Satu Minggu

Satu Minggu

Sudah hari kedelapan dari lembaran tahun baru. Rasanya peristiwa seminggu yang lalu itu terus berloncatan di ingatan. Masih tersisa perasaan deg-degan dan khawatir. Sejak tanggal 31 Desember 2019 setelah asar, hujan mengguyur wilayah Jatiasih, Bekasi. Betul saja, malam tahun baru kami diisi dengan menikmati suara hujan deras bersama petir dan cahaya kilat.

Dari mulai asar hingga fajar, hujan tidak ada jedanya. Hanya intensitasnya saja, antara hujan ringan bergantian dengan hujan deras. Satpam perumahan tempat saya tinggal sudah membunyikan sirine waspada banjir sejak subuh. Mereka memantau kondisi Kali Bekasi. Limpahan aliran dari Sungai Cileungsi dan Cikeas terus membuat muka air di Kali Bekasi meninggi. Berharap semoga kondisi tanggul yang membentengi sepanjang sisi perumahan saya cukup kuat menahan terjangan arus kali.

Pukul sembilan pagi di tahun baru, suasana masih diliputi rasa was-was. Berulangkali saya dan suami melihat keadaan jalan di depan rumah, tergenang bening air hujan. Hal biasa yang terjadi ketika hujan. Kami masih bisa menikmati semangkuk bubur ayam langganan. Hanya itu satu-satunya penjual yang berani keliling komplek melayani para pencari sarapan.

Sekali lagi, satpam menyalakan sirine siaga banjir. Jam menunjukkan pukul sepuluh. Hujan berkurang menjadi gerimis. Untuk mengurangi kekhawatiran, suami mengungsikan mobil ke lokasi yang lebih tinggi dekat akses gerbang belakang perumahan kami.

Di dalam rumah, saya sendirian mulai menyisir barang-barang. Semampu diri, saya amankan ke tempat yang biasanya aman dari air. Saya sempat menyiapkan dua stel baju untuk saya dan suami, saya siapkan dalam satu ransel besar. Alat komunikasi beserta penyimpan daya, kabel charger, dompet, kunci kendaraan saya masukkan ke tas kecil. Dokumen-dokumen saya letakkan di atas lemari.

Pengalaman banjir terakhir yang kami alami tahun 2012. Ini banjir lima tahunan yang menerjang tanggul di perumahan hingga jebol. Waktu itu air masuk ke dalam rumah hingga batas paha orang dewasa, tetapi langsung surut hari itu juga sehingga kami tak perlu mengungsi dan rumah bisa langsung dibersihkan. Dokumen dan barang-barang elektronik semua aman tidak ada kerusakan.
Saya masih mengabarkan pihak keluarga yang menanyakan keadaan di rumah, saya menenangkan keluarga bahwa masih relatif aman. Selesai menutup telepon dari kakak. Seketika itu juga air mengalir deras masuk ke dalam rumah. Saya sempat panik karena suami belum datang dari mengamankan mobil. Sementara motor masih di dalam rumah.

Secepat kilat saya bergegas memindahkan komputer jinjing milik suami dan saya ke dalam rak lemari paling atas. Ketika air sudah sebatas dengkul saya, suami datang dan mengabarkan air di luar rumah sudah sebatas paha dengan arus deras karena tanggul di perumahan yang bersebelahan dengan kami lebih dulu jebol. Selanjutnya kami berdua melanjutkan angkat-angkat barang. Dengan kekuatan super, lemari es dua pintu berukuran besar mampu kami angkat. Berpacu waktu dengan debit air semakin cepat bertambah.

Tetapi ternyata kami kalah cepat dengan derasnya aliran air masuk ke dalam rumah. Motor terendam seluruhnya, lalu barang yang sudah kami angkat satu persatu berjatuhan. Lemari pendingin terguling, kotak-kotak plastik mengambang, elektronik terendam. Kasur yang sudah kami dirikan diatas bangku, meluruh jatuh dan mengambang.

Suara azan zuhur membahana, tetapi air di dalam rumah sudah melebihi dada orang dewasa. Saya sudah tidak sanggup menyelamatkan apa-apa lagi di dalam rumah, yang saya ingat hanya diri sendiri harus selamat. Rumah saya tidak bertingkat, tetapi ada dak beton untuk jemuran dan tandon air. Di sanalah saya duduk sambil melihat muka air yang semakin meninggi hingga batas pintu rumah.

rumahmediagrup/gitalaksmi

11 comments

Comments are closed.