Sang Bidadari (6)

Sang Bidadari (6)

Surat Ar-Rahman yang dibacakan Aditya terdengar begitu syahdu dan menyayat hati. Tujuh puluh delapan ayat telah berhasil dilantunkan dengan tilawah yang merdu. Bahkan ada beberapa orang yang sampai menitikkan air mata. Termasuk Aditya sendiri.

Naya masih menunggu Aditya selesai membacakan surat Ar-Rahman, sebagai salah satu mas kawin pernikahan mereka. Rasa haru tak kuasa menutupi riasan wajah yang begitu memesona. Kedua netra Naya berkaca-kaca. Momen ini bagaikan mimpi indah baginya.

Terdengar dengan jelas dari dalam kamar pengantin, ayah Naya dan Aditya yang tengah melafalkan ijab qobul.

“Ananda Aditya Wibisana bin Yanuar Wibisana, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya, Kanaya Zivana binti Ali Hasan dengan mas kawin berupa surat Ar-Rahman, seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar Rp2.522.019,00 dibayar tunai.”

Begitu lafal ijab yang diucapkan ayah Naya.

“Saya terima nikah dan kawinnya Kanaya Zivana binti Ali Hasan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”

Aditya terdengar lancar melafalkan qabulnya hanya dengan satu tarikan napas.

“Bagaimana para saksi, sah?” Bapak penghulu bertanya pada semua saksi.

Semua yang ada di sana serentak berteriak, “sah”.

“Alhamdulillah,” ucap bapak penghulu penuh syukur.

Dan doa pun dimunajatkan untuk kebahagiaan dan keberkahan sang pengantin baru.

بَارَكَ اللَّهُ لَكَ، وَبَارَكَ عَلَيْكَ، وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِي خَيْرٍ

“Semoga Allah melimpahkan keberkahan kepadamu dan keberkahan atas pernikahanmu, serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At-Tirmidzy, An-Nasa`iy, dan Ibnu Majah).

Di kamar pengantin, bersama sang bunda yang menemani, Naya hanya bisa meneteskan air mata bahagia tatkala prosesi pernikahannya telah selesai dilaksanakan dengan lancar dan khidmat.

Sang bunda memeluk Kanaya dengan penuh kasih, ikut menangis pula.

“Barakallah, Sayang. Kini, kau telah sah menjadi istri Aditya. Jadilah istri yang salehah. Semoga pernikahan kalian sakinah, mawadah dan warrohmah hingga ke surga-Nya nanti,” doa bunda sembari mencium kening Naya.

“Jazakillah khair, Bunda,” jawab Naya menangis terharu dalam pelukan bundanya.

“Ayo, kini saatnya kamu menjalankan tugas pertamamu sebagai seorang istri. Mendampingi suamimu di pelaminan,” ucap Bunda tersenyum.

Naya menyapu air mata di pipinya dengan tisu yang sedari tadi digenggamnya.

Bunda menuntun Naya menuju pelaminan. Semua mata tampak takjub melihat kecantikan Naya yang mengenakan gaun kebaya putih pengantin, dengan model hijab warna senada yang dihias indah.

Aditya menyambut istrinya dengan penuh suka cita. Ia meraih tangan Naya dengan lembut, lalu dipapahnya menuju kursi di sampingnya. Aditya dan Naya menandatangani semua proses administrasi dari Kantor Urusan Agama.

Sesi foto-foto pun dilakukan. Mengabadikan momen bahagia pernikahan Naya dan Aditya yang dihadiri seluruh keluarga kedua belah pihak dan beberapa kolega yang menyaksikan prosesi akad nikah .

Aditya merasa bahagia, karena kini Naya telah sah menjadi istrinya. Ia takkan lagi takut untuk menggenggam tangan perempuan yang sangat dicintainya itu. Kanaya hanya milik Aditya seutuhnya mulai saat ini dan selamanya.

Naya mencium tangan suaminya dengan cinta , dan Aditya mengecup kening Naya dengan penuh kasih sayang. Dalam setiap derai tawa yang tercipta ada doa yang terlantun untuk kebahagiaan Naya dan Aditya.

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya adalah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ruum : 21)

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja