Sang Bidadari (4)

Sang Bidadari (4)

Mengisi mata kuliah menjadi rutinitas yang rutin dilakukan Naya. Ia tak pernah bersedih lagi dengan kepergian Aditya. Meski sesekali ia termenung sendiri, merindukan kekasihnya itu.

Namun, Naya tak pernah merasa jauh dari Aditya. Hampir setiap hari, Aditya menghubunginya, entah itu chatting di whatsapp atau hanya sekadar video call.

Sesekali, Naya pun mengunjungi kediaman orang tua Aditya, hanya untuk melihat keadaan mereka. Orang tua Aditya begitu menerima Naya dengan hangat. Mereka sudah menganggap Naya seperti anak sendiri.

Aditya adalah anak tunggal. Kepergian anak satu-satunya dalam keluarga merupakan hal tersulit bagi orang tuanya. Tapi, sejak kehadiran Naya, kerinduan terhadap putra semata wayangnya itu terobati.

Naya bahagia karena bisa diterima di keluarga kekasihnya itu. Ia sudah tak merasa sungkan berbaur dengan papa dan mama Aditya. Terlebih lagi, mama Sita, begitu biasa Naya memanggilnya, begitu menyayanginya.

“Sesekali, menginaplah di sini, Nay,” pinta mama Sita ketika Naya berkunjung ke rumah sore itu, sepulang mengisi mata kuliah di kampus.

“Insyaa Allah, Ma. Nanti, Naya cari waktu yang tepat agar bisa menginap di sini. Mungkin saat Naya libur, Naya akan menemani Mama di sini,” ucap Naya membuat wajah perempuan yang sudah berusia lima puluh enam tahun itu berseri.

Naya menggenggam tangan mama Sita dengan lembut. Mereka selalu terlihat akrab. Sesekali, Naya mengajak calon ibu mertuanya itu makan di mall atau sekadar jalan-jalan, saat papa Yanuar tengah sibuk mengurus bisnisnya.

Bagi orang tua Aditya, Naya adalah sosok istri yang tepat untuk putranya. Terlebih lagi, Aditya begitu mencintai Naya, begitu pun sebaliknya. Jadi, tak ada halangan bagi hubungan mereka untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat, mereka akan menjadi sebuah keluarga yang bahagia.

**

Dengan tergesa, Naya melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit. Ia terkejut mendengar kabar dari bundanya, jika ayahnya masuk rumah sakit karena pingsan sepulang dari Surabaya.

Mata kuliah yang belum habis jamnya itu, Naya tinggalkan. Ia hanya memberi tugas pada mahasiswanya, lalu segera pergi menuju rumah sakit. Mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di sana.

Naya masuk menuju ruang VVIP 2. Ia membuka pintu kamar dengan hati-hati. Tampak bunda tengah duduk seraya melantunkan surat Al-Fatihah menghadap ayahnya yang terbaring di tempat tidur.

“Assalammualaikum, Bunda,” ucap Naya pelan.

“Waalaikummussalam,” jawab bunda menoleh.

“Bagaimana keadaan Ayah, Bun?”

“Alhamdulillah, tekanan darahnya sudah stabil, tapi masih harus tetap dikontrol,” terang bunda dengan wajah sendunya.

Naya mendekati ayahnya yang terlelap dalam tidurnya. Kasihan ayah, pasti kelelahan harus  pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk mengisi kajian yang diadakannya.

“Kamu sudah selesai mengajar, Sayang?” tanya bunda Naya sembari meletakkan Al-Qur’an kecil di samping kepala ayah.

“Tadi tinggal sedikit lagi, Bun. Cuma Naya izin setelah mendengar Ayah sakit.”

“Maaf ya, tadi Bunda panik.”

“Tidak apa-apa, Bunda. Justru Bunda sudah tepat langsung memberitahu keadaan Ayah. Naya begitu khawatir dengan kondisi Ayah, Bunda.”

“Iya, Sayang. Beberapa minggu ini, Ayahmu memang agak sibuk mengisi kajian ke berbagai daerah, sampai Bunda juga khawatir jatuh sakit. Kata dokter, Ayah kelelahan.”

“Ke depannya, Ayah harus mau mengurangi kegiatannya. Semua demi kesehatannya.”

“Iya, Nak. Nanti kita bicarakan itu setelah Ayah sembuh.”

Selama ayah Naya dirawat di rumah sakit, Naya tak pernah lagi mengunjungi orang tua Aditya. Selesai mengajar, Naya akan langsung ke rumah sakit untuk menjaga ayahnya bersama sang bunda.

Beruntungnya, orang tua Aditya memahami kondisi Naya. Mereka bahkan mengunjungi ayah Naya di rumah sakit.

Kebetulan, teman ayah Naya, Pak Burhan yang merupakan seorang pemilik Islamic Boarding School adalah kerabat ayahnya Aditya.

