Sehat Tapi Jahat

Seharusnya hari ini, kami warga Belitung, sudah bisa merayakan hari raya dengan sukacita dan bersilaturahim tanpa cemas. Dua hari lalu, pasien terakhir yang dirawat di rumah sakit telah keluar dan dinyatakan sembuh.

Bagaikan prank, status zona hijau dalam beberapa menit berubah lagi menjadi zona merah.

Apa daya, akibat abainya beberapa orang yang (mungkin) merasa sehat dan tidak ada masalah dengan kesehatan, mereka terbang dari luar negeri dan memasuki wilayah Belitung. Ada lebih kurang 32 orang penumpang pesawat yang mendarat itu. Tiga orang di antaranya sewaktu di-rapid test mendapat hasil reaktif, dan belakangan, positif.

Kesal, kesal luar biasa.

Virus yang awalnya diberitakan diketahui keberadaannya dari tanda-tanda penderitanya, kini telah pandai memanipulasi. Ia bisa bersarang tanpa membunyikan alarm peringatan. Terbukti tiga orang yang dinyatakan positif—semuanya lelaki— tidak terlihat sakit.

Mungkin ada yang penasaran. Habis ngapain sih di luar negeri? Bukankah semua jalur sedang ditutup?

Wallaahu a’lam.

Jadi teringat video seorang dai yang berdiri di tengah pasar dan memperingatkan warga yang berada di sekitar. Inti ucapannya, ikuti perintah pemimpin, ikuti ulama. Apapun yang terjadi itu sudah dalam tanggung jawab mereka di hadapan Allah. Kita mah woles aja. Namun, bila kita membangkang, alias menolak ketentuan pimpinan, berarti kita berhadapan langsung dengan Allah. Aduh, seramnya.

Dalam hal wabah yang kita alami sekarang, bersikap masa bodoh artinya kita justru berperan bagai silent killer. Pembunuh dalam diam. Kita sehat, tapi si wabah menempel di tubuh kita dan siap ditransfer ke orang-orang terdekat.

Siapkah Anda kehilangan orang tercinta karena pengabaian yang Anda lakukan? Tak seorang pun akan menjawab siap.

Maka, marilah kita bertahan, mencegah penularan, dengan tetap berada di rumah. Silaturahim tak akan putus hanya karena tak berkunjung, tak bertemu langsung, dan tak berjabat tangan. Kita sedang darurat, jangan jadi penjahat.

rumahmediagrup/fifialfida