Satu Pagi Di Hari Sabtu

  Satu Pagi Di Hari Sabtu
  

 Sinar mentari menembus sela bilah jendela
 Pelan menjalari kulit kasar hitam yang tengah terlelap
 Hingga akhirnya sepasang mataku terbuka
 Terbangun dari mimpi
  
 Terduduk di pinggir dipan kayu
 Masih tersisa kantuk yang belum hilang
 Sebelum akhirnya tersadar
  
 Hari ini akhirnya tiba
  
 Kupaksakan sepasang kaki kurus melangkah
 Hampiri dirimu yang asyik mengunyah rumput kesukaanmu
 Sorot tanpa dosa menyambutku
 Senyum tipis jadi jawaban untukmu
  
 Terdiam di hadapanmu
 Sekelebat lintasan kenangan tiba-tiba hadir
  
 Tak kusangka sudah jauh kita bersama
  
 Perjumpaan pertama yang tak pernah terlupa
 Saat kau lahir dari rahim indukmu
 Sebuah hadiah dari sang tuan
 Untuk seorang bocah gembala miskin
  
 Harta yang tak ternilai
  
 Merawatmu adalah kebahagiaanku
 Menjagamu adalah tugasku
 Menemanimu membuat tumbuh harapanku
  
 Hingga waktu tak terasa berlalu
 Hari ini akhirnya tiba
  
 Bukan keinginanku melepas
 Tak pernah sudi putuskan persahabatan ini
  
 Kau sudah tahu
  
 Adikku terbaring dalam sakit
 Tak sedikit rupiah harus terbayarkan
 Tak ada lagi harta berharga tersisa
 Semua telah tergadaikan demi kesembuhan
  
 Hanya tinggal kau, milikku satu
  
 Satu pagi di hari Sabtu
  
 Kuhantarkan tubuh gempalmu menuju tempat baru
 Seorang sudi membelimu dengan nilai yang pantas
 Beberapa lembar cukup untuk menebus obat adikku
  
 Sahabat
  
 Maafkan aku harus melepasmu
 Tak ada niat buruk tersimpan
 Hanya keadaan yang tak berpihak
  
 Temanku
  
 Semoga kelak kita berjumpa kembali
 Meski bukan di dunia ini lagi
  
 Bandung Barat, akhir September 2019
  
 #Nubar
 #NulisBareng
 #Level3
 #BerkreasiLewatAksara
 #menulismengabadikankebaikan
 #week4day4
 #RNB48
 #rumahmediagrup
 #deskripsichallenge — bersama Rumedia Nubar Bla dan Ilham Alfafa. 





rumahmediagrup/masmuspoetrygraphy