Sayangi Anak dengan Cara yang Tepat

Sayangi Anak dengan Cara yang Tepat

Banyak kita lihat fenomena zaman now, orangtua yang terlalu menyayangi anak, sehingga kelewat memanjakannya. Boleh saja memberikan apa yang anak minta, asal harus dipertimbangkan juga bagaimana dampak ke depannya.

Salah satu hal yang membuat miris, adalah makin banyak anak usia belia, melenggang di atas motor dengan bebasnya. Kalau dilihat dari postur tubuhnya, mungkin ada yang menganggap sudah pas bila ingin naik motor. Namun jika secara usia belum matang, belum tujuh belas tahun, apa hal seperti itu bisa dibenarkan?

Orangtua seharusnya membekali anak dengan pemahaman yang benar. Syarat utama agar bisa naik motor adalah punya SIM. Jadi perlu menanamkan kesabaran kepada anak, agar menunggu cukup umur baru bisa mengendarai motor di jalan raya. Namun faktanya, mereka justru berbangga bila anaknya bisa naik motor di usia dini.

Kalau memang sayang anak, bukan berarti harus menuruti semua permintaannya. Ada batasan-batasan yang harus dijelaskan sebelum memiliki sesuatu atau mencoba hal yang baru. Orangtua harus tegas. Kalau memang belum cukup umur ya harus sabar. Kalau belum ada uang untuk membeli, ya nabung dulu. Jangan memaksakan diri demi menuruti kemauan anak atau sekedar mengikuti trend.

Sekilas, menyayangi anak dengan memanjakan anak memang mirip. Tapi maknanya jauh berbeda. Ada proses pembelajaran yang terselip ketika kita menyayanginya. Sedangkan jika memanjakan, hanya ingin membuat hati anak senang saja. Tapi tidak tahu apakah kelak hal itu berguna atau tidak.

Semua orangtua pasti ingin melihat anaknya bahagia. Belajar memberikan apa yang anak minta sesuai porsinya. Mencoba bicara dengan merengkuh hatinya, sehingga anak pun akan memahami apa yang kita mau. Dan tidak timbul kesalah pahaman.

Didiklah anak sesuai dengan zamannya. Orangtua perlu belajar mendidik anak sesuai fitrahnya. Sesuai dengan petunjuk Alquran dan sunnah. Meneladani pola pengasuhan Rasulullah. Jangan sampai karena alasan malu, orangtua ikut arus dan tergerus zaman.

Semoga Allah mampukan diri menjadi orangtua yang terbaik bagi anak-anak. Karena orangtua laksana cermin bagi mereka.

Barakallahu fiikum.

rumahmediagrup/siskahamira