbak. Tapi, aku pun tak tahu harus berbuat apa.”

Viona menangis tertunduk. Ia tampak kebingungan dengan hidup yang tengah ia hadapi. Ia menyimpan luka karena merasa tak pernah dianggap sebagai seorang istri.

“Mungkin kau pikir, aku punya cinta Mas Adit yang begitu besar, tapi kau dan Mas Adit memiliki Naura yang merupakan anugerah tak ternilai. Kita punya kelebihan dan kelemahan masing-masing. Tak bisakah kau manfaatkan itu untuk kebahagiaanmu?”

“Entahlah, Mbak, apakah aku bisa bertahan jika keadaannya tetap sama seperti ini. Awalnya aku pikir, setelah kehadiran Naura, Mas Adit akan memberikan sedikit saja waktunya untukku. Tapi ternyata tidak, waktunya di sini hanya ia curahkan untuk putri kami.”

“Kau akan menyerah memperjuangkan rumah tanggamu, Vi?”

“Apakah bisa rumah tangga bertahan tanpa adanya cinta? Mampukah aku menghadapi itu sendiri? Mas Adit tak pernah memberiku kesempatan untuk bisa menjadi istrinya. Jika terus terjadi, apakah aku masih bisa terus bersabar, Mbak?”

Naya merasa iba pada Viona, ia merasa bersalah. Karenanya Viona harus merasakan derita menjadi istri yang tak dianggap.

“Aku akan bicara pada Mas Adit mengenai hal ini. Sementara itu, kau tetap fokus pada kebahagiaanmu dan Naura.”

“Kenapa kau mau membantuku, Mbak? Mungkin istri lain yang suaminya menikah lagi, ia akan merasa senang saat tahu kalau suaminya tak pernah mencintai istrinya yang lain, tapi kau dengan rela membantuku agar suamimu mau menerimaku sebagai istri?”

Naya terdiam. Ia memang seringkali merasa cemburu terhadap Viona yang bisa memberikan Aditya keturunan, tapi entah kenapa ia berempati dengan keadaan perempuan itu. Ia tak ingin hatinya terluka karena perlakuan suaminya yang tak pernah menganggapnya sebagai istri.

Bagaimana pun, Viona berhak bahagia. Ia berhak mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari suaminya. Naya tak boleh egois, hanya mementingkan kepentingan sendiri, sementara ada yang terluka dan tak bahagia karena suaminya.

Naya merasa perlu membicarakan masalah Viona dengan suaminya. Setidaknya, Aditya mau membuka hati untuk istrinya yang lain, ibu dari anaknya. Betapa pun sulitnya, harus tetap dicoba jika ingin mempertahankan sebuah rumah tangga.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

2 comments

Comments are closed.