Sang Penggoda

Sang Penggoda

Jauh menerawang angan, terbang melayang. Melintasi dimensi waktu dan ruang. Mencari tempat untuk singgah. Ternyata tersesat kehilangan arah. Apakah jalurnya berubah? Ah, entahlah.

Kulihat mentari masih terbit di tempat yang sama. Aroma udara segar memenuhi rongga dada. Embusan angin membawa rasa. Membuncah. Indah. Penuh makna. Tak sanggup kujelaskan dengan kata. Bagaikan tanah kering menanti hujan cinta. Begitulah perumpamaannya.

Hai, penggila cinta. Buang semua rasa yang salah tempatnya. Janganlah jadi derita untuk mereka. Pejuang rasa suci, cinta yang sah. Pergilah! Jangan kaubuat kusut benang yang nyaris patah. Sadarlah.

Ruang gelap dalam hatiku tak terima. Dengan suara yang mengatakan rasa ini salah. Berkali-kali suara indah itu menggema. Kuabaikan walau pancaran sinarnya nyata. Serta memaksa netraku untuk terbuka.

Aku berhak atas rasa cinta yang kurasa. Begitulah kilah sang pendosa. Mengatasnamakan cinta di atas semua rasa. Hingga hilang pribadi lembutku sebagai wanita.

Kuikuti arus ini mengalir. Semakin indah rasa itu kian terukir. Tak sadar begitu banyak air mata yang banjir. Dari kaumku, yang cintanya kuambil tanpa berpikir.

Teriak lirih hati yang terluka. Wanita menangis bersama anak dalam gendongannya. Berduka. Memanggil pria yang juga kucinta. Membuat terenyuh hatiku dan merasa sangat hina. Mengapa aku begitu tega? Wahai diriku yang penuh nista.

Kuputuskan untuk hempaskan semua rasa penuh dosa. Cinta yang salah. Rindu tak tepat arah. Bahagia yang dusta. Kerakusan akan cinta. Tamak. Serakah.

Ku harus kembali pada lemah lembut kodratku. Memahami hati sesamaku. Karena aku juga wanita. Harus paham derita dan luka. Dari mereka para istri, ibu dan wanita, yang telah kurenggut haknya.

Hadirku telah hadirkan luka. Akulah wanita gila cinta. Yang buta mata hatinya. Yang seakan diam dan membisu. Serta tak tahu malu. Selalu rusak kehidupanmu. Hingga sang penggoda jadi gelarku.

Sumber gambar: https://banjarmasin.tribunnews.com/amp/2016/07/02/seorang-ibu-menangis-histeris-sambil-gendong-bayi-gara-gara-ditinggal-pesawat-lion

rumahmediagrup/decirizkahayulubis