Sang Bidadari (3)

Sang Bidadari (3)

Waktu bergulir dengan cepat. Tanpa terasa, banyak hal yang sudah terjadi dalam kehidupan Naya. Tak disangka, Aditya datang sendiri untuk mengajak Naya untuk makan siang bersamanya.

Jujur, dalam hati perempuan berlesung pipi itu, ia begitu bahagia dengan kedatangan Aditya siang itu, tepat seminggu setelah acara seminar digelar.

Kedekatan dengan Aditya semakin menambah warna baru dalam hidupnya. Naya sadar, jika ia tak boleh sedekat itu pada lawan jenisnya. Sebagai seorang perempuan, ia harus bisa menjaga jarak.

Namun, ia tak tak bisa menolak ketika Aditya mengajaknya untuk bertemu, lagi dan lagi. Meski lebih banyak pembicaraan mereka mengenai pembahasan tentang Al-Qur’an, bisnis, keluarga atau tentang pribadi mereka.

Naya mulai risau akan perasaannya. Naya tak bisa membohongi hatinya, jika ia telah jatuh cinta pada Aditya. Tapi, ia pun tak mungkin mengungkapkan perasaan itu.

Sangat tabu baginya untuk mengatakan cinta terlebih dulu pada seorang lelaki. Walaupun semakin kuat ia membuang jauh perasaannya, semakin dalam rasa itu tumbuh dalam hatinya.

Sebagai perempuan biasa, ia coba menyimpan rasa itu. Ada doa yang ia selipkan di setiap sujud-sujudnya. Berharap Allah memberikan yang terbaik untuk hubungannya dan Aditya.

Naya belum bisa melihat dalam mata Aditya mengenai perasaannya. Mungkin, ia pun tak memahami bagaimana ia tahu akan rasa yang tersimpan dalam hati lelaki yang telah mengisi hidupnya selama empat bulan itu.

Satu hal yang pasti, Aditya selalu memperlakukannya dengan sopan dan penuh perhatian. Terkadang perhatiannya selalu membuat Naya berbunga-bunga.

Naya juga tak pernah melihat ada perempuan lain dalam hidup Aditya. Jadi, salahkah jika Naya berharap Aditya pun memiliki perasaan yang sama dengannya?

“Aku akan pergi ke Dubai, Naya.”

Ucapan Aditya mampu membuat Naya terdiam.

Aditya sengaja menjemputnya dari kampus setelah Naya selesai mengajar. Mereka mampir di sebuah restoran yang selama ini menjadi tempat makan favorit mereka.

Sebuah restoran yang bernuansakan alam, dengan aliran sungai di tengah lokasi makan yang mengelilinginya, selalu membuat Naya dan Aditya betah mengobrol di sana.

“Kau dengar aku ‘kan, Nay?” tanya Aditya membuyarkan keterpakuan Naya.

Naya menatap Aditya tajam, tapi lagi-lagi, ia tak kuasa melihat lebih lama ke dalam mata lelaki yang selalu membuatnya terpesona itu. Diminumnya jus alpukat kesukaannya yang sudah tersaji di atas meja.

“Ya, aku dengar,” ucap Naya resah.

“Sepertinya kali ini, aku akan cukup lama di Dubai, mungkin setahun. Karena kondisi Papa yang tak sekuat dulu lagi, jadi Papa mengalihkan tanggung jawab pembangunan apartemen kami di Dubai,” ujar Aditya menjelaskan.

“Aku hanya bisa mendukung keputusanmu, Mas,” ucap Naya lemah.

“Ada satu hal yang ingin aku katakan padamu, Naya.”

Aditya terdiam sesaat. Melempar pandangannya ke sekitar.

Naya menanti dengan resah. Ditatapnya lagi lelaki itu.

“Maukah kamu menungguku pulang?” tanya Aditya mampu membuat Naya bungkam sejenak.

Apa ini artinya Aditya juga
menyimpan perasaan yang sama dengannya?

“Naya….”

Naya menatap lekat wajah yang selama empat bulan itu menemaninya. Haruskah Naya menjawabnya? Meski lelaki itu tak mengatakan jika ia mencintainya? Lalu, Naya harus menunggunya untuk alasan apa?

“Naya…,” panggil Aditya lagi.

“Untuk alasan apa aku menunggumu pulang, Mas?” tanya Naya akhirnya, memberanikan diri.

