Sapi dan Si Madun

Sapi dan Si Madun

Hujan lebat yang disertai angin kencang tadi malam menyisakan beberapa kerusakan di peternakan Pak Udin. Beberapa bagian di kandang sapi yang sudah tua tampak berantakan tak beraturan. Peralatan yang dipakai untuk mengurus peternakan jadi berjatuhan berserakan.

Pak Udin yang sudah lanjut usia pusing tujuh keliling kebingungan memikirkan bagaimana caranya membereskan kembali semua kekacauan ini. Ia mengambil pakan ternak dan memberi makan sapi-sapinya yang malang karena kondisi kandangnya yang berantakan.

Tak lama, datang Madun, pemuda lugu berusia 20an yang sehari-hari suka membantu Pak Udin mengurus hewan-hewan ternaknya. Seperti biasa, Madun datang dengan diiringi senyum terkembang. Bagai tak punya beban hidup, langkahnya selalu terlihat ringan dan riang.

“Syukurlah …” gumam Pak Udin.

Madun segera menghampiri Pak Udin yang tampak begitu senang menyambut kedatangannya. “Selamat pagi, Pak. Wah berantakan sekali di sini. Pasti karena angin kencang tadi malam ya. Madun bantu beres-beres ya. Nah, mulai dari mana ya?” Madun nyerocos panjang kali lebar, dan langsung menyodorkan pertanyaan menawarkan bantuan.

“Kebetulan sekali kamu sudah datang, Madun. Itu sapi di kandang tolong kamu pasangin pagar ya. Biar Bapak yang beresin alat-alat yang berserakan,” ujar Pak Udin mendelegasikan tugas kepada Madun.

Satu jam sudah berlalu, kondisi peternakan Pak Udin kini sudah jauh lebih rapi. Pak Udin tersenyum puas melihat hasil kerjanya sendiri. Lalu berjalan ke arah kandang sapi untuk mengawasi hasil pekerjaan Madun.

“Beres, Pak. Pagarnya sudah terpasang,”seru Madun bangga sebelum Pak Udin bertanya.

“Wah, hebat … Nggak salah deh saya minta tolong kamu,” sahut Pak Udin, “eh tapi mana pagarnya?” Pak Udin bertanya kebingungan karena dilihatnya di kandang sapi belum terpasang pagar.

Dengan percaya diri Madun membawa salah satu sapi berwarna kuning emas mendekat ke arah Pak Udin. “Nah, ini lho Pak … Ayo sapi, nyengir dikit donk kasih liat pagar barunya ke Pak Udin.”

“ALAMAAAAKKK … MADUUUN, MADUUUUUNN!”

Pak Udin geleng-geleng kepala hampir pingsan, demi melihat di gigi si sapi sudah terpasang sederet pagar nan rapi.

Ditulis ulang dari :
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10157957926902847&substory_index=0&id=74834784

rumahmediagrup/arsdiani

One comment

Comments are closed.