Satu Sudut Sunyi

 Satu Sudut Sunyi
  

 Saat mentari bangunkan insan
 Pertama hangat kemudian panas menyengat
 Tak ada yang mampu halangi
 Digdaya sang penguasa terang
  
 Sinarnya menembus apapun penghalang
 Tembok setebal gunung
 Dinding sekuat baja
 Hingga ruang hati yang terkunci rapat
  
 Dingin
  
 Terkunci sekian lama tanpa pernah bisa temukan
 Kunci pembuka jalan masuk
 Sebuah ruang luas tak bertepi
 Di mana tersimpan jutaan memori
  
 Ada peluh yang mengalir
 Tetesan basahi lantai kusam lama tak terjamah
 Tempat tersimpan lembaran gambar terserak
 Tak terhitung berapa
  
 Di satu sudutnya aku berdiam
  
 Tak terhitung sudah berapa lama aku disini
 Berteman gelap berbincang dengan sunyi
 Seperti sebuah monolog
  
 Bertanya
 Menjawab
 Semua sendiri kulakukan
  
 Kadang terselip rasa tak sabar
 Berontak dan tinggalkan kesepian ini
 Sudah lelah
 Sudah penat
  
 Menanti sebuah detik berharga
  
 Seiring belaian sinar mentari
 Kunci pintu hati yang telah rapat
 Perlahan bergerak saat karatnya luntur
  
 Terdengar ketukan pelan
 Suara merdu berbisik dalam balutan angin
  
 Aku terhenyak
  
 Kudekati sebingkai jendela lusuh
 Tertutup tebalnya kain penuh debu
 Terserang ragu kusingkap tirai itu
  
 Setitik pancaran surya menyentuh wajah kusam
 Perlahan semakin banyak menyeruak
 Dingin itu berlalu
 Hangat itu menghampiri
  
 Seiring hadirnya kau di depan pengharapanku
  
 Bandung Barat, Oktober 2019
 D3100 18-55 mm
 WB edit
  
 #Nubar
 #NulisBareng
 #Level4
 #BerkreasiLewatAksara
 #menulismengabadikankebaikan
 #week2day2
 #RNB48
 #rumahmediagrup — bersama Titi Keke, Rumedia Nubar Bla dan Ilham Alfafa. 




rumahmediagrup/masmuspoetrygraphy