Sebelum Tiba Saat Terakhir

Sebelum Tiba Saat Terakhir

“Saya sedang berpacu dengan hidup. Sebelum memenuhi panggilan-Nya, saya ingin meninggalkan banyak jejak dengan menulis, sebab saya belum punya banyak bekal untuk menghadap-Nya. Masih banyak dosa dan kesalahan yang saya perbuat di masa lalu.”

Itu adalah ungkapan yang terlontar dari mulut seorang teman, sesama penulis. Ungkapan yang membuat saya terhenyak dan tercenung. Sebab bukan tanpa alasan ungkapan tersebut terlontar dari mulutnya. Teman saya ini sudah berada di ambang terminasi hidupnya. Di titik akhir. Dia memiliki suatu penyakit yang sangat berbahaya, yang belum ada obatnya, dan sewaktu-waktu bisa merenggut nyawanya. Kapan saja dan di mana saja.

Bila direnungkan dengan sepenuh kesadaran, saya rasa Allah SWT begitu mencintainya. Dia begitu menyayanginya dengan memberikan penyakit yang mematikan. Meski teman saya senantiasa terlihat segar bugar dan fit.

Mengapa Allah mencintainya? Bukankah penyakitnya sewaktu-waktu bisa merenggut nyawanya? Apakah itu bisa disebut sebagai bukti cinta-Nya? Tapi mengapa dengan cara yang menyakitkan?

Ya. Allah SWT begitu mencintainya dengan memberinya pengetahuan untuk bisa mengetahui diagnosa penyakit yang dideritanya lebih awal. Allah SWT memberikannya waktu untuk menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya di sisa usia yang ada. Sebelum tiba saat terakhir, ketika tiada lagi waktu untuk bertaubat.

Seorang dokter pernah memprediksikan bahwa jatah usianya tak lama lagi. Namun hingga perkiraan jatah usianya lewat, nyatanya dia masih hidup. Dia masih terus menulis dan menulis. Dia tak ingin tertidur dan takut bila tak bisa bangun kembali sebelum tugas menulisnya terselesaikan.

Bisakah kita bayangkan bagaimana kondisi psikologinya? Bayangkan bila kita diberi diagnosa yang sama dengannya. Mungkin kita tak lebih tegar dan kuat darinya. Bisa jadi kita lebih syok dan terpuruk. Diberi diagnosa dan prognosis penyakit dengan kemungkinan buruk yang berujung pada ancaman kematian. Siapa yang takkan syok? Siapa yang takkan frustasi? Sebab bila diagnosa sudah tertegakkan, bisa lari ke mana kita?

Sumber gambar : canva

Satu poin positif dari teman saya itu adalah kemauan dan tekadnya yang kuat. Di komunitas menulis yang sama-sama kami ikuti, dia selalu menyelesaikan tugas menulisnya dengan cepat. Setiap kesempatan menulis datang, langsung disambarnya. Seolah tak ada kata lelah dalam kamus hidupnya. Dia hanya ingin, sekali lagi, meninggalkan rekam jejak kehadirannya di dunia ini lewat hasil karyanya. Agar orang-orang yang mencintainya takkan merasa terlalu kehilangannya. Juga supaya masyarakat yang membaca karyanya mampu memetik manfaat dan hikmah darinya.

Ya. Sesungguhnya kelak dia akan abadi sekalipun telah tiada. Dia akan terus ada dan terus hidup lewat karya-karya yang dituliskannya. Begitulah cara dia meninggalkan kenangan indah. Bukan dengan airmata, namun dengan hasil goresan pena yang bisa dinikmati setiap saat oleh orang-orang yang dicintainya. Sungguh. Dia takkan ke mana-mana.

Lantas, bagaimanakah dengan kita? Yang masih sehat, tak memiliki penyakit berat apalagi disertai kemungkinan kematian. Sudahkah kita berpikir lebih maju lagi darinya? Sudahkah kita berpacu, melahirkan banyak karya agar keberadaan kita tetap terasa sekalipun telah berkalang tanah?

Sudahkah kita menorehkan karya-karya terbaik, yang bisa memberikan banyak manfaat untuk masyarakat sebelum mati? Sebab usia dan kematian hanyalah rahasia milik-Nya. Bisa jadi saya atau Sobat yang lebih dahulu menghadap-Nya. Bila demikian, sudahkan kita menyiapkan bekal terbaik kita saat ini untuk di masa mendatang, Sobat?

Sebelum tiba saat terakhir ….

***

rumahmediagrup/rheailhamnurjanah

2 comments

Comments are closed.