Mereka dipertemukan dalam sebuah acara amal. Dari sanalah ayah Naya mengenal papanya Aditya. Naya tak perlu canggung lagi dengan pertemuan kedua keluarga itu.

**


“Kanaya…,” tegur seorang lelaki di belakang Naya.

Naya yang tengah berjalan menuju kamar ayahnya dirawat, menoleh. Tampak lelaki muda dengan jas dokternya tengah menghampirinya.

Naya mengenali lelaki itu. Ia dokter yang merawat ayahnya, sekaligus temannya saat kuliah di Jogja. Bedanya, lelaki itu mengambil jurusan kedokteran. Mereka dikenalkan oleh Fitri, teman sekampus Naya saat tengah mengikuti seminar kesehatan.

“Reza….”

Dokter muda itu mengembangkan senyumannya.

“Kau baru datang?” tanya Reza menghentikan langkahnya.

“Iya, aku baru mau menemui Ayahku di kamarnya.”

“Bisakah kita bicara sebentar?”

“Tentu. Memangnya kau tak ada jam praktek?”

“Sudah selesai. Tinggal malam nanti aku ada jadwal untuk oprasi.”

“Ya sudah kalau begitu. Kita mau bicara di mana?”

“Di taman belakang saja, di sana suasananya cukup nyaman.”

“Baiklah.”

Naya mengikuti langkah Reza ke taman belakang rumah sakit. Di sana, Naya mengambil duduk di sebuah kursi yang sudah tersedia, sedangkan Reza duduk tak jauh di sebelahnya.

“Ada masalah apa, Za? Apa ini ada hubungannya dengan Ayah?” tanya Naya mulai khawatir.

Reza menggeleng. Ditatapnya terlebih dulu wajah Naya yang tengah menunggunya bicara.

“Ini sama sekali tak ada hubungannya dengan ayahmu, Nay.”

Reza diam sejenak. Dialihkan pandangannya ke seluruh taman.

“Lalu apa?”

“Aku sudah lama ingin mengatakan hal ini padamu, Nay. Tapi, aku tak pernah punya keberanian untuk bicara denganmu.”

“Bicara tentang apa?”

“Aku mencintaimu dari sejak kita berteman di Jogja.”

Naya tertegun. Dihirupnya napas dalam-dalam, yang tiba-tiba saja ia rasa begitu sesak, kemudian menghembuskannya perlahan.

“Maafkan aku, Nay. Aku tak bisa memendam perasaan ini lebih lama lagi. Setelah kurang lebih tiga tahun kita tak bertemu, ternyata rasa itu masih tetap sama seperti dulu. Hingga kita dipertemukan lagi tiga hari yang lalu, aku harus memberanikan diri untuk mengungkapkannya sekarang.”

Naya masih termenung dalam diamnya. Ia bingung harus mengatakan apa pada Reza. Ia tak ingin lelaki itu tak tersinggung dengan penolakannya.

“Maafkan aku, Reza. Kamu terlambat mengatakan perasaanmu. Hatiku telah diisi seseorang yang sudah aku cintai,” ucap Naya meloloskan kata-kata itu begitu saja.

Reza tampat terdiam. Ia terlihat terkejut dengan ungkapan Naya. Di luar dugaannya, ternyata Naya sudah memiliki kekasih.

“Kau sudah menikah?”

“Belum. Aku tengah menunggunya pulang. Ia sedang menjalankan bisnisnya di Dubai. Insyaa Allah, tiga bulan lagi ia kembali.”

Reza kembali terdiam. Tak berani menatap perempuan yang ternyata tak memiliki perasaan yang sama dengannya.

“Maafkan aku Reza,” ucap Naya sekali lagi.

Reza mendongak, ditatapnya sekilas perempuan yang selama ini dicintainya itu.

“Tak apa, Naya. Kau tak perlu minta maaf. Aku yang terlambat mengungkapkan perasaanku. Maaf karena telah mengatakan ini.”

“Kau berhak mengatakan perasaanmu itu. Setidaknya kau sekarang menjadi lebih lega. Mungkin suatu saat, jika kau mencintai seseorang, segeralah katakan padanya, jangan sampai cintamu datang terlambat dalam hatinya.”

Reza mengangguk sembari tersenyum. Membenarkan kata-kata Naya. Dalam hatinya ia menjerit. Entah sampai kapan ia bisa berhenti mencintai Naya.

Naya mohon pamit lebih dulu pada Reza yang masih tertegun.

“Maaf, Reza, aku harus melihat keadaan Ayah,” ujar Naya seraya berdiri.

Reza mempersilakan Naya pergi. Naya berbalik dan melangkah menjauhi Reza yang menatapnya sendu.

‘Semoga kau bahagia dengan pilihan hatimu, Naya,’ bisik Reza perih.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja