Sebuah Sore Di Jalan Braga

 Sebuah Sore Di Jalan Braga
  

 Udara khas kota kembang menyambut
 Langkah pelanku susuri ruas jalan legendaris
 Hiruk pikuk para penikmat senja
 Berebut tak ingin terlepas satu pun detik
 Abadikan setiap sudut klasik
  
 Semilir angin menemani
 Sebuah niat penuhi janji
  
 Senyuman manis hentikan gerak kaki
 Berdiri di tengah keramaian manusia
 Sudah lama rasanya tak berjumpa
  
 Tak sabar ingin segera bertukar cerita
  
 Duduk bersandar sebuah kursi antik
 Di tepi jalan bersusun granit
 Memandangi mereka yang hilir mudik tanpa lelah
 Sejenak terdiam dalam kebisuan
  
 Dan engkau pun mulai bercerita
  
 Ada nada kesedihan dalam alunan kata
 Saat kau bercerita tentang bingungnya hati
 Lelah mencari penat memilih
  
 Mendamba sesosok insan
 Yang akan iringi langkah jalani hari
 Dia yang menghamba cinta Illahi
 Lebih dari cinta fana dunia
  
 Lalu kau terdiam
  
 Tak sepatah kata terucap
 Hanya lirih hembus nafas berat
 Seperti berjuta beban terpanggul di bahu lemahmu
  
 Kutatap rona bersemu merah itu
 Wajah yang menoleh pelan saat namanya kusebut
 Terkejut saat menerima satu kado sederhana
  
 Sebatang es krim coklat kesukaannya
  
 Tersenyum melihat betapa rona sedih itu pelan menghilang
 Tergantikan pancaran ekspresi gembira
  
 Menatapnya lekat saat pandangan saling bertemu
 Sebelum barisan kata mengalir dalam ucapan
  
 Tak perlu jauh kau melangkah
 Tak perlu percuma kau buang waktu
  
 Aku sudah ada di hadapanmu
 Pencarianmu berakhir disini
  
 Bandung, awal Oktober 2019
 LG Magna
 Snapseed
  
 #Nubar
 #NulisBareng
 #Level4
 #BerkreasiLewatAksara
 #menulismengabadikankebaikan
 #week1day3
 #RNB48
 #rumahmediagrup — bersama Rini, Titi Keke, Rumedia Nubar Bla dan Ilham Alfafa. 




rumahmediagrup/masmuspoetrygraphy