Sang Bidadari (7)

Sang Bidadari (7)

Kebahagiaan seakan tercurahkan dalam rumah tangga baru Naya dan Aditya. Sebuah rumah minimalis dengan desainnya yang unik dan elegan, sudah dipersiapkan Aditya sebagai hadiah pernikahan untuk istrinya tercinta.

Di hari kedua setelah pernikahan, mereka mulai menempati rumah baru yang sudah dipersiapkan Aditya. Orang tua mereka turut serta mengiringi kepindahan pasangan pengantin baru itu ke rumah yang letaknya tak jauh dari kampus tempat Naya mengajar.

Syukuran rumah baru pun digelar, sebagai wujud rasa terima kasih mereka pada sang Maha Pemberi rizki. Setelah selesai acara, orang tua Naya dan Aditya pun pamit pulang.

Mereka sengaja memberikan ruang untuk pasangan yang tengah mereguk indahnya pernikahan itu, hanya berdua. Mereka pun berharap akan segera ada tangisan bayi yang melengkapi kebahagiaan keluarga besar mereka.

Naya dan Aditya begitu bahagia dengan indanya ikatan suci yang telah Allah anugerahkan dalam kehidupan mereka kini. Tak ada lagi batas antara kasih dan hasrat. Semuanya melebur menjadi satu.

Mencintai karena Allah dan melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai suami dan istri juga karena-Nya. Dengan gelora cinta yang telah Allah tumbuhkan dalam hati, menjadi penyatuan yang abadi.

Berjanji saling melengkapi setiap kekurangan yang ada, agar terciptanya hubungan yang harmonis. Saling mencintai dan menggenggam tangan apa pun yang terjadi dalam kehidupan rumah tangga mereka kelak, menjadi landasan kasih yang suci.

Dalam setiap sujud, Naya yang berada di balik punggung Aditya seraya mengucap syukur tak terhingga atas anugerah-Nya yang sempurna. Ia berharap, jodohnya hingga maut menjemput kelak.

Sementara Aditya, ia lantunkan syukur atas bidadari yang telah Allah titipkan untuk ia jaga dan ia bimbing menuju surga-Nya nanti. Ia berharap, semoga Allah senantiasa menjaga pernikahannya dari setiap masalah, menyempurnakannya bersama ibadah dan menjadikannya keluarga sakinah, mawadah, warrohmah.

**

Naya tengah menyeduhkan secangkir kopi untuk suaminya di dapur. Kopi Lombok alami tanpa bahan pengawet dan diracik oleh pengrajinnya itu, didatangkan langsung dari kota Selong, Lombok Timur.

Aditya mulai jatuh cinta pada kopi khas Lombok itu sejak tiga tahun yang lalu, saat ia tengah mengunjungi salah satu villa miliknya yang berada di kota Mataram.

Terbuat dari biji kopi pilihan, diracik dengan cara tradisional dan dikemas dalam bungkus plastik sederhana, tak membuat Aditya berpaling dari rasa kopi yang mampu membuatnya ketagihan itu.

Sebelum menikah, Naya dan Aditya sama-sama saling memberi tahu mengenai hal-hal yang membuat mereka suka dan juga sebaliknya.

Hal itu mereka lakukan agar di awal rumah tangga, tak ada lagi pertanyaan dan pemberitahuan mengenai kesenangan dan ketidaksenangan masing-masing.

Naya sudah melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Tanpa bertanya dan tanpa harus diminta, Naya segera membuatkan secangkir kopi panas untuk suaminya. Tak lupa, segelas susu coklat hangat dibuat untuknya sendiri.

Kebiasaan di setiap bangun pagi, sejak Naya masih kecil, ia harus mengisi perutnya dengan susu coklat hangat. Kebiasaan itu berlangsung hingga sekarang.

Naya terlonjak kaget tatkala sepasang tangan telah melingkar di perutnya. Ia mencium aroma suaminya yang sudah dikenalnya selama dua hari mereka menikah.

