Sang Bidadari (1)

Sang Bidadari (1)

Semburat senyuman terlukis di bibirnya yang merah meski tanpa pulasan lipstik. Pipinya merona walau tak disapu blash on, alisnya tebal tanpa goresan pensil, bulu matanya lentik alami dan wajahnya begitu bercahaya.

Kerudung panjangnya tergerai menutupi sebagian pakaian gamisnya yang menjuntai indah. Dominasi warna biru muda semakin menambah kesan kecantikannya.

Gadis itu bernama Kanaya Zivana yang artinya perempuan pemenang.

Sejak kecil, Naya, begitu ia biasa disapa. Selalu menjadi juara di kelasnya. Ia anak yang cerdas, prestasi dalam bidang akademik sudah tak terhitung lagi. Berjejer piala hasil berbagai kejuaraan di lemari kaca sekolahnya.

Tak hanya itu, ia pun pandai melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan tartil yang baik dan suara yang merdu.

Sejak usia empat tahun, Naya sudah dimasukkan ke sekolah khusus tahfidz oleh kedua orang tua angkatnya.

Ya, Naya adalah anak yang diadopsi oleh keluarga Ali Hasan dan Nurul, istrinya. Nurul tak bisa memiliki keturunan, karena ia dinyatakan mandul oleh dokter.

Hanya dengan cara mengadopsi anak, membuat hidup mereka sempurna. Naya, bayi mungil yang masih berumur dua bulan itu, diambilnya dari salah satu panti asuhan di kota Bogor, untuk dijadikannya pelengkap kehidupan rumah tangga mereka.

Naya kecil tumbuh menjadi gadis cantik dan periang. Kecerdasannya mampu membuat orang-orang takjub. Tak ada yang menyangka jika ia adalah anak adopsi. Secara lahir, wajah Naya mirip dengan sang ibu, sementara kecerdasannya, sama persis dengan ayahnya.

Seiring waktu, Naya kecil telah menjelma menjadi gadis cantik yang memegang teguh prinsip dalam hidupnya. Ia tumbuh menjadi perempuan yang salehah, berhati lembut, penyayang dan sangat menghormati orang tua.

Naya tak pernah membantah apa yang dikatakan kedua orang tuanya. Baginya, apa yang diucapkan ayah dan ibunya adalah titah yang harus ia jalankan dengan penuh keikhlasan.

Itulah sebabnya, kedua orang tuanya begitu menyayangi Naya. Bagi mereka, Naya merupakan anugerah terindah yang dititipkan Allah untuk menjadi pelengkap kebahagiaan.

Naya pun bahagia memiliki orang tua yang sangat menyayanginya, mengajarkannya akhlak dan budi pekerti yang baik, sehingga ia menjelma menjadi perempuan yang beraklak mulia.

Selepas menempuh program studi S1 pendidikan agama islam di salah satu universitas di Jogjakarta, Naya melanjutkan S2 di Brunei Darussalam. Semua pendidikan itu Naya tempuh dengan jalur beasiswa yang diraihnya.

Selepas S2, Naya diminta untuk menjadi dosen di salah satu universitas di Jakarta.

Meski banyak relasi bisnis ayahnya yang seorang pengusaha travel haji dan umroh, tapi Naya tak pernah memanfaatkan itu sebagai ajang aji mumpung untuk mendapatkan pekerjaan. Sejak kecil, Naya memang bercita-cita menjadi guru.

Sebagai seorang dosen, kegiatan Naya tak hanya mengisi mata kuliah saja, kegiatan di luar itu yang berhubungan dengan keagamaan dan sosial pun Naya ikuti, untuk menambah pengetahuan dan menjalin silaturahmi dengan sesama muslim.

Maka tak heran jika Naya adalah sosok perempuan yang disegani, supel, ramah dan berjiwa sosial tinggi.

**

“Assalammualaikum,” sapa seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu ruangan dosen.

“Waalaikummussalam,” jawab Naya menoleh.

Seorang bapak berusia hampir setengah abad itu tersenyum. Naya yang kebetulan hanya sendirian di ruangan itu kemudian menghampiri sang bapak.

“Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Naya menatap bapak tua itu.

Wajah ramah dan senyuman Naya mampu membuat bapak tua itu terdiam sesaat.

“Maaf Bu Kanaya, saya Rudi, sopir pribadinya Pak Aditya Wibisana. Saya diminta pak Aditya kemari untuk menjemput Bu Kanaya.”

Naya mencoba mengingat nama Aditya Wibisana. Naya teringat, dua hari yang lalu, sekretarisnya menelepon Naya. Pimpinan Perusahaan Wibisana Corporation itu meminta Naya untuk bertemu di kantornya.

Aditya Wibisana adalah seorang pengusaha muda yang sukses. Bisnisnya bukan hanya di bidang periklanan saja. Properti dan hotel merupakan bagian dari bisnis yang digelutinya.

Oleh sebab itu, para mahasiswa menginginkannya untuk jadi pembicara sebagai salah satu pengusaha muda yang sukses dalam kegiatan seminar kampus.

Naya sebagai penanggung jawab acara diminta oleh mahasiswa untuk mewakili mereka, meminta Aditya Wibisana, agar ia mau menjadi pembicara.

Hari ini, adalah waktu yang dijanjikan sekretaris Aditya untuk mereka bisa bertemu. Naya tak menyangka jika sopir pribadinya akan menjemputnya di kampus.

“Jika Bu Naya sudah siap, bisa kita berangkat sekarang?” tanya pak Rudi membuyarkan lamunan Naya.

Seketika Naya tersadar dan meminta pak Rudi untuk menunggunya sebentar. Kebetulan jam mata kuliahnya sudah selesai hari ini. Naya berbalik, berjalan menuju meja kerjanya dan mengambil tasnya di atas meja.

“Mari kita berangkat sekarang, Pak,” ajak Naya sesaat setelah berada di hadapan pak Rudi.

Pak Rudi mempersilakan Naya untuk jalan terlebih dulu. Dengan anggun, Naya berjalan menuju parkiran.

Sampai di sana, Pak Rudi setengah berlari menghampiri mobil Mercedes Benz S-Class berwarna silver. Ia membukakan pintu belakang dan mempersilakan Naya masuk ke dalamnya.

Naya agak canggung mendapat perlakuan seperti itu. Meski orang tuanya pun dari keluarga berada, tapi ia tak pernah mau diperlakukan istimewa oleh sopir pribadi ayahnya.

Selama dalam perjalanan menuju perusahaan Aditya, Naya hanya terdiam. Sesekali bibirnya melantunkan ayat suci yang sudah berkali-kali dihapalnya.

Mobil mewah itu membelah jalanan ibu kota yang terik dan macet.

**

Bersambung…

rumahmediagrup/bungamonintja