Seandainya Aku Punya Sayap

Seandainya Aku Punya Sayap

    Udara dingin masih menusuk di suasana dini hari ini. Aku harus segera bangun dan bersiap-siap.

Kulihat bibi sudah di depan tungku, menanak nasi untuk berdua. Aku bergegas mandi dan harus segera ke pasar. 

Di sepanjang perjalanan ke pasar, kumandang azan subuh terdengar. Ku putar langkah kaki ke Mushola yang ada di daerah itu. Selepas salat, segera aku beranjak ke pasar untuk mengais sisa sayur yang sudah tak layak jual.

Di pasar masih bisa kudapat segenggam kubis, tomat layu beserta cabe dan beberapa butir bawang. Aku pun mencoba peruntungan ke tempat penjual ikan dan daging, berharap ada potongan kepala ikan atau tetelannya. Tapi ternyata hari ini mereka tak punya sesuatu yang bisa kuminta. 

“Sepi Ujang, tanggal tua,” kata Pak Ali.

“Iya pak,” kataku sambil berlalu.

Tadi bibi hanya memberiku uang dua ribu rupiah saja dan pesannya untuk membeli tempe. 

Mentari mulai beranjak, setelah mendapat tempe yang bibi minta, aku segera berlari pulang. Di rumah kuserahkan semuanya pada bibi. 

“Kamu makan saja dulu sebelum berangkat, itu nasinya sudah matang dan masih ada krupuk sisa kemarin,” kata bibi sambil terbatuk. 

Di gubuk yang mulai reyot itu aku hanya berdua dengan bibi. Sepeninggal ayah dan ibu, hanya bibi seorang yang mau menampung. Aku tak mengerti apakah bibi masih ada ikatan keluarga atau tidak dengan orangtuaku, entahlah. 

Katanya umurku sekarang sembilan tahun dan pernah merasakan sekolah walau hanya sebentar. Setelah ikut bibi, duduk belajar dan punya teman bermain menjadi hilang semua. Bibi yang sakit-sakitan sudah tak sanggup lagi bekerja keras. Ia hanya bisa membantu tetangga dengan upah sekedarnya.

Segera nasi dan lauk krupuk habis dalam sesaat. Kucium tangan bibi sambil mengucap salam, berangkat menuju tempat mangkal.

“Hati-hati Ujang.” Masih kudengar suara bibi dari jalanan.

Langkah ini terhenti di sebuah perempatan jalan yang selama ini menjadi ladang hidupku. Sinar mentari mulai terasa hangat, dan lalu lalang kendaraan terlihat sibuk di sini.

Aku menempati posisi yang biasa ditempati. Segera memainkan ukulele dengan jemari kecil ini, mengiringi nyanyian dari suara yang tak merdu. 

Kuhampiri setiap kendaraan yang berhenti saat lampu merah  dan mendendangkan lagu sendu dengan wajah yang lugu. Berharap ada uluran sekedarnya untuk pengganti suaraku. 

Kendaraan silih berganti dan mentari makin beranjak ke atas. Peluh sudah tubuhku.

Aku menepi mencari tempat teduh untuk beristirahat. Ada sebotol air yang dibawa dari rumah, hasil rebusan dari rumah tadi. Ditemani sepotong roti yang kubeli dari teman yang menjual makanan di perempatan lampu lintas ini. 

Ada beberapa orang yang sebaya denganku juga beristirahat. Kami bercengkrama layaknya anak anak lainnya. Saat itu pula beberapa orang dewasa mendekati kami.

“Mana uang makan siangnya, ayo setor dulu.” Hardik mereka.

Akupun mengeluarkan selembar sepuluh ribuan, begitu pula yang lain. 

“Maaf Bang, Bibi sakit dan butuh obat, ini saja yang kupunya.” Aku memohon pada mereka. 

“Ah, alasan saja kau.” Salah satu dari mereka mendorong tubuh kecil ini. Beruntung aku tak dipukulnya. 

Lalu kami melanjutkan duduk sambil melihat lalu lalang orang-orang yang membonceng anak-anaknya yang berseragam sekolah. Terlihat ada yang nyaman di dalam mobil. Ah ya, ini sudah jam pulang sekolah. Pasti sesampainya di rumah, mereka akan disambut ibunya, ditemani makan, bermain sejenak atau bikin PR lalu tidur siang dan bangun kembali untuk belajar pelajaran esok dan menonton TV. 

Bayangan itu menari-nari dalam khayalanku. Andaikan aku punya sayap, akan kucari dunia yang berbeda dari yang telah ada saat ini. 

Pasti ada kesenangan dan tak ada lagi rintihan kepedihan dari penderitaan ini. Tertawa dan berlari tanpa beban, serta mungkin saja di sana ada ayah dan ibu. 

“Hai Ujang, ayo bangun. Waktu zuhur sudah mau habis.” Kudengar suara kak Ridho membangunkan dan mengguncang tubuh ini.

Aku tersentak dan tersenyum ke arah Kak Ridho. 

“Tumben kali kau senyum dalam tidurmu dan sekarang kau juga tersenyum,” kata Kak Ridho.

“Ah sudahlah kak, ayo ke masjid saja.” Aku menarik tangannya dan sigap kak Ridho menggendongku yang berbadan kecil ini.

Aku melonjak-lonjak di belakang punggung Kak Ridho sambil berdendang semaunya.

Aku tak ingin punya sayap dan mendapat dunia lain saat ini. Aku sudah cukup bahagia dan hanya ingin membahagiakan bibi. Masih ada teman yang mau berbagi. Biarlah ku cari nanti dunia lain itu, saat benar-benar telah siap. 

Hari ini mentari belum surut ke peraduan, masih ada waktu mengais rejeki untuk hidup kami. Terbayang hari ini, bibi pasti sudah memasakkan tempe pedas kesukaanku.

Kutelusuri kembali lalu lalang kendaraan dan kupetik ukulele dengan nyanyian sekedarnya, nyanyian seorang bocah.

rumahmediagrup/hadiyatitriono