Aditya ingin sekali menggenggam tangan perempuan yang sejak pertama kali melihat, telah membuat hatinya berdesir hebat, tapi ia tak berani. Kedua tangannya hanya saling remas di atas meja.

“Aku mencintaimu, Naya,” ucap Aditya tegas.

Bagai mimpi Naya mendengar ucapan Aditya. Ia terpaku menatap lelaki yang juga dicintainya itu.

“Apa kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku, Nay?” tanya Aditya ingin tahu.

Naya hanya diam, masih menatap Aditya. Detik kemudian, terlukis garis tipis di kedua ujung bibirnya.

Aditya tak perlu bertanya lagi tentang perasaan Naya. Ia sudah tahu jawabannya.

“Jadi, maukah kau menungguku pulang?” tanya Aditya lagi.

Kali ini, sepertinya ia membutuhkan jawaban yang pasti.

“Ya, Mas. Aku akan menunggumu pulang,” jawab Naya seraya menganggukkan kepala.

Mereka saling melempar senyum bahagia. Naya kini tak lagi risau akan perasaan lelaki yang dicintainya. Karena kini ia sudah tahu pasti, jika cintanya tak bertepuk sebelah tangan, dan ia pun percaya, Aditya akan kembali untuk cintanya.

**

Suasana di terminal dua bandara Soekarno-Hatta pagi hari terasa begitu ramai. Naya menunggu Aditya yang tengah check-in dan mengurus boarding passnya.

Hati Naya tiba-tiba berdebar tatkala Aditya berjalan ke arahnya. Sebentar lagi, ia harus berpisah dengan lelaki yang dicintainya itu. Waktu setahun mungkin akan terasa lama baginya. Menunggu Aditya kembali dan meminangnya.

Naya menyambut Aditya dengan senyuman khasnya.

“Empat puluh menit lagi pesawatku berangkat,” ucap Aditya menatap wajah Naya lekat.

“Kau mau sarapan dulu, Mas?” tawar Naya seraya mengambil sling bagnya.

“Boleh. Kau mau sarapan di mana?’

“Kita ke coffee shop saja?”

Aditya mengangguk, kemudian berjalan berdampingan mengikuti Naya.

Jam di tangan Naya masih menunjukkan pukul delapan lewat lima puluh menit. Ia masih memiliki waktu bersama Aditya.

Ingin sekali kebersamaannya tak pernah terhenti, tapi ia sadar hidup mereka tak hanya tentang cinta. Naya harus merelakan kepergian Aditya.

**

Pesawat yang membawa Aditya ke Dubai telah berangkat sepuluh menit yang lalu. Hati Naya terasa perih. Bulir-bulir dari kedua netranya merembes, mengalir ke pipinya yang putih.

“Tunggu aku pulang ya, Nay.”

Begitu ucap Aditya sesaat sebelum ia melangkah pergi. Ada genangan air di kedua mata bulat itu. Ingin sekali Aditya menggenggam tangan Naya, lalu merengkuhnya ke dalam pelukannya. Mengalirkan kekuatan pada perempuan yang dicintainya itu.

Namun Aditya sadar, Naya masih belum sah menjadi istrinya. Ia hanya menatap sendu wajah Naya yang sudah basah oleh tetesan bening dari kedua netranya.

“Aku mohon, jangan menangis, Bidadariku,” bujuk Aditya mencoba menenangkan Naya.

Naya hanya tersipu. Tersenyum getir.

“Kau jangan khawatir, Mas. Aku hanya tak bisa menahan rasa sedih karena kau akan pergi. Setelah ini, rasa sedihnya akan segera hilang,” ucap Naya menenangkan.

Aditya tersenyum.

“Aku pergi sekarang ya.”

Aditya mulai melangkahkan kakinya menuju tempat boarding time karena beberapa menit lagi pesawat akan take off.

“Jaga diri baik-baik selama di sana ya, Mas,” titah Naya, disambut dengan anggukan kepala Aditya.

“Assalammualaikum.”

“Waalaikummussalam,” jawab Naya seraya menatap langkah Aditya yang semakin menjauh dan hilang di tikungan jalan.

Naya menggenggam kedua tangannya.

‘Cepatlah kembali, Mas. Aku akan menunggumu di sini,’ bisik Naya pilu.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja

One comment

Comments are closed.