Satu Minggu (3)

Satu Minggu (3)

Satu Minggu Dua Hari

Sudah berusaha setegar apapun, ketika mamih bersuara lewat sambungan telepon, air mata saya meluruh dengan sendirinya. Seperti tumpah walau saya tak bisa mengeluarkan sepatah kata. Tetapi mamih mendengarkan isak saya. Lalu beliau menguatkan dengan kelembutan hatinya.

“Sabar, Non!”

Sementara di luar sudah mulai hening dari suara orang-orang yang meminta pertolongan. Hanya ada suara arus putaran air. Sudah pukul lima sore, keadaan mendung dan rintik hujan. Khawatir akan hujan deras, membuat saya memohon kuasa Allah untuk melindungi saya dan suami.

Mengumpulkan keberanian untuk menunggu evakuasi di depan rumah. Pikir saya saat itu, jika saya masih di dalam rumah, tim evakuasi tidak akan tahu keberadaan kami di dalam.

Suami mempertanyakan keberanian saya untuk masuk ke ketinggian yang melebihi ukuran badan saya. “Non, bisa?”

Saya tarik nafas panjang lalu berdiri, mulai mempersiapkan barang ke dalam plastik. Gawai, dompet, kabel charger saya amankan dalam plastik kecil, kemudian dimasukkan ke ransel. Lalu ransel besar berisi baju ganti pun saya masukkan dalam plastik jumbo yang sempat diambil suami sebelumnya. Semua barang kami larungkan dengan ember.

Saya berpikir cepat bagaimana cara melintasi tengah rumah sepanjang 15 meter dalam keadaan di dalam rumah pasti banyak lemari dan kursi serta barang-barang lain yang mengambang menghalangi gerak. Dengan berpegangan pada kayu ventilasi di atas pintu. Saya mulai masuk ke dalam rumah. Berdiri sejenak di meja dapur. Memupuk keberanian untuk melintasi tengah rumah sambil menyingkirkan barang yang mengambang.

Di ruang tengah, saya berpijak pada motor yang tenggelam. Lalu suami menyelam untuk membuka kunci rumah. Pintu depan bisa terbuka juga, saya berhasil keluar rumah. Menuju ke tembok samping pembatas rumah tetangga. Ketika berdiri di atas tembok itu, posisi air sebatas dengkul saya. Tak lama, azan maghrib bersahutan.

Berdiri di tembok sambil berpegangan pada tiang baja ringan pergola rumah, suasana maghrib menuju gelap dan kaki terendam. Sementara suami masih berusaha menyelam untuk mengunci pintu rumah. Tim evakuasi menggunakan perahu karet bermotor melintas. Saya spontan teriak minta tolong.


“Pak, tolong! Saya berdua suami di sini!”


Saya hanya mendengar mereka menjawab, “sabar ya, Bu. Tunggu dulu!”

Hingga azan isya kami masih berdiri menunggu evakuasi. Menyabarkan diri dengan zikir, salawat dan syukur masih diberi ketenangan. Berulangkali tim evakuasi melintas, berulangkali juga kalimat sabar dan tunggu terucap dari mereka. Iya, memang harus sabar.

Pukul 22.00, suasana riuh oleh suara kodok bersahutan dan kucing menjerit di seberang. Saya hanya bisa menggumam.


“Meng, kita sama-sama sabar ya. Saya tahu kamu ketakutan di sana sendirian. Kita berdoa bersama ya, Meng.”

Perlahan air surut. Dari sebatas dengkul, jam 10 malam sudah di batas mata kaki. Walaupun masih berdiri di atas tembok. Pagar rumah masih belum kelihatan. Total tujuh kali tim evakuasi lewat dan tujuh kali pula saya tidak diangkut.

Suami sudah mulai terlihat gelisah, “apa kita harus menunggu sampai subuh baru bisa di evakuasi?”

“Gak apa-apa, artinya kita masih punya banyak waktu untuk zikir.” Hanya jawaban itu yang ada di otak saya.

Karena saya pun tidak pasti, harus bagaimana menyelamatkan diri keluar dari perumahan. Saya masih lihat arus berputar di depan rumah, walau sudah tidak deras seperti sebelumnya.

Saya dan suami saling menatap tanpa suara, waktu sudah di angka 23.00. Lalu pancaran kilat dari langit menerangi bumi. Kondisi saya sudah mulai menggigil. Gemeletuk gigi tak terkontrol.

“Non, kita harus berenang keluar. Sudah mau hujan, takut air tambah tinggi. Semakin lama di dalam air, bahaya. Kaki kita terendam lebih dari lima jam. Menunggu sambil berdiri sudah dari sebelum maghrib.”

“Tunggu sebentar, A. Lima menit lagi, sebentar saja biarkan aku berpikir, bagaimana cara keluar dengan melawan arus,” jawabku sebagai upaya mengalihkan ketakutan diri sendiri sambil memprediksi kemungkinan yang akan terjadi.

Saya memang berperang melawan takut yang berkecamuk di dalam pikiran. Pelan-pelan saya yakinkan diri. Pasti bisa! Ada Sang Maha Penolong yang akan menyertai saya. Jika bukan karena kehendak-Nya, hal ini tidak akan terjadi. Skenario ini harus saya jalani. Kami harus selamat!

“Ayo, A. Kita keluar sekarang!” Seru saya sambil turun dari tembok masuk ke dalam air.

Kami bergerak ke arah samping kiri rumah. Dimana air mengalir dari sana. Kami beranjak melawan arus. Saya tidak berani ke jalan depan rumah, karena pasti terlalu dalam. Jadi, saya menyusuri pagar rumah di samping got.

Posisi jalan di samping kiri rumah sudah jalan beton, sehingga lebih tinggi dari jalan aspal di depan rumah. Ketinggian air dengan saya jinjit itu sebatas leher. Sementara tinggi badan saya hanya 154 cm.

Saya berjalan sambil jinjit, sampai di posisi jalan belakang rumah, arus cukup deras. Saya sempat hanyut, Suami sempat menangkap tangan saya lalu ditariknya. Saya sendiri berusaha meraih pohon tetangga. Hampir saya kena serangan panik. Lalu suami mengingatkan untuk tenang.

Saya ingat lagi pada Allah. Saya mohon kekuatan dan keselamatan. Saya bangkit lagi dan mulai meraih pagar tetangga dan pepohonan. Suami membimbing saya dari belakang sambil membawa dua ember barang-barang kami.

Jarak dari rumah ke pintu gerbang perumahan tidak sampai satu kilometer. Tetapi rasanya jauh sekali. 10 meter dari gerbang ada pertolongan warga. Saya dilemparkan pelampung lalu ditarik dari dalam air.

Akhirnya saya berhasil keluar dari perumahan. Menyelamatkan diri bersama suami. Ketika kami sampai ke tempat mobil diparkir, langsung hujan deras.

Ya Allah, Ya Robb …
Puji syukur, kami masih diberi keselamatan.

rumahmediagrup/gitalaksmi