Sebuah Rasa

Sebuah Rasa

Oleh : Ummu ali

Sulit dipercaya. Sekarang Rintihan itu semakin jelas. Menjadi saksi bisu diantara bergantinya malam. Ingatan itu masih lekat dalam bayangan, dalam setiap malam pula. Hati ini semakin gundah dalam lamunan. Suhu badan ini tak bisa beradaptasi dengan gemetarnya relung jiwa. Ratapan semua kata yang terucap cukup membuat arti apa yang tersirat. Rasa itulah sebuah perasaan yang kini menghampiri.bercampur aduk dengan setiap alunan kata yang datang begitu lembut. Kadang semu tak terlihat dan kadang menjelma menjadi kekesalan yang tak berarti.

Ucapan demi kata seharusnya menjadi penenang dalam hati. Menjadi sebuah rasa yang begitu menggembirakan, berbunga-bunga bahkan sangat menyejukkan. Tetapi sepatah kata itu mampu meluluhkan ribuan rasa kasih sayang yang lama terbangun. Suasana semakin mendingin dengan sesaat untuk rasa yang akan terulang kembali.

Gunung yang tak lagi menampakkan kerindangan pohonnya sekarang tandus tak berbekas. Bunga yang dulu selalu bermekaran dengan indah kelopaknya sekarang gugur satu demi satu sampai layu. Akar yang dulu kokoh diterpa angin, sekarag menjadi layu tak menguat. Langit yang dulu begitu cerah sekarang menjadi awan mendung yang selalu menitikkan air hujan. Lemah semua rasa dan tubuh yang menyokong semua rasa ini. Tulang yang begitu kokoh menyangga saat ini mulai rapuh dengan sebuah kata yang terucap. Itulah sebuah Rasa.

Rindu adalah rasa yang masih bercampur dengan asa yang tak sampai. Hempasan pelampiasan yang harus terobati adalah sebuah pertemuan. Pertemuan yang tak kunjung datang disertai dengan jarak tempuh yang tak bisa tercapai. Masa begitu cepat menjadi berlalu. Tetapi sebuah angan yang panjang memeberikan gambaran jelas ketika hati tak sampai meraihnya. Menunda atau memutuskan untuk berhenti berharap pada sebuah rasa adalah dilema yang tak kunjung berhenti bertanya. Akankah bertahan demi sebuah rasa yang tak pasti?

Bertahan adalah solusi praktis agar menjadi kokh kembali. Membangun rasa dari pondasi sampai tertegak menjadi rasa yang melekat di hati adalah waktu yang lama. Tetapi sabar adalah caraku untuk memahami jarak yang terpisah oleh waktu dengan rasa yang tertunda akan pertemuan.

NovyLestari/Rumahmediagrup