Sang Bidadari (5)

Sang Bidadari (5)

Setahun sudah berlalu dari pandangan. Naya masih setia menunggu kedatangan Aditya yang dijanjikannya akan pulang akhir bulan ini. Tapi, sudah menginjak awal bulan, Aditya tak kunjung datang.

Sudah dua hari ditelepon pun nomornya tak pernah aktif. Chatnya tak pernah terkirim. Naya mulai resah. Ada apa dengan Aditya? Tak biasanya ia melalui hari tanpa memberi kabar padanya.

Bertanya pada orang tua Aditya pun, Naya tak mendapat jawaban yang memuaskan. Naya pasrah dalam kegelisahan. Ia percaya, Allah pasti punya rencana indah di balik ini semua.

“Kanaya Zivana….”

Naya baru saja hendak memasuki mobilnya ketika sebuah teriakan didengarnya begitu jelas. Ia mencari-cari sosok yang memanggil namanya itu.

Tak ia temukan seseorang yang memanggilnya. Ia pasrah. Dibukanya pintu mobil, dan betapa terkejutnya Naya, saat sosok lelaki tiba-tiba menghampiri dan berdiri di hadapannya.

“Astagfirullah….”

Naya terkesiap. Ia sangat terkejut dengan sosok yang tiba-tiba sudah berada di depannya itu.

Naya ingin memarahinya, tapi mulutnya terkunci saat ia tahu siapa sosok lelaki itu. Lelaki yang selama ini dirindukan, tengah tersenyum padanya.

“Mas Adit…,” gumam Naya antara kesal dan senang.

“Kemana saja kau selama ini, Mas?” tanya Naya seraya mengerucutkan bibirnya yang dipulas lipstik warna roseberry.

Aditya semakin tersenyum kala melihat kekasihnya itu terlihat kesal.

“Kau semakin cantik dengan wajah marahmu ini,” ucap Aditya semakin membuat Naya jengkel.

“Kau keterlaluan, Mas. Dua hari tak ada kabar, kau pikir itu lucu?”

“Aku ingin membuat kejutan untukmu, Sayang.”

“Kalau begitu, selamat, aku terkejut.”

“Kau benar-benar marah? Tak malukah kau dilihat mahasiswamu?”

Naya melihat ke sekeliling. Tampak mahasiswa yang masih berada di kampus memandang mereka dengan tatapan berbeda-beda. Naya langsung menguasai keadaan. Ia harus bersikap dewasa di hadapan mahasiswanya.

“Aku mau pulang,” ucap Naya hendak membuka mobilnya.

“Aku yang akan membawa mobilnya,” sergah Aditya segera mendekat. Dengan cepat Naya menjauhkan diri, dan mengikuti keinginan lelaki itu.

Aditya membuka monil dan duduk di balik kemudi, sementara Naya dengan tenang berjalan ke sisi lainnya, memasuki mobil dan duduk di sebelah kekasihnya.

“Aku ada sesuatu untukmu,” ucap Aditya seraya mengambil sesuatu di jok belakang mobil.

Naya terlihat heran.

“Ini untukmu.”

Sebuket bunga mawar kini berada di hadapannya. Naya benar-benar terkejut dengan apa yang dilakukan Aditya.

“Bagaimana bisa bunga ini ada di jok belakang mobilku, Mas?”

Aditya terkekeh.

“Tak ada yang tak bisa aku lakukan untukmu, Bidadariku.”

Naya bergeming, menatap Aditya dengan berbagai pertanyaan.

“Tenanglah, Sayang, tak ada yang perlu kau khawatirkan. Sekarang, kita pulang ke rumahku dulu ya.”

Naya hanya diam saja, sementara Aditya meletakkan buket bunga di atas pangkuan Naya. Ia mulai menjalankan mesin dan mengemudikan mobil ke luar dari area kampus.

“Aku minta maaf,” ujar Aditya menoleh ke arah Naya yang masih tertegun membisu.

Naya tak menjawab. Masih tersimpan kekesalan dalam hatinya, meski hatinya kembali mekar seperti bunga yang kini berada di atas pangkuannya.

“Kau masih marah padaku?” tanya Aditya lagi, kali ini ia benar-benar mengharap kekasihnya akan memaafkannya.

“Aku sudah memaafkanmu, jauh sebelum kau memintanya,” ucap Naya dingin.

“Kau memang kekasih yang istimewa.”

Aditya tersenyum senang. Selama beberapa saat, mereka diam dalam keheningan.

“Aku akan mengkhitbahmu besok,” ucap Aditya tiba-tiba.

Kali ini Naya menoleh. Menatap lekat wajah kekasihnya itu.

“Apa kau serius, Mas?”

Aditya tersenyum menggoda. Naya mulai memasang wajah cemberut.

“Aku serius. Besok aku akan mengajak Papa dan Mama ke rumahmu.”

“Tapi, apa ini tak terlalu cepat, Mas?”

“Kau ingin menunggu lebih lama lagi?”

“Bukan begitu. Kau ‘kan baru datang dari Dubai, dan aku, belum mempersiapkan apa pun untuk acaranya.”

“Kau tenang saja, aku sudah mempersiapkan semuanya. Kau tinggal terima beres.”

“Kau sudah merencanakan hal ini?”

“Tentu saja. Setahun aku menunggu momen ini tiba. Aku tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini. Lagi pula, aku takut kau keburu kepincut dokter ganteng itu.”

Naya terdiam sesaat seraya menatap Aditya.

“Reza maksudmu?” tanya Naya heran.

“Siapa lagi.”

“Dari mana kau tahu tentang Reza?”

“Kenapa kau tak cerita?”

“Aku belum sempat saja. Lagi pula, itu tak penting bagiku.”

“Dia mencintaimu, apa kau pikir itu tak penting bagiku, Naya?”

“Kau cemburu, Mas?”

“Ya, aku cemburu. Aku takut perempuan yang aku cintai berpaling saat aku tak ada di sampingnya.”

“Hatiku sudah kujatuhkan padamu, Mas.”

Aditya mengukir senyuman bahagia. Ia yakin, jika Naya adalah perempuan yang dipilihkan Allah untuk menjadi jodohnya, dan ia begitu mencintai Naya.

Jika Allah sudah menitipkan cinta dalam hati insan berlainan jenis, yang saling jatuh hati karena mengharap rida dari-Nya, niscaya Allah akan sempurnakan jalan-Nya, menuju batera suci bernama pernikahan.

Aditya dan Kanaya ingin mengukir sejarah hidup mereka dalam sebuah ikatan suci itu. Mereka berharap, perasaan yang tumbuh dalam hati akan bermuara pada satu tujuan yang sakral dan selalu berlimpah kebahagiaan hakiki.

Karena sejatinya cinta adalah saling memiliki, berpegang teguh pada rida Illahi, mencintai karena-Nya dan berharap hanya akan ada cinta berujung Jannah.

Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai, kamar-kamarnya di surga nanti terlihat seperti bintang yang muncul dari timur atau bintang barat yang berpijar. Lalu ada yang bertanya, “Siapa mereka itu?”, “Mereka itu adalah orang-orang yang mencintai karena Allah.” – Hadits riwayat Ahmad –

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja