Seblak dan Kisahku di Hari Ini

Seblak dan Kisahku di Hari Ini

Usai membeli barang yang kuperlukan, aku segera keluar toko dan langsung menuju ke sebelah kanan toko. Di sana ada wastafel untuk mencuci tangan. Setelah mencuci tangan dengan sabun, aku segera menuju ke parkiran.

Namun, mataku tertuju pada lapak pedagang makanan di samping parkiran. Satu nama makanan menarik perhatianku.

“Seblak satu dibungkus, Mbak,” kataku pada seorang perempuan muda yang duduk di belakang gerobak aluminium.

“Pedes?” tanya si Mbak.

“Banget,” jawabku.

Sambil menunggu seblak matang, mataku berkelana ke area parkiran. Hanya ada beberapa motor yang terparkir. Mungkin motor pegawai toko, aku membatin.

Lalu, pandangan mataku beralih pada beberapa lapak pedagang yang berderet di sisi kiri dan kanan depan toko. Hanya beberapa yang buka. Corona, gumamku.

Aku lalu duduk di bangku yang disediakan. Kosong. Di hari-hari biasa mungkin bangku ini bisa terisi beberapa orang yang sedang asik menikmati jajanan setelah selesai berbelanja. Sambil menunggu seblak matang, jemariku menari di atas keypad HP. Asik membaca beberapa pesan yang masuk.

“Ini seblaknya, Mbak,” ujar perempuan muda itu mendekat. Kutaksir usianya sekitar 25 tahunan.

Kuserahkan sejumlah lembaran uang.

“Terima kasih, Mbak,” ucap perempuan itu. Wajahnya terlihat semringah. Diserahkannya sebungkus seblak kepadaku. Rasa ingin tahuku pun muncul.

“Penjualan sepi, Mbak?” tanyaku.

Sebenarnya ini kalimat retoris, tak perlu dijawab karena memang situasi sepi. Mungkin kalau penjualnya judes akan menjawab,” Ngapain tanya-tanya. Udah tahu sepi, tanya!”

Ih ….

Perempuan itu tersenyum kecut seraya berkata,” Iya, sepi sekali. Mbak merupakan pembeli pertama. Sejak kemarin tidak ada yang beli ….”

Ada yang berdesir di dadaku. Ya Allah, mataku mulai memanas. Dari kemarin nggak ada yang beli?

“Sebelah saya yang jualan minuman teh, akhirnya tutup karena tak ada yang beli, jadi rugi. Kalau saya, biarpun nggak ada yang beli, tapi bahan-bahannya masih bisa disimpan di pendingin. Awet,” jelasnya. Matanya nampak menerawang.

Mengetahui aku masih berdiri mematung, si Mbak berkata lagi,” Nggak tahu bulan ini bisa bayar lapak atau tidak ….”

Kupandangi beberapa lapak pedangang yang tutup. Covid 19 memang berimbas ke segala lini kehidupan, salah satunya perekonomian. Para pedagang kecil dan pekerja harian sangat merasakan dampaknya. Untuk sekedar mencari makan untuk  satu hari saja sangat sulit. Begitu yang kubaca di beberapa medsos. Kini, aku mengetahuinya sendiri.

Setelah mengucapkan beberapa patah kata untuk menyemangatinya, aku pun pamit diiringi senyum di wajah si Mbak pedagang. Segera aku menuju ke wastafel, mencuci tanganku kembali dengan sabun.

Lalu, kuambil motorku matic-ku dan kugas pelan. Corona, segeralah berlalu ….

***

rumahmediagrup/windadamayantirengganis