Naya bergidik saat Aditya mencium lembut rambut basahnya.

“Lepaskan, Mas. Aku sudah membuatkan kopi untukmu,” ujar Naya seraya menghindar.

“Aku sudah mencium aromanya, Sayang,” ucap Aditya masih belum beranjak.

“Ayo diminum, nanti kopinya keburu dingin, Mas.”

Aditya masih bergeming. Bahkan ia semakin membenamkan kepalanya di sela bahu Naya. Embusan napas Aditya mampu membuat Naya memejamkan kedua matanya.

“Aku sangat bahagia bisa memilikimu, Bidadariku,” bisik Aditya. Ia masih belum melepaskan pelukannya.

“Aku juga bahagia, Mas. Aku berharap, kita akan seperti ini selamanya,” ucap Naya sembari menggenggam tangan suaminya.

“Aamiin.”

Selama beberapa saat mereka hanya diam dalam keheningan. Mengalirkan rasa yang baru direguk dengan penuh cinta.

Naya membuka matanya perlahan. Menyentuh pipi Aditya dengan sebelah tangannya.

“Ayo kita sarapan dulu, Mas.”

Aditya mulai merenggangkan ikatan tangannya, kemudian membalikkan badannya setelah ia mencium pipi Naya, menarik kursi makan dan duduk seraya menatap wajah istrinya, menggoda.

Naya memberikan secangkir kopi yang telah dibuatnya ke hadapan suaminya, yang langsung mengambil cangkir itu dan menyesap isinya pelan.

Naya ikut menggeser kursi di dekat Aditya. Ikut meminum segelas susu coklat hangat hingga hanya tinggal tersisa setengahnya.

“Sayang, aku ingin memberimu sesuatu,” ujar Aditya, meraih tangan Naya.

“Apa itu?”

“Tutup matamu dulu,”

“Kenapa harus menutup mata?”

“Supaya jadi kejutan saja.”

“Kalau sesuatu itu istimewa, pasti aku akan terkejut, Mas.”

“Ayolah, tutup matamu sebentar saja.”

Naya menurut, menutup matanya rapat. Aditya tampak mengambil sesuatu dari balik punggungnya. Di hadapkannya sebuah amplop ke hadapan istrinya itu.

“Sekarang, baru boleh membuka mata.”

Pelan-pelan Naya membuka kedua matanya. Tampak sebuah amplop yang tengah dipegang suaminya berada di hadapannya.

“Apa ini?” tanya Naya meraih amplop itu.

“Buka saja,” titah Aditya sambil menyesap kembali kopinya.

Naya membuka amplop itu perlahan. Dilihatnya isi dalam amplop, dan betapa terkejutnya ia melihat dua tiket umroh plus dua buah tiket ke Dubai.

“Ini maksudnya apa, Mas?” tanya Naya memperlihatkan keempat tiket itu.

“Kita akan pergi bulan madu ke dua tempat itu, Sayang,” terang Aditya membuat Naya terpaku.

“Kau senang?” tanya Aditya membuyarkan keterpakuan Naya.

“Tentu saja, Mas. Aku sangat bahagia. Aku berharap bisa menjalankan umroh bersama suamiku. Tapi, aku tak menyangka akan secepat ini.”

“Aku tahu keinginanmu itu dari Bunda. Maka dari itu, aku memilih umroh sebagai ibadah kita. Setelah itu, kita akan melanjutkan bulan madu ke Dubai. Sekalian akan mengunjungi apartemen kita di sana, Sayang.”

“Terima kasih banyak untuk hadiah ini, Mas.”

“Untuk kebahagiaanmu, apa pun akan kulakukan.”

Naya menghampiri suaminya, lalu ia memeluk suaminya dari belakang. Aditya tersenyum senang bisa membuat istri tercintanya itu bahagia.

“Dan aku (Rasulullah) adalah orang yang paling baik diantara kalian terhadap keluargaku (istriku).” (HR Muslim). 

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja