Sang Bidadari (9)

Sang Bidadari (9)

Setahun berlalu dari pandangan. Naya dan Aditya melewati bahtera rumah tangga yang bahagia. Mereka tak pernah bertengkar, tak pernah juga saling menyakiti. Hanya ada cinta kasih yang tercipta diantara mereka.

Meski belum ada tanda-tanda kehamilan dalam perut Naya, tapi Aditya tak mempermasalahkan hal itu. Ia masih asyik menikmati kehidupannya berdua dengan Naya.

Hidupnya terasa lengkap dengan hadirnya Naya, yang mampu membuatnya selalu menjadi yang teristimewa, yang selalu membuatnya berharga dan selalu membuatnya menjadi suami yang paling bahagia.

Naya merupakan bidadari yang dikirimkan Allah untuknya, yang mau melengkapi kekurangannya sehingga menjadi sempurna. Aditya selalu punya alasan untuk segera pulang dari rutinitasnya di kantor.

Ia selalu merindukan Naya di setiap waktunya. Merindukan semua yang Naya suguhkan padanya. Merindukan wajah cantik istrinya.

“Mas, aku ingin mengatakan sesuatu padamu,” ujar Naya pada suaminya, saat mereka tengah menikmati minuman coklat panas di taman belakang rumah.

“Katakan saja, Sayang. Ada apa?”

Naya diam sejenak. Mencoba menata hatinya agar ia sanggup mengatakan hal penting itu pada suaminya.

“Aku mendapat beasiswa S3 di Kairo, Mas,” ucap Naya mampu membuat Aditya bungkam sesaat.

Aditya menatap lekat wajah istrinya, seakan ingin memastikan apa yang sudah diucapkannya.

“Kamu serius, Sayang?” tanya Aditya meminta kepastian.

Naya mengangguk seraya berucap, “Aku serius, Mas. Aku ingin melanjutkan S3ku di Kairo. Ini adalah impianku sejak lama.”

“Lalu?”

“Aku meminta izinmu, Mas.”

“Kalau aku tak mengizinkanmu pergi?”

“Ayolah, Mas. Hanya dua tahun saja aku menyelesaikan pendidikan S3ku di sana.”

“Dua tahun bukanlah waktu yang sebentar, Sayang. Apa kau tega meninggalkanku sendiri di sini?”

Naya terdiam. Ia tak berani menatap wajah suaminya. Di lain sisi, ia sangat memimpikan kuliah di Kairo dengan beasiswanya, tapi di sisi lainnya, ia sadar akan kondratnya sebagai seorang istri yang harus patuh terhadap suaminya. Naya bimbang.

“Tapi, jika kau sangat menginginkan kuliah itu, ambillah. Insyaa Allah, aku mengizinkanmu,” ucap Aditya lembut.

Aditya tak tega melihat wajah istrinya yang bersedih karena keinginan yang terhalang oleh izinnya. Ia mencoba mengikhlaskan keinginan Naya untuk melanjutkan S3nya di Kairo.

Naya mendongak, menatap wajah yang meneduhkan itu. Terlihat senyum tipis di bibir suaminya.

“Mas serius?” tanya Naya masih tak percaya.

“Ya Sayang, aku serius. Aku tak mau menjadi suami yang mengekang keinginan istrinya untuk mendapatkan ilmu lebih banyak. Kau berhak mendapatkan itu, Sayang.”

Naya memeluk suaminya erat.

“Terima kasih banyak, Mas.”

Aditya mengelus punggung istrinya lembut. Ada rasa sesak tetiba menghimpit dadanya. Sanggupkah ia berjauhan dari Naya selama dua tahun lamanya?

Sementara selama ini saja, ia selalu ingin segera pulang dari kantor hanya untuk melihat wajah cantik Naya dan menikmati setiap yang disuguhkan istrinya. Hal itu selalu membuatnya lebih bersemangat dalam menjalani hidupnya.

‘Semoga aku kuat menghadapi ketidakhadiranmu nanti, Sayang,’ bisik Aditya lirih.

**


“Kamu yakin akan melanjutkan S3mu di Kairo, Sayang?” tanya bunda ketika Naya datang ke rumah orang tuanya untuk memberitahukan perihal kepergiannya.

“Ya, Bunda, Naya yakin,” ucap Naya pasti.

“Apa suamimu mengizinkanmu pergi, Nak?” tanya ayah menatap Naya serius.

“Tentu saja Mas Aditya mengizinkanku pergi, Ayah. Meski awalnya ia keberatan, tapi ia sadar, aku memiliki cita-cita sendiri dan ia tak ingin mengekang itu.”

“Kau harus ingat kondratmu sebagai seorang istri, Nak. Kini surgamu terletak dalam rida suamimu. Yakinkan lagi keinginanmu itu, apakah akan ada maslahatnya jika kau tetap melanjutkan kuliahmu di Kairo ataukah sebaliknya, akan timbul banyak kemudhorotan nantinya.”

Naya mencoba mencerna kata-kata bunda. Dalam hatinya pun tengah bergejolak perasaan itu. Walaupun lebih berat ia memilih melanjutkan kuliahnya, tapi ia pun tak tega harus meninggalkan suaminya sendiri.

Siapa nanti yang akan mengurus semua kebutuhannya selama ia tak ada? Naya resah memikirkan itu.

“Jika itu yang terbaik menurutmu dan suamimu, maka lakukanlah. Hanya kau harus ingat satu hal anakku, peningkatan ilmu memang hak setiap orang, tapi kau juga harus memikirkan fitrahmu sebagai seorang istri. Sudahkah kau komunikasikan kembali dengan suamimu mengenai kepergianmu itu? Carilah titik temu agar dua kepentingan ini berdampak adil bagimu dan suamimu.”

“Ya Ayah, Naya mengerti. Akan Naya bicarakan lagi hal ini dengan Mas Aditya.”

“Lakukanlah salat istikharah, Sayang. Insyaa Allah, akan ada jawaban yang tepat untuk permasalahanmu ini.”

“Insyaa Allah, Bunda. Terima kasih banyak, karena Ayah dan Bunda telah memberikan jalan untuk Naya memikirkan kembali masalah ini.”

“Kau anak kami, dan kami ingin yang terbaik untuk kebahagiaanmu, Sayang,” tukas ayah menenangkan